Honda siapkan solusi pengolahan limbah baterai motor hybrid

Honda PCX Hybrid saat dipamerkan di ajang IIMS, April 2018.
Honda PCX Hybrid saat dipamerkan di ajang IIMS, April 2018. | Mustafa Iman /Beritagar.id

Olahan limbah baterai kendaraan listrik bisa jadi merupakan salah satu persoalan yang belum ditemukan solusinya oleh pemerintah dalam menyambut era kendaraan listrik di Indonesia.

Padahal, saat ini beberapa produsen telah mulai menjual dan menawarkan kendaraan listrik, meski masih berbentuk teknologi peralihan, yakni hibrida (hybrid).

Salah satu produsen yang memproduksi kendaraan listrik adalah Astra Honda Motor (AHM) yang menjual skuter matik (skutik) Honda PCX versi hybrid.

AHM mulai menjualnya saat gelaran Indonesia International Motor Show (IIMS) berlangsung pada April lalu dengan harga Rp40 juta, lebih mahal Rp10 juta dari skutik PCX 150 bermesin konvensional biasa.

Oleh karena telah menjual motor semi elektrik yang menggunakan tenaga listrik, jenama Jepang ini mengklaim sudah memiliki langkah menyiasati masalah limbah baterai terkait produk motor tersebut.

Pihak AHM mengaku telah bekerjasama dengan perusahaan asal Swedia untuk mengolah limbah baterai PCX Hybrid yang telah habis masa pakainya.

"Kami sudah menyiapkan semuanya, baik. Kami sudah mengulik satu badan pengelolaan limbah namanya 'Tes AMM'. Itu adalah pengelolaan limbah di Swedia dan punya cabang di Indonesia," kata General Manager Technical Service Division AHM, Wedijanto Widarso, pada CNN Indonesia (13/7/2018).

Metode yang dilakukan adalah limbah baterai tersebut akan dikumpulkan lebih dahulu oleh perusahaan. Lalu, dikirim ke Singapura untuk kemudian menjalankan proses daur ulang atau dimusnahkan.

"Pada intinya kita sudah pikirkan itu semua, sampai melakukan ketersediaan baterai baru juga," kata sosok yang akrab disapa Wedi pada Kompas.com.

Honda PCX versi hybrid yang dijual AHM di Indonesia dibekali baterai jenis lithium-ion dan memiliki kapasitas 50,4V - 4 Ah, dan 12V - 3 Ah, tipe MF. Usia pakainya kata Wedi pun cukup lama

"Baterai--PCX--hybrid itu usianya diatas 4 sampai 5 tahun. Sebenarnya dia tidak akan mati secara grafis, tapi hanya akan berkurang performanya," jelas Wedi.

"Jadi, walaupun eror atau sudah habis usianya, motor tetap bisa digunakan. Namun, performanya akan menurun karena adanya penurunan voltase dan segala macamnya," tambahnya.

Secara umum, jelas Wedi, baterai yang ditanamkan pada skutik PCX Hybrid merupakan elemen untuk menambah energi akselerasi motor.

Jadi, ketika baterai sudah tak dapat digunakan karena alasan apapun, skutik PCX Hybrid masih bisa digunakan selayaknya Honda PCX konvensional.

"...Jadi, bukan seperti motor listrik murni karena akselerasinya pakai baterai, bukan bensin, otomatis--motor--akan lebih hemat," pungkasnya.

Jika pun baterai habis, pihak AHM telah menyiapkan baterai baru yang siap pakai. Namun, untuk mendapatkan baterai tersebut, konsumen harus merogoh kocek yang cukup dalam, yakni sebesar Rp7 juta.

Sementara seperti dikabarkan Bisnis.com, Honda Motor Jepang dan Panasonic Corporation juga sepakat untuk memulai eksperimen penggunaan baterai Honda Mobile Power Pack pada produk sepeda motor listrik yang akan dijual di Indonesia. Eksperimen penelitian ini akan dimulai pada Desember 2018.

Honda Mobile Power Pack adalah peranti baterai dengan model knock down (bongkar pasang) untuk berbagai penggunaan.

Eksperimen ini akan dilakukan di sejumlah kota di Indonesia, yakni Bandung (Jawa Barat), Denpasar, Kecamatan Kuta, dan Kabupaten Badung, Provinsi Bali.

Masih menjadi 'PR' pemerintah

Sebelumnya, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Harjanto, mengatakan bahwa memang untuk pengolahan baterai kendaraan listrik, pemerintah belum menemukan solusi yang tepat.

"Kami belum tahu bagaimana itu," kata Harjanto di Kantor Pusat PLN, Selasa (10/7).

Menurut dia, pengolahan limbah baterai kendaraan listrik saat ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah.

Sebenarnya mengenai isu ini, pemerintah Indonesia tak sendiri, karena tak hanya Indonesia yang masih kebingungan untuk mencari solusi pengolahan limbah baterai, beberapa negara seperti Tiongkok dan Jepang juga belum menemukan solusinya.

Dia menambahkan bahwa negara yang telah menemukan pengolahan limbah baterai yang baik adalah Belgia. Bahkan, Jepang pun memilih mendaur ulang limbah baterai kendaraan listriknya pada negara tersebut.

"Saya tidak tahu (apakah akan diolah di Belgia atau tidak), makanya kami akan lihat ini ke depan bagaimana. Waktu itu saya sudah bicara dengan Nissan, Mercedes-Benz, tapi mereka belum dapat gambaran untuk mengelola limbah baterai," jelasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR