TIP OTOMOTIF

Jika kendaraan diterjang tsunami

Dampak kerusakan akibat bencana Tsunami di Pantai Tanjung Lesung, Banten, Jawa Barat, Minggu (23/12/2018). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan setidaknya 168 korban meninggal akibat bencana tersebut.
Dampak kerusakan akibat bencana Tsunami di Pantai Tanjung Lesung, Banten, Jawa Barat, Minggu (23/12/2018). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan setidaknya 168 korban meninggal akibat bencana tersebut. | Akbar Nugroho Gumay /ANTARA FOTO

Gelombang tsunami di Selat Sunda, Sabtu (22/12/2018) menyisakan banyak kendaraan bermotor rusak terkena air laut serta lumpur.

Bencana ini menjadi pengingat bagaimana sebaiknya bertindak. Baik saat tanda-tanda bencana mulai terlihat saat dalam perjalanan, pun menangani mobil rusak setelahnya.

Dalam upaya penyelamatan, hal utama yang ditekankan para ahli adalah tetap fokus, tenang dan tidak boleh panik. "Karena kalau panik segala referensi atau informasi soal keselamatan yang diingat akan hilang," tegas Jusri Pulubuhu, Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC).

"Pada dasarnya, gunakan kendaraan roda empat sebagai alat pelindung untuk melarikan diri awal menuju muster point (tempat berkumpul) yang dirasa aman sebelum melanjutkan penyelamatan berikutnya," saran Sony Susmana, Training Director dari Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI).

Jika Anda masih atau memilih berada di dalam mobil ketika muncul tanda-tanda tsunami, seperti banyak pergerakan hewan atau orang-orang di sekitar tampak panik, sehingga kondisi semrawut dan mobil sulit bergerak atau hanya bisa melaju di bawah kecepatan 20 kilometer per jam tentu akan berbahaya.

Karena itu menurut Jusri, mobil bukanlah tempat yang aman untuk berlindung dari terjangan air berkekuatan tinggi seperti tsunami. Begitu pula, “Jika genangan air sudah di atas fender (roda mobil), jangan bertahan di dalam mobil.”

Segera tinggalkan mobil dan selamatkan diri ke tempat lebih aman yang menjauhi pantai. “Tidak ada pilihan lain selain keluar dan berlari menuju titik tertinggi seperti gedung permanen atau pohon," sarannya.

Jangan lupa, cari suatu benda yang bisa mengapung seperti puing-puing kayu, batang pohon, atau botol bekas. Benda-benda itu bisa dimanfaatkan andai Anda perlu berenang. Namun, “Apabila bisa bermanuver, maka segeralah," ujar Jusri.

Anda perlu segera mencari tempat yang sekiranya aman. Jangan mengunci mobil atau menutup jendela.

“Kaca mobil wajib dibuka untuk memudahkan proses evakuasi. Karena jika kaca mobil tertutup akan sulit membuka pintu mobil jika ada badai atau terjangan gelombang air," jelas Jusri.

“Ini juga mengantisipasi kalau mobil sewaktu-waktu korsleting,” tambahnya.

Sony melanjutkan, saat bepergian biasakan selalu menghitung orang yang berada di dalam mobil serta utamakan menyelamatkan anak-anak dan perempuan.

Usai bencana

Usai bencana, penanganan awal yang tepat diperlukan bagi kendaraan. Jika mesin mobil yang sempat terendam air laut tidak menyala saat di-starter, pemilik mobil wajib langsung menderek atau menghubungi bengkel terdekat untuk melakukan pengecekan lebih detail termasuk pembersihan.

"Intinya sehabis mobil terendam jangan dinyalakan mesinnya, langsung digendong ke bengkel, karena selain water hammer, masalah kelistrikan juga kena semua," ungkap Koordinator Eksekutif Technical Service Astra Daihatsu Motor, Anjar Rosadi.

“Bila belum ada penanganan atau evakuasi untuk membawa mobil ke bengkel, pemilik baiknya lebih dulu membilas bodi mobil dengan air biasa," sarannya.

Membilas dengan air biasa bertujuan menetralkan efek negatif air laut. Pasalnya, air laut yang kelamaan melekat bisa membuat cat mengusam, dan bila mengendap bisa memicu timbulnya korosi sehingga karatan dan keropos.

"Air laut mengandung garam yang tinggi, efeknya sudah tentu buruk bagi kendaraan yang rata-rata materialnya besi,”jelasnya.

Ia melanjutkan, meskipun mobil terendam sudah didiamkan berminggu-minggu hingga tampak mengering, mobil tetap tidak boleh langsung dinyalakan karena potensi kerusakannya melebihi mobil yang terendam banjir biasa.

Kata Anjar, bila tidak segera dibawa ke bengkel dan ditangani ahlinya, dikhawatirkan akan terjadi kerusakan seketika akibat masih adanya sisa air laut di saluran intake, ruang bakar. Termasuk kondisi kelistrikan dan mesin, sehingga air laut bisa bercampur dengan oli mesin dan sistem transmisi.

Dampaknya akan sangat merugikan pemilik mobil karena biaya perbaikan yang dikeluarkan akan sangat besar mengingat kerusakan yang menjalar.

Kepala Mekanik Gn Auto Service, Suherlan, mengatakan perbaikan untuk semua itu bisa mencapai Rp50 juta. Ia menyebut kerusakan mobil yang dialami ketika terserang tsunami dan terendam air laut setidaknya ada empat, yaitu kelistrikan, mesin, interior dan eksterior.

Menurutnya, sektor kelistrikan seperti electronic control unit (ECU) yang terendam air laut pasti mati total dan perlu diganti.

“Dari interior juga harus di bongkar semua seperti jok diganti, air conditioner (AC) juga pasti mati. Belum lagi mesin yang harus dikuras total dan dilakukan turun mesin, kerusakan part biasanya ring seher dan plat kopling yang menempel sehingga tidak berfungsi karena karat terkena air laut,” paparnya.

Ia menambahkan, bagian eksterior juga bisa rusak parah apabila terseret arus karena menabrak benda apa saja.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR