Go-Jek latih mitra perempuan berkendara aman

Pengendara perempuan
Pengendara perempuan | Odua Images /Shutterstock

Perempuan juga bisa mengendarai motor dan membawa penumpang dengan aman. Guna memastikan hal ini Go-Jek mengadakan safety riding workshop untuk para mitra pengemudi perempuan.

Di kota-kota besar, ojek daring kini menjadi bagian dari kehidupan banyak orang sehari-hari. Laki-laki dan perempuan sama-sama bisa menjadi pengguna dan pengemudi. Namun, masih banyak orang yang meragukan pengemudi perempuan dengan berbagai alasan, termasuk faktor keamanan.

Bila mendapat pengemudi perempuan, banyak orang memilih untuk cancel dan mencari pengemudi lain. Menurut data internal Go-Jek, angka penolakan penumpang terhadap mitra pengemudi perempuan lebih tinggi 2,7 persen dibandingkan pengemudi laki-laki.

Mengapa penolakan tersebut terjadi? Ini karena masih banyak penumpang yang meragukan kemampuan berkendara pengemudi perempuan.

Bila persepsi tersebut terus terjadi, ini akan berdampak pada kesempatan para pengemudi perempuan untuk memperoleh pendapatan. Padahal perempuan juga punya kemampuan sama dengan pengemudi laki-laki.

Maka untuk mengatasi keraguan tersebut, Go-Jek berkolaborasi dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengadakan safety riding workshop khusus untuk para mitra pengemudi perempuan.

Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk menghilangkan keraguan penumpang terhadap keterampilan perempuan dalam mengendarai motor dengan aman.

Shinto Nugrogo, Chief Public Policy and Government Relations Go-Jek, mengatakan bahwa perempuan pun memiliki kemampuan dan keterampilan yang mumpuni dalam mengendarai sepeda motor dengan aman dan bisa menjaga keselamatan penumpang.

"Pelatihan keselamatan berkendara yang kami adakan bersama Kemenhub dan Queenrides ini juga merupakan bentuk komitmen sekaligus dukungan kami terhadap pemerintah untuk mewujudkan layanan transportasi yang aman dan selamat bagi mitra penumpang," ujarnya.

Selain Kemenhub, Go-Jek juga bekerjasama dengan Queenrides, komunitas yang menaungi pengendara perempuan ini bertujuan untuk memberdayakan perempuan agar berkendara aman untuk keselamatan dirinya, keluarga, dan lingkungan.

Queenrides didirikan karena adanya pertumbuhan pengendara perempuan yang meningkat hingga 42 persen dalam 5 tahun belakangan ini. Kemudian, angka kecelakaan yang melibatkan perempuan juga naik sebanyak 49,5 persen dalam waktu dua tahun terakhir.

"Materi pelatihan yang kali ini kami berikan sudah dirancang khusus untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan para mitra driver sekaligus penumpang, menyesuaikan dengan masalah-masalah yang paling sering mereka temukan selama berkendara membawa penumpang," kata Iim Fahima Jachja, Founder and CEO Queenrides kepada Tempo.co.

Dalam kesempatan ini Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi pun menyampaikan pengingat agar pengendara mematuhi rambu lalu lintas dan menggunakan peralatan lengkap berkendara seperti helm dan jaket.

Budi juga mengingatkan pengemudi perempuan untuk memperhatikan kecepatan dalam berkendara.

"Kecepatan itu dipikirkan, jangan digas-gas lagi, tahu-tahu enggak tahu penumpangnya ke mana, diatur misal 30 kilometer (per jam). Kemampuan kita kan tertentu itu bisa mengendarai 50 kilometer per jam, itu dengan pikiran, kita laksanakan dengan baik. Kalau itu dipikirkan, persoalan safety biasanya dilaksanakan dengan baik," jelasnya.

Budi pun menyarankan agar pengemudi perempuan percaya diri ketika berkendara. Menurut Budi, ini sangat penting karena akan mengubah persepsi masyarakat terhadap perempuan yang terkesan kurang aman dalam berkendara.

Menurut Iim, tip berkendara bagi laki-laki dan perempuan sebenarnya tidak ada bedanya.

"Terpenting adalah mengecek semua kendaraan sedetail mungkin mulai dari perlengkapan berkendara apakah sudah sesuai dengan standar keselamatan seperti helm, sarung tangan, sepatu, jaket. Juga cek kondisi kendaraan seperti rem, oli mesin, dan lain-lain."

Kata Iim, pastikan kondisi tubuh saat berkendara dalam keadaan sehat. "Misalnya kita sedang flu kemudian minum obat, itu sebenarnya sudah tidak boleh berkendara karena efek obat bikin ngantuk dan kondisi fisik sedang tidak fit," ujar Iim.

Kemudian pada musim hujan, perempuan sebaiknya tidak memilih jas hujan model jubah karena bisa menyebabkan terselip di jari-jari ban motor.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR