Kisah frustrasi jenama otomotif AS di Indonesia

Jenama asal AS yang kerap beraksi di ajang Reli
Jenama asal AS yang kerap beraksi di ajang Reli | /Shutterstock.com

Awal pekan lalu dunia otomotif Indonesia dikejutkan oleh keputusan Ford untuk menutup semua lini bisnis di Jepang dan Indonesia mulai paruh kedua tahun 2016. Sebuah keputusan yang kembali menjadi bukti betapa sulitnya produk otomotif Amerika Serikat bersaing dengan produk negara lain, terutama Jepang, di pasar Asia.

Alasan yang dikemukakan Ford, seperti dikutip BBC, adalah "tak ada cara yang masuk akal untuk memperoleh keuntungan" di dua negara tersebut.

Melihat data penjualan Ford di Indonesia, keputusan tersebut sepertinya masuk akal. Tahun lalu, berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang dikutip Kompas.com, secara Ford berhasil menjual 6.103 unit kendaraan melalui Ford Motor Indonesia (FMI), atau hanya 0,6 persen dari total penjualan mobil di Tanah Air.

Angka tersebut turun nyaris 50 persen dibandingkan penjualan 11.614 unit pada 2014 seperti dipaparkan Gaikindo kepada JPNN.

"Di Indonesia, tanpa manufaktur lokal ... tidak ada jalan bagi pembuat mobil untuk bisa berkompetisi di pasar, dan kami tidak memiliki manufaktur lokal," kata juru bicara Ford di Shanghai kepada Reuters.

Sejak masuk ke Indonesia pada 2002, FMI memang tidak memiliki pabrik produksi di Indonesia. Semua mobil Ford didatangkan melalui impor, baik sistem CBU (completely built up) maupun CKD (completely knock down).

Oleh karena itu kendaraan ini, terutama dalam hal harga jual, sulit bersaing dengan jenama Jepang yang sebagian besar memiliki manufaktur di Indonesia.

Ditambah lagi pasar otomotif lokal tahun 2015 susut 17 persen dibanding tahun sebelumnya. Padahal, tahun sebelumnya, pasar begitu bergairah hingga penjualan otomotif mencapai 1.208.028 unit.

Ford bukan jenama otomotif asal Amerika Serikat pertama yang merasakan kerasnya persaingan di pasar otomotif Indonesia.

General Motors sulit bersaing

GM tutup pabrik di Indonesia
GM tutup pabrik di Indonesia | /Shutterstock.com

Sebelum Ford, ada General Motors (GM).

Tahun 2015, saat tengah menikmati pertumbuhan penjualan di dunia, GM malah mengumumkan keputusan untuk menghentikan produksi dan menutup pabrik Chevrolet --salah satu jenama milik GM-- di Indonesia, seperti dikutip Kompas.com (27/2/2015). Walau demikian, tidak seperti Ford, GM tetap akan menjual Chevrolet di Nusantara melalui jaringan diler yang telah ada.

Alasan GM menutup pabrik Chevrolet karena sulit bersaing dengan jenama asal Jepang, seperti Honda dan Toyota. Belum lagi ada kabar yang menyebutkan kalau suku cadang dari Chevrolet Spin yang diimpor dari berbagai negara membuatnya sulit berkompromi dari sisi harga.

"Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap keputusan GM termasuk biaya material yang tinggi dan kurangnya potensi untuk memanfaatkan basis pemasok lokal karena skala terbatas," kata juru bicara perusahaan tersebut.

GM mendirikan pabrik perakitan mobil di Indonesia pada 1995 dan sempat menutupnya pada 2005, sebelum kemudian menghidupkannya kembali pada 2013 guna memproduksi Chevrolet Spin untuk pasar domestik dan Asia Tenggara. Demikian dipaparkan Jakarta Globe.

Pada 2014, seperti dikutip CNN Indonesia, GM berhasil menjual 7.930 unit Spin dengan pangsa pasar 2,2 persen di segmen MPV. Namun kemudian terjadi penurunan penjualan pada kuartal pertama 2015 dibandingkan periode yang sama pada 2014, dari 2.818 unit menjadi 1.453 unit.

Hal itu, ditambah lesunya pasar kendaraan lokal, membuat GM memutuskan menutup pabriknya di Bekasi, Jawa Barat.

Kepada Reuters (h/t Jakarta Globe), Wakil Presiden GM Stefan Jacoby mengakui perusahaannya melakukan kesalahan dengan mencoba berhadap-hadapan langsung dengan manufaktur asal Jepang di pasar yang berada di "halaman belakang" mereka.

Akibat penutupan tersebut, 500 pegawai GM di Indonesia mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). Walau demikian, Menteri Perindustrian Saleh Husin memastikan semua hak karyawan tersebut dipenuhi.

"GM memastikan para karyawan akan mendapatkan kompensasi sesuai peraturan pemerintah seperti ada tambahan 9-10 bulan, gaji tergantung dari masa kerja," ujar Saleh, seperti dituliskan Tempo.co.

Langkah efisiensi diler resmi Harley Davidson

HD, pun menjadi lambang prestisius
HD, pun menjadi lambang prestisius | /Shutterstock.com

Kabar tak menggembirakan juga datang dari jenama sepeda motor legendaris Amerika Serikat, Harley Davidson.

Diler resmi motor gede (moge) ini di Tanah Air, PT Mabua Motor Indonesia, seperti dituliskan Berita Satu dan Okezone (30/10/2015), memutuskan untuk menutup salah satu gerai pamernya yang besar Mabua Harley-Davidson Iskandarsyah di kawasan Blok M, Jakarta.

''Ini menjadi hari terakhir kami menggunakan gedung di Iskandarsyah. Selanjutnya, seluruh aktivitas penjualan akan dipusatkan di Mabua Harley-Davidson Pondok Pinang," ungkap Direktur Utama PT. Mabua Motor Indonesia, Djonnie Rahmat.

Menurut Djonnie, langkah tersebut merupakan upaya efisiensi dalam menyikapi penurunan penjualan motor yang cukup signifikan di Indonesia. Dikatakan, hingga September 2015, penjualan motor Harley-Davidson baru mencapai sekitar 250 unit.

Turunnya penjualan Harley-Davidson bisa jadi merupakan efek pemberlakuan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) sebesar 125 persen untuk motor 500cc ke atas pada April 2014. Penjualan moge inipun turun drastis hingga 50 persen.

"Kondisi ekonomi yang begitu sulit pada akhirnya ikut memengaruhi penjualan kami. Sebagai langkah efisiensi, diler di Iskandarsyah dengan terpaksa kami tutup. Beberapa karyawan yang kontraknya sudah habis juga tidak kami perpanjang lagi. Namun sebagian besarnya akan ikut bergabung dengan diler Pondok Pinang," papar Djonnie.

BACA JUGA