Honda belum bisa saingi Yamaha di pasar bebek sport

Model Supra GTR 150
Model Supra GTR 150 | Tangkapan layar Youtube @Welovehonda

Pasar bebek sport 150cc memang tak sebesar segmen skuter matik (skutik). Saat ini jenama yang menelurkan produk di segmen ini hanya Honda dengan Supra GTR 150 dan Yamaha MX King 150.

Sejak dimunculkan pada Mei tahun lalu, Supra GTR memang diciptakan untuk menjegal laju Jupiter MX King (MX King 150) yang sebelumnya melenggang sendirian di pasar bebek sport.

Alih-alih mengambil ceruk, kehadiran GTR 150 kurang diminati konsumen. Hal itu tampak pada data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) periode Januari-April (caturwulan I) 2017.

Pada Januari, AHM hanya meraup catatan penjualan sebesar 517 unit untuk model ini, sementara MX King 150 melenggang dengan catatan penjualan 8.149 unit.

Penjualan MX King 150 mengalami penurunan drastis menjadi 6.414 unit pada Februari, namun masih 10 kali lebih banyak dari GTR 150 yang mencapai penjualan 603 unit.

Masa kelam GTR 150 datang pada Maret ketika AHM hanya berhasil melariskan 100 unit sepeda motor itu. Sementra penjualan MX King relatif stabil dengan mencatatkan 6.379 unit.

Periode April, bulan penutup cawu I 2017, AHM boleh senang penjualan GTR kembali naik ke angka 513 unit. Akan tetapi MX King juga melesat kencang dengan meraih angka penjualan 8.329 unit.

Lantas, apa yang menjadi penyebab penjualan motor ini tak semoncer MX King, bahkan tak ada sepersepuluhnya jika di total?

VP - All New Supra GTR 150 /Welovehonda Indonesia

Menggandeng nama legendaris Supra nampaknya tak membantu penjualan motor berbekal mesin injeksi (PGM-Fi) DOHC berkapasitas 150cc dengan enam percepatan tersebut.

Padahal, secara spesifikasi, dipaparkan Mesin Balap, GTR 150 dan MX King punya karakter mesin serupa; berkapasitas 150cc 4-tak, teknologi injeksi, berpendingin mesin cairan, serta kopling manual dengan 6-percepatan.

Pembedanya hanya teknologi mesin yang digunakan. MX King menggunakan mesin SOHC 4-klep, sementara pada GTR 150 dipasang mesin DOHC 4-klep. Secara teknis, mestinya GTR 150 lebih bertenaga ketimbang rivalnya itu.

Narablog Vandra Rizky, pengampu laman Monkeymotoblog.com, memaparkan ada tiga hal yang disinyalir menjadi biang keladi kurang diminatinya penjualan varian tertinggi dari keluarga Supra ini.

Pertama, dari soal nama. Bagi Vandra, nama Supra sudah cukup identik dengan motor kaum lawas. Agak susah jika menggunakan nama ini untuk segmen kaum muda yang mengidolakan motor yang enerjik.

Kedua, menurut dia, GTR 150 seperti melupakan kodratnya sebagai motor bebek yang operasional.

Vandra menilai Supra GTR lebih menjual super performance, akselerasi cepat, dan pengendalian mumpuni, namun melupakan hal-hal dasar yang dibutuhkan motor bebek operasional, seperti bagasi yang lapang dan jok empuk.

Bahkan jargon bebek adventure yang disematkan pada saat pengenalan produk pun dinilai rancu, "Bebek adventure kok gak punya bagasi?" tanya blogger asal Bekasi ini.

Yang terakhir adalah pilihan varian yang sedikit. Model ini, misalnya, tak menyediakan varian dengan pelek jari-jari seperti yang dulu dilakukan MX King, saat masih mengadopsi nama Jupiter MX 135.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR