Kecelakaan, klaim asuransi, dan kurangnya empati

Ilustrasi dua lelaki yang berkelahi usai tabrakan kendaraan.
Ilustrasi dua lelaki yang berkelahi usai tabrakan kendaraan. | tommaso79 /Shutterstock

Pada awal pekan ini, ramai beredar di grup percakapan WhatsApp dan media sosial, video kecelakaan yang melibatkan motor gede (moge) Harley-Davidson dengan mobil SUV. Insiden tersebut terjadi di Jl. Pakubuwono VI, Jakarta Selatan, Minggu (21/1/2018).

Hal yang membuat video tersebut menjadi viral adalah adu argumen yang terjadi antara sopir mobil dengan pengguna moge dan teman-temannya. Tampak ada upaya pemukulan yang dilakukan oleh salah seorang dari kelompok moge tersebut dan sopir mobil sempat membalasnya.

Keributan sempat terjadi walau kemudian beberapa warga yang berada di tempat tersebut bisa melerai dan menenangkan mereka.

Setelah video insiden tersebut beredar di media sosial, beragam komentar pun bermunculan, seperti yang diutarakan sutradara film Joko Anwar melalui akun Twitter-nya di bawah ini.

Memang di tengah suasana panas seperti itu, bentrokan rentan terjadi. Potensi berkembangnya kasus kecelakaan biasa menjadi delik aduan kriminal, seperti pemukulan, pun menjadi besar.

Ada beberapa hal yang menurut kami menarik untuk dicermati dari peristiwa tersebut.

Pertama, karena Joko Anwar mengungkit soal asuransi dalam cuitannya itu, kami tertarik untuk mengetahui apakah ada pengaruhnya sebuah kecelakaan yang kemudian memanas menjadi perkelahian, bahkan mungkin tindak kriminal, terhadap klaim asuransi.

Pasalnya, bisa saja akibat perkelahian tersebut para pemegang polis mesti berurusan dengan aparat penegak hukum dan kendaraan mereka disita sebagai barang bukti. Jika itu terjadi, apakah klaim asuransi bakal hangus?

Laurentius Iwan Pranoto, Marketing Communication & PR Manager Garda Oto, Asuransi Astra, mengatakan kasus tabrakan dan insiden yang terjadi setelahnya harus dilihat secara terpisah.

"Patokan kita adalah pelanggaran yang dilakukan sebagai penyebab kecelakaan. Kejadian setelah kecelakaan baik itu tindakan pemukulan dan lain sebagainya, itu domain pihak kepolisian," terang Iwan kepada Beritagar.id , Senin (22/1).

"Jika para pengendaranya memenuhi syarat dan ketentuan klaim asuransi, maka kami akan ganti sesuai dengan pasal yang terdapat dalam PSA (Polis Standar Asuransi), Namun jika melanggar hukum, otomatis ditolak."

Artinya, selama pengemudi kendaraan memenuhi segala syarat dan ketentuan PSA untuk mendapatkan penggantian ketika kecelakaan terjadi, maka klaim tertanggung akan tetap diterima dan dibayarkan.

Beda cerita jika sang pengemudi melakukan pelanggaran yang menyebabkan terjadinya kecelakaan, misalnya melanggar rambu lalu lintas, melawan arus, atau mengendarai mobil dalam keadaan mabuk. Klaim pemegang polis bisa dipastikan tidak akan diterima.

Oleh karena itu, dalam proses klaim kecelakaan, jelas Iwan, akan menunggu keputusan pihak kepolisian dan hasil penyelidikan yang dilakukan oleh tim internal perusahaan asuransi.

"Keputusan final kita, tergantung keputusan kepolisian, karena kita menghormati institusi tertinggi hukum," ujarnya.

Penjelasan serupa diutarakan oleh Abdul Azis, Product Management Departement Head Adira Insurance.

"Kita akan lihat kasusnya, apakah sesuai dengan syarat pengajuan klaim atau tidak. Jika tak ada pelanggaran, maka klaim akan diproses. Namun jika ada pelanggaran yang menyebabkan terjadinya insiden, maka klaimnya ditolak," jelasnya.

Jadi, hal terpenting bagi perusahaan asuransi adalah apa yang menjadi penyebab kecelakaan, bukan insiden yang terjadi setelah kecelakaan.

Situs Cermati.com memaparkan 10 hal yang biasanya menjadi dasar bagi perusahaan asuransi untuk penolakan klaim secara umum. Salah satunya adalah bila pemegang polis yang melanggar hukum.

Kurangnya empati

Hal menarik lain dalam peristiwa itu adalah cek-cok yang terjadi dan, seperti terlihat di video, berujung pada upaya pemukulan.

Jusri Pulubuhu, pengagas Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), saat dihubungi Viva.co.id (21/1) menyatakan cek-cok usai kecelakaan seperti sudah menjadi kebiasaan di Indonesia.

Daripada berbicara baik-baik dalam suasana yang tenang untuk menyelesaikan masalah, kemarahan, terutama saat berombongan, kerap menjadi reaksi pertama.

Menurut Jusri, hal itu disebabkan ada kelemahan dalam pemahaman mengenai empati di jalan raya. Kemapanan dan tingkat intelektual orang, lanjutnya, kerap tidak berbanding lurus dengan rasa empatinya.

"Rasa empati itu subjek berbagi, ini menjadi masalah yang umum, boleh dikatakan hampir setiap hari ada kejadian yang semacam ini (adu mulut, pukul-pukulan karena salah satu ada yang salah). Dan kasus kekerasan fisik seperti ini ada yang sampai bunuh-bunuhan," ujarnya.

Muhammad Feriadi, Ketua Harley-Davidson Club Indonesia (HDCI) Chapter Jakarta Pusat, pun angkat bicara atas insiden yang berbuntut tindakan arogansi itu.

"Sayang sekali ada aksi pemukulan. Seharusnya dibicarakan baik-baik bukan asal main pukul begitu," kata Feriadi kepada MotorPlus-online.com (21/1).

Kedua pihak yang terlibat dalam insiden tersebut dikabarkan Dirlantas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Halim Pagarra, kepada Kumparan, telah sepakat untuk berdamai. Pengemudi mobil siap memperbaiki motor yang rusak.

Mengenai tindakan pemukulan, Halim menyatakan tak mengetahui terjadinya hal itu. Namun ia mempersilakan korban untuk melaporkan ke polisi, jika memang terjadi.

"Silahkan saja (kalau ingin lapor) kami hanya menangani laka lantasnya. Itu (pemukulan, red.) nanti reskrim yang akan menangani," pungkasnya.

BACA JUGA