INDUSTRI OTOMOTIF

Jepang siapkan Rp28,3 triliun, regulasi mobil listrik ditunggu

Mobil New Toyota Camry Hybrid dipamerkan di stan Toyota dalam Paris Motor Show Mondial de l'Automobile di Paris, Prancis, 2 Oktober 2018.
Mobil New Toyota Camry Hybrid dipamerkan di stan Toyota dalam Paris Motor Show Mondial de l'Automobile di Paris, Prancis, 2 Oktober 2018. | Ian Langsdon /EPA-EFE

Memanfaatkan momentum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 di Osaka, Jepang, pemerintah menjalin kerja sama yang lebih erat dengan negeri Matahari Terbit itu. Satu di antaranya adalah mengikat kerja sama dalam bidang otomotif berupa pengembangan mobil listrik yang masuk dalam proyek The New Manufacturing Industry Development Center (New MIDEC).

Seperti dijelaskan dalam siaran pers Kementerian Perindustrian (Kemenperin), pemerintah Indonesia dan Jepang menandatangani ‎framework document melalui Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto serta Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Investasi Hiroshige Seko di Osaka, Jepang, Kamis (27/6/2019).

Kesepakatannya adalah penanaman modal Jepang senilai Rp28,3 triliun untuk mengembangkan mobil listrik dan hybrid selama empat tahun ke depan. Ujung tombak pengembangan ini akan dilakukan oleh Toyota Motor Corporation.

Airlangga menjelaskan ada dua hal yang meliputi proyek pengembangan kendaraan tenaga listrik ini. "Pertama, mengenai percepatan kendaraan berbasis elektrik, dan yang kedua adalah PPnBM untuk industri berbasis elektrik yang di dalamnya termasuk hybrid," tukas Airlangga, Jumat (28/6).

Lebih lanjut dijelaskan, Pajak Pertambahan nilai Barang Mewah (PPnBM) akan menjadi nol jika produksi kendaraan berbasis elektrik karena tak ada emisi. Airlangga pun memastikan pengembangan mobil elektrik dan hybrid itu akan melibatkan enam perguruan tinggi di Indonesia.

"Dari hasil studi terlihat hybrid menjadi salah satu alternatif karena well to wheel, dilihat juga ekosistem pembangkitan energi dari primary energy sampai kepada penggerak otomotif,” terangnya.

Di sisi lain, ujar Airlangga, para pengusaha Jepang meminta imbal balik berupa perbaikan iklim investasi di Indonesia. Bentuknya antara lain jaminan ketersediaan bahan baku serta infrastruktur memadai seperti listrik dan pelabuhan.

Persoalan lain yang sebenarnya lebih penting di balik upaya pengembangan mobil listrik ini adalah payung hukum alias regulasi. Hingga saat ini pemerintah belum menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) soal mobil listrik.

Wacana Perpres mobil listrik mengemuka sejak April 2019 atau ketika perusahaan Bluebird meluncurkan armada taksi bertenaga setrum di Jakarta. Ketika itu Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan rancangan Perpres mobil listrik sudah disampaikan ke Presiden Joko Widodo.

Bahkan Luhut menegaskan Perpres diharapkan terbit paling lambat pada awal Mei 2019. Namun hingga kini, Perpres belum juga muncul.

Padahal para pelaku industri otomotif menantikan payung hukum tersebut sebelum benar-benar menggarap mobil listrik. "Sudah saatnya pemerintah menyediakan dasar bagi kami untuk mengembangkan mobil listrik," tutur Presiden Direktur PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia, Naoya Nakamura, dikutip Okezone, Sabtu (29/6).

Sedangkan Toyota Astra Motor (TAM) sebagai pemegang jenama Toyota di Indonesia optimistis Perpres mobil listrik segera terbit dalam waktu dekat. Optimisme TAM dilandasi pada kesepakatan yang diikat Toyota Motor Corporation dengan Kemenperin.

Bahkan menurut Executive General Manager TAM, Franciscus Soerjopranoto, Presiden Joko Widodo akan menandatangani Perpres tersebut pada Juli 2019. "Kita tunggu," tukas Soerjopranoto kepada detikcom, Jumat (28/6).

Soerjopranoto menjelaskan saat ini pihaknya sudah siap untuk mengikuti petunjuk pelaksanaan dan indikator yang ada dalam Perpres termaksud. Toyota Motor Corporation pun akan segera memfinalisasi kesepakatan begitu beleid terbit.

Menurut Direktur PT Toyota Manufacturing (TMMIN) Bob Azam, beleid itu menjadi penting karena menggambarkan fokus pemerintah. Apakah pemerintah ingin jenis kendaraan hybrid, full elektrik (EV), atau yang lain.

"Termasuk jenis lain di luar itu, karena para peneliti memberikan masukan memanfaatkan tenaga matahari (solar cell) untuk pengembangan mobil masa depan," papar Bob dalam Koran Sindo (h/t Sindonews), Jumat (28/6).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR