Kenapa berkendara malam jarak jauh tak disarankan

Ilustrasi berkendara malam hari
Ilustrasi berkendara malam hari | Aleksandr N /Shutterstock

Berkendara malam jarak jauh sama sekali tidak disarankan mengingat kemampuan tubuh manusia lepas petang menjadi jauh lebih terbatas.

Kondisi ini memengaruhi visibilitas terutama saat Anda menjajal jalan tol. Namun, ada tip dari para ahli agar perjalanan Anda tetap aman.

Menukil Barkeley Wellness, masalah utama saat berkendara malam adalah penglihatan malam atau kemampuan penglihatan mata yang berkurang.

Jika ditambah satu saja kondisi semisal cuaca buruk, kelelahan, atau infrastruktur jalan yang tidak memadai seperti cat marka jalan yang kurang reflektif dan penerangan yang minim, bukan tidak mungkin perjalanan menjadi begitu mengganggu hingga sangat berbahaya.

National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) menyebutkan Kematian di jalan meningkat tiga kali lipat pada malam hari.

Studi kecil di jurnal Optometry and Vision Sciencepernah membandingkan tingkat ketajaman visual 43 orang berusia 14-32 tahun pada siang, senja dan malam hari menggunakan filter cahaya.

Peneliti menemukan bahwa penglihatan menurun secara signifikan pada setiap orang ketika waktu bertambah larut.

Bahkan, subjek yang memiliki penglihatan sempurna pada siang hari, turun rata-rata 1-2 garis pada grafik mata dalam kondisi senja dan hampir tiga garis dalam cahaya redup.

Lalu, studi lebih besar yang diterbitkan dalam Human Factors menguji kinerja mengemudi orang muda, setengah baya, dan lebih tua di bawah kondisi siang dan malam.

Hasilnya, seluruh peserta memperlambat kendaraan mereka dalam kondisi cahaya rendah, tetapi tidak cukup untuk mengimbangi visibilitas yang menurun di malam hari. Lalu, kelompok setengah baya serta lebih tua memiliki kinerja yang lebih burukdalam melihat pejalan kaki.

Laman National Safety Council (NSC) menulis, ketika malam kemampuan mata untuk membedakan warna, dan mempersepsikan kedalaman, termasuk penglihatan tepi akan berkurang. Sorotan lampu depan dari kendaraan yang melaju pun dapat membutakan pengemudi untuk sementara waktu.

Rata-rata manusia saat mengemudi butuh waktu sekitar 1,25-2 detik untuk melihat objek yang tidak terduga, mengenalinya dan bertindak. Baik untuk memperlambat mobil atau menjauhkannya dari objek.

Di malam hari, meskipun lampu depan kendaraan menyala sangat terang—mencapai 500 kaki menggunakan high beam headlights—visibilitas rendah akan membuat kita bereaksi lebih lambat andai sesuatu terjadi di jalan. Terutama jika mengemudi pada kecepatan lebih tinggi.

Alasan di balik semua itu, menurut Dr Stuart Quan, seorang profesor kedokteran di Harvard Medical School, karena pada malam hari jam biologis atau ritme sirkadian tubuh memang secara alamiah diatur untuk tidur. Alhasil, orang cenderung kurang waspada setelah malam beranjak larut.

"Jam biologis ditakdirkan Tuhan bahwa malam hari kondisi akan menurun karena oksigen juga mengecil, sistem pencahayaan atau visibilitas jadi menurun," sambung Jusri Palubuhu, Pendiri dan Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC).

Jusri menuturkan kondisi malam akan sama berbahaya jika Anda berkemudi di jalan umum maupun jalan bebas hambatan, apalagi yang kurang pencahayaan macam tol Trans Jawa yang pada 20 Desember lalu baru diresmikan.

"Sistem pencahayaan penerangan jalan lebih buruk di malam hari daripada siang. Kalaupun ada lampu penerangan juga pasti gelap di malam hari. Konteks safety driving tidak ada pengecualian, kalau malam itu berhenti," kata Jusri kepada CNNIndonesia.com.

Ia menambahkan bahwa sepinya kondisi lalu lintas malam juga membuat otak berpikir monoton, sehingga menyebabkan rasa bosan yang menimbulkan rasa kantuk.

Kendati demikian, kata Dr. Rick Tyrrell, direktur Visual Perception and Performance Lab di University of Clemson, manusia punya ketertarikan alami untuk berkendara malam terutama jika jaraknya jauh. Jadi, apabila pengemudi memilih berkendara malam jarak jauh khususnya melewati jalan tol, para ahli punya saran.

Pertama-tama, Jusri mengimbau agar tidak memacu kendaraan lebih dari 80 kpj guna menghindari risiko kecelakaan.

"Kalau misalnya kecepatan ideal di rute sampai 80 kilometer per jam. Kecepatan harus di bawah itu, bisa 70 kilometer per jam atau 60 kilometer per jam," tuturnya.

Lalu, untuk memerangi kegelapan, laman Verywell Health dan sejumlah ahli keselamatan berkendara di Popular Mechanicsmenganjurkan beberapa hal.

Pertama, sebelum berangkat, atau tiap kali akan menstarter mobil usai berhenti, beri mata waktu untuk menyesuaikan diri dengan kegelapan. Redupkan panel instrumen dan lampu dasbor, pun matikan lampu kabin dan atur spion untuk menghindari silau.

Pupil butuh beberapa menit untuk membesar sepenuhnya sehingga mampu menangkap banyak cahaya dan memaksimalkan penglihatan malam.

Kedua, arahkan lampu depan Anda dengan benar, dan pastikan lampunya bebas kotoran.

Ketiga, berpalinglah dari lampu kendaraan beda arah yang mendekat. Jika Anda mengenakan kacamata, pastikan anti-reflektif.

Keempat, bersihkan bagian luar kaca depan dengan koran untuk menghilangkan goresan, dan selalu sedia kain katun atau microfiber untuk membersihkan bagian dalam.

Sambung Jusri, pastikan istirahat setiap 2 jam sekali dalam waktu 15-30 menit. Jika terasa lelah sebelum berkendara, jangan abaikan tidur.

Sapta Agung Nugraha, Kepala Bengkel Auto2000 Bekasi Barat, menambahkan jangan lupa sesekali membuka jendela agar terjadi sirkulasi. Udara yang lebih segar membantu menghindari kantuk.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR