KESELAMATAN BERKENDARA

Kenapa tekanan ban perlu dikurangi di musim hujan

Ilustrasi mengukur tekanan ban.
Ilustrasi mengukur tekanan ban. | Oatz stocker /Shutterstock

Saat berkendara di musim hujan, Anda mungkin pernah mendengar saran agar tekanan udara di dalam ban dikurangi dari aturan yang telah ditetapkan pabrikan. Mengapa begitu?

Pada intinya berdasarkan keterangan sejumlah ahli, mengurangi tekanan angin pada ban saat kondisi jalan sering basah di musim hujan bisa memberikan traksi lebih baik pada lintasan yang licin.

Ini menghindarkan kita dari tekanan udara tidak sesuai yang bisa memicu kecelakaan tunggal dan melibatkan pengguna jalan lain.

Seperti dijelaskan Chief Instructor Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, tekanan angin ban kendaraan saat melintasi jalur kering dan jalur basah tentunya berbeda.

Di musim hujan, kondisi jalanan yang sering basah akan membuat permukaan jalan tetap dingin. Alhasil, saat terjadi gesekan antara roda dan permukaan jalan, maka tidak menimbulkan suhu panas seperti saat melintasi jalanan di musim kemarau.

Gesekan rendah yang terjadi pada lintasan basah ini, lanjut Jusri, dapat membuat traksi roda ke permukaan jalan berkurang.

Berikutnya, traksi roda yang berkurang akan membuat daya cengkeram ban ikut berkurang. Daya cengkeram yang kurang optimal ini membuat ban tidak menapak dengan sempurna di permukaan di jalan.

Akibatnya, "Kalau dia nikung (melakukan manuver atau berbelok) bisa tergelincir,” ujar Product Development Specialist GT Radial Dodi Yanto kepada CNN Indonesia.

Dodi menambahkan, mengurangi tekanan angin bisa membuat area tapak ban yang bersentuhan dengan aspal menjadi lebih lebar. Dengan kata lain, ban yang dikurangi tekanannya bisa menapak lebih baik ke jalan sehingga mampu memberikan traksi lebih baik juga pada lintasan yang licin.

Alhasil ban pengendara tidak akan tergelincir saat menikung.

“Biasanya kalau mau berkendara saat hujan, mereka (yang paham) langsung menurunkan tekanan angin bannya (ban motor)," imbuh Dodi.

Penting dicatat, agar presisi, proses pengurangan angin tidak bisa pakai perasaan dan perlu terukur dengan bantuan indikator tekanan angin. Jusri juga menekankan agar pengurangan tekanan tidak terlalu signifikan.

“Supaya ban lebih menapak di jalan saat hujan, triknya bisa dengan mengurangi tekanan ban angin sekitar 2-3 Psi dari standarnya,” tutur Harry Anggi, mekanik bengkel R59 Racing di Ciputat, Tangerang Selatan, kepada Gridoto.

“Terutama kalau mobil dalam kota yang kita pakai. Itu kurangnya 1-2 psi (pounds per square inch),” tambah Jusri.

Contoh tekanan ideal pada motor, "Misalnya ban depan tekanannya 29 psi, dikurangi 2 psi jadi 27 psi. Dan ban belakang dari 33 psi menjadi 31 psi," timpal Technical Service & Development Dept Head PT Suryaraya Rubberindo, Jimmy Handoyo, dinukil detikOto.

Kendati demikian, Harry menegaskan pengendara mesti mempertimbangkan kondisi sebelum memutuskan untuk mengurangi tekanan ban.

”Apakah berkendara sendiri atau bawa barang dan penumpang. Kalau ada barang dan penumpang otomatis tekanan ban perlu lebih besar, sehingga lebih baik tetap ikuti tekanan ban angin rekomendasi pabrikan,”paparnya.

Sependapat dengan Harry, Dhani Ekasaputra selaku Chief Driving Instructor Safety Driving Institute (SDI), berpendapat tekanan angin yang ideal adalah mengikuti angka yang telah ditetapkan di buku manual atau yang tertera di sisi dalam pintu mobil berdekatan dengan sopir.

Lalu, bila Anda kesulitan menemukan angka pasti soal tekanan angin kendaraan, ataupun tidak ditunjang pemahaman maupun perhitungan yang tepat, Dhani dan Jimmy sama-sama merekomendasikan agar tidak perlu mengurangi tekanan ban.

Salah-salah, "Bila dikurangi justru area ban yang menapak di aspal menjadi berkurang," ujar Jimmy kepada Suara.com.

Andai kata muatan kendaraan Anda berlebih, atau tekanan ban dikurangi melebihi ketentuan, “Yang ditakuti jika mengurangi tekanan ban adalah ban menjadi rata menapak ke aspal," jelas Dhani.

Selain itu, ketidaktepatan juga bisa memunculkan risiko anyar. “Tekanan angin dikurangi, risikonya ban pecah atau sobek saat menabrak lubang yang tidak kelihatan akibat tertutup air hujan,” ujar Bambang Supriyadi, Product Improvement Department Head PT Astra Daihatsu Motor.

Oleh sebab itu, Bambang menekankan pentingnya memperhatikan kedalaman alur tapak ban. Kalau sudah tipis, maka efek ban mengambang akan semakin besar.

Lebih lanjut, Jusri menyarankan agar Anda melakukan pengecekan kondisi ban secara berkala. Pada ban, terdapat titik Tread Wear Indicator (TWI) atau indikator batas penggunaan ban, untuk melihat apakah ban tersebut masih layak pakai atau tidak. Bila terdeteksi mulai aus, segera ganti.

Dodi juga menganjurkan agar pemilik motor tidak menggunakan ban dengan ukuran tapak ban yang lebih kecil atau bukan standar bawaan pabrik. Penggunaan ban tersebut hanya akan mempersempit wilayah kontak antara ban dengan aspal, yang akan lebih memungkinkan ban tergelincir.

“Biasanya saya akan menyarankan dengan ukuran yang sama atau satu di atas tingkatannya," ungkap Dodi.

Ia menyebutkan produsen ban di Indonesia sudah menciptakan jenis ban yang telah disesuaikan untuk kondisi basah dan kering dalam satu ban. Akan tetapi tidak ada salahnya memperhatikan kelayakan ban demi keselamatan berkendara.

BACA JUGA