KENDARAAN LISTRIK

Mobil Anak Bangsa, bus listrik pertama di Indonesia

Ilustrasi lalu lintas bus di Jakarta
Ilustrasi lalu lintas bus di Jakarta | AsiaTravel /Shutterstock

MAB atau singkatan dari Mobil Anak Bangsa merupakan jenama bus listrik pertama di Indonesia yang sedang menunggu waktu untuk segera diproduksi massal menjadi kendaraan komersial ramah lingkungan bagi masyarakat.

Seperti apa spesifikasi dan keunggulannya? Mari mengenal lebih jauh.

Menukil Good News from Indonesia, untuk saat ini bus garapan PT. Mobil Anak Bangsa milik Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal (Purn.) Moeldoko, yang masih dalam bentuk purwarupa tersebut baru diproduksi dua unit.

View this post on Instagram

Mari kita mengenal (1) MAB (Mobil Anak Bangsa) merupakan gagasan Jendral TNI (Purn) Doktor Moeldoko untuk mendukung program pemerintah dalam Rencana Umum Energi Nasional Indonesia, sesuai dengan komitmen Pemerintah melalui penandatanganan kesepakatan di Konferensi Perubahan Iklim ke-21 di Paris, Perancis tahun 2015 silam MAB E-Bus (Electrical Motor PMSM) Seri : MD255-XBE1 Tipe motor : HYYQ 800-1200 Panjang/Lebar/ Tinggi : 12.000/2.500/ 3.720 mm Tenaga max : 200KW 268HP Torsi max : 2.400 NAM Tipe Baterai : Lithium Ferro Phosphate Waktu charge 0-100% ± 3jam Jarak tempuh : 250 Km/Charging Kec.max : 70 Km/Jam Bus prototype ke-2 ini memakai Body buatan karoseri New Armada, Magelang. Untuk penjelasan lebih lengkap silakan kunjungi channel YouTube @autonetmagz #newarmada #bismania #electric #mobilanakbangsa #giicomvec2018 #indonesia #future

A post shared by m e r e n d a m (@kurondra_) on

Namun, bus berwarna biru bergaya cityline dengan bentuk mirip bus TransJakarta ini sudah mendapat banyak pesanan lantaran telah lulus rangkaian uji tipe di Balai Pengujian Laik Jalan dan Sertifikasi Kendaraan Bermotor (BPLJ-SKB) dari Kementerian Perhubungan.

Bus MAB rencananya bakal diproduksi massal setelah meluncurkan produksi ketiga di Bulan Januari 2019, sambil menunggu Peraturan Presiden (perpres) mengenai kendaraan listrik yang ditargetkan keluar pada awal 2019 mendatang.

Bus MAB pertama kali muncul dan menyita perhatian khalayak dalam acara Gaikindo Indonesia International Commercial Vehicle Expo (GIICOMVEC) di Jakarta Convention Center (JCC) pada Maret 2018 lalu, bersama sejumlah truk dan bus listrik lain dari berbagai negara.

Per 31 Agustus 2018, bus MAB bahkan sudah mulai beroperasi dan diuji coba di kawasan Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, dengan jam operasi yang masih terbatas.

Moeldoko mengklaim, meskipun sebagian komponen bus ini masih impor dari berbagai negara seperti Tiongkok, tetapi kandungan lokalnya sudah mencapai 60 persen. Artinya, MAB ingin membuat bus listrik dengan kandungan lokal yang sama layaknya mobil konvensional.

Penampakannya pun dirancang kekinian layaknya bus-bus di Eropa.

"Enggak asal bikin. Jadi, kami cari selera masyarakat dulu. Nah, ketemu gaya Eropa. European style ini lebih ke fungsinya. Jadi, desain bus lebih minimalis, dan prioritas untuk penumpang berdiri dan penyandang disabilitas. Itu mengapa kursi untuk penumpang duduk agak sempit," terang Bambang Tri Soepandji, Technical Director MAB.

Lebih rinci, kapasitas bus MAB bisa menampung 60 penumpang. Dimensi bus lower deck berwarna biru dengan aksen hijau ini memiliki panjang 12 meter, lebar 2,5 meter, dan tinggi 3,7 meter. Jarak sumbu rodanya 5.950 mm, dengan ground clearance 250 mm.

Fitur penunjang lainnya adalah pendingin udara TSD-LE berspesifikasi 400-800 VDC. Kemudian, tenaga penggeraknya berupa motor listrik HYYQ 800-1.200 bertipe Permanent Magnetic Synchronous Motor (PMSM).

Dengan motor tersebut, tenaga yang dihasilkan sebesar 200 kW dengan torsi maksimal 2.400 Nm, setara dengan 268,2 tenaga kuda atau lebih besar dari bus konvensional yang beredar di Indonesia. Sebagai contoh, Mercedes-Benz OH1526 6.400 cc hanya menyemburkan torsi sebesar 950 Nm.

Satu hal yang tak kalah menarik adalah bekal baterai yang disematkan dalam bus MAB. Bus ini menggunakan baterai LifePo 576 V 450 Ah yang berkapasitas 259,2 kWh dengan berat 2.290 kg, lebih berat dari satu unit Toyota Fortuner yang berat kosongnya 1.800 kg.

Dengan kapasitas baterai sebesar itu, dalam satu kali pengisian penuh bus MAB bisa menempuh jarak 250 kilometer dan mampu melaju dengan kecepatan maksimal 70 km per jam.

Gunadi Sindhuwinata,Ketua Umum Ikatan Ahli Teknik Otomotif (IATO) Indonesia yang telah menjajal kemampuan bus MAB membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan, bus listrik ini mampu melaju hingga 300 km dengan interval pengisian daya hanya 3 jam saja.

"Bisa berlari 250 km per jam sampai 300 km per jam, hanya dibutuhkan waktu 3 jam untuk bisa mengisi baterai secara penuh, dan bisa mencapai jarak tempuh sampai 300 km," jelasnya kepada detikOto.

Kendati demikian, sebagaimana disebutkan Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi pada awal Desember, bus MAB masih harus disesuaikan dengan standardisasi di Indonesia sebelum masuk ke proses produksi masal.

Satu-satunya kendala terletak pada bagian steker atau colokan pengisian daya baterai bus MAB yang masih menggunakan standar GB/T dari Tiongkok.

Padahal, penggunaan steker yang termasuk Standar Nasional Indonesia (SNI) mengikuti Jepang dan Eropa memakai DC (CCS) dan DC CHAdeMO sesuai standar Badan Standarisasi Nasional (BSN). BSN berpedoman pada International Electrotechnical Commission (IEC).

Kepada CNN Indonesia, Peneliti Madya Standarisasi BSN, Benjamin B. Louhenapessy, mengutarakan bahwa Indonesia sulit menggunakan standar steker dari Tiongkok karena tak masuk di dalam pembahasan beleid kendaraan listrik.

Ia menegaskan, ke depannya semua mobil listrik baik itu produksi lokal (completely knock down/CKD) atau impor utuh, steker bisa sesuai dengan standar yang ditetapkan BSN yaitu mengikuti standar internasional.

Penyesuaian standar steker diperlukan agar bus MAB bisa melaju leluasa ke seluruh wilayah Indonesia tanpa perlu terkendala ketika harus mengisi daya listrik.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR