ULASAN

Mencari kenyamanan dan rasa berkendara Wuling Cortez di Jawa Tengah

Wuling Cortez berjejer di kawasan wisata Panorama Umbul Sidomukti, Bandungan Semarang, Jawa Tengah, Kamis (28/2/2018).
Wuling Cortez berjejer di kawasan wisata Panorama Umbul Sidomukti, Bandungan Semarang, Jawa Tengah, Kamis (28/2/2018). | Randi Aditya /Beritagar.id

Yogyakarta dan tiga kota di Jawa Tengah; Semarang, Solo, Magelang, menjadi lokasi jelajah unit anyar Wuling Motors; yaitu Wuling Cortez. Mobil terbaru pabrikan Tiongkok ini diperkenalkan ke hadapan publik Indonesia pada awal Februari (8/2) lalu.

Berselang hampir sebulan, media mendapat kesempatan untuk melakukan test drive di empat kota tersebut pada 28 Februari hingga 2 Maret 2018.

Beritagar.id yang turut dalam agenda ini tiba di bandara Ahmad Yani, Semarang, dan langsung menemui lima unit Wuling Cortez varian tertinggi, yaitu 1.8 L Luxury i-AMT, Kamis (28/2) pagi. Dari sana, para awak media bergerak menuju dealer Wuling di Semarang di Jalan Jenderal Sudirman No. 299 sebagai meeting point.

Lokasi dealer yang tak jauh dari bandara, sekitar 2 km, dilanjutkan makan siang di sekitar lokasi. Saya belum berada di balik kemudi, tapi kenyamanan di kabin penumpang juga belum bisa diambil kesimpulan karena jarak tempuh yang singkat.

Setelah persiapan dan arahan dari Wuling kepada awak media, lima mobil yang ditumpangi media dan enam mobil lainnya memulai perjalanan jauh. Titik pertama yang akan menjadi ujian Cortez adalah kawasan ekowisata panorama Umbul Sidomukti di Bandungan, Semarang.

Cortez yang saya tumpangi bersama tiga awak media lain pun bergerak melahap rute tol Semarang - Bawen. Kesan saya yang duduk di baris kedua, mobil berbobot rata-rata 1.375 kilogram ini minim gejala limbung.

Mobil sebenarnya terombang-ambing lantaran kontur jalan cukup bergelombang. Tapi laju Cortez stabil pada kecepatan 140 km/jam. Perpaduan suspensi independent di depan dan belakang, serta Electronic Stability Control, berhasil menjaga laju mobil.

Selepas rute tol, medan berikutnya adalah jalan perkampungan yang cenderung sempit dan hanya sanggup dilewati satu setengah bodi mobil. Rute inilah yang menjadi ujian berat bagi Cortez. Namun walau panjang bodi 4.780 milimeter (mm) dan lebar 1.816 mm, mobil ini ternyata cukup lincah melalui aneka kontur aspal.

Saya pun tidak menemui bantingan lembut yang lazim terjadi ketika mobil melewati lubang yang cukup dalam. Bantingan Cortez cukup dewasa dan membuat mobil terasa tenang saat melalui jalan rusak. Kesannya, seperti mobil keluaran Eropa.

Satu-satunya kekurangan bagi kenyamanan penumpang di baris kabin dua dan tiga adalah sandaran kepala (headrest) yang cukup keras. Padahal jok cukup empuk.

Rombongan Wuling Cortez melewati tikungan Irung Petruk di Boyolali, Jawa Tengah.
Rombongan Wuling Cortez melewati tikungan Irung Petruk di Boyolali, Jawa Tengah. | Wuling Indonesia

Begitu mobil memasuki medan curam seperti tanjakan dan turunan, di sinilah transmisi intelligent-Automated Mechanical Transmission (i-AMT) milik Cortez bekerja baik.

Misalnya saat Cortez kehilangan momentum di jalan menanjak dan persneling berada di tuas drive (D) --posisi eco atau sport--, pengemudi hanya perlu memindahkan posisi tuas ke mode manual (M) sehingga mobil bisa dikendalikan dengan menaikkan atau menurunkan tuas kecepatan tanpa harus menginjak pedal kopling.

Fitur lain seperti Hill Hold Control (HHC) dan Automatic Vehicle Holding (AVH) pun mampu menahan laju mobil ketika tertahan di tanjakan.

Rasa dibalik lingkar kemudi

Setelah cukup lama duduk sebagai penumpang, akhirnya saya penasaran dengan rasa berkendara sebagai pengemudi. Lepas istirahat sejenak di kawasan Boyolali, giliran saya yang mengendarai Cortez hingga tempat penginapan di Alila Hotel, di Jalan Slamet Riyadi, Laweyan, Solo (Surakarta).

Hal pertama, mobil ini memberi kesan bagus. Untuk mobil dengan harga di bawah Rp300 juta, Cortez memiliki value for money yang sangat bagus. Saya terbuai dengan pengendalian yang mantap, tenaga dan torsi yang dihasilkan, dan sejumlah fitur yang hadir di mobil ini.

Urusan tenaga, mobil yang masuk segmen medium MPV ini memiliki mesin berkapasitas 1.798 cc (1.8L) bertenaga 129 tk dan torsi 174 Nm. Performa tersebut cukup mumpuni untuk menjaga putaran mesin selalu berada di atas dan sigap saat saya mengikuti iringan rombongan sehingga tidak terputus.

Saya pun mencoba untuk akselerasi kick down saat tuas di posisi D dengan mode sport. Hasilnya, suasana kabin cukup hening yang berarti peredaman pun relatif bagus. Selain mampu mereduksi suara kendaraan lain, kemampuan meredam raungan mesin pun cukup baik sehingga tidak mengganggu telinga penghuni kabin.

Saat memasuki pusat kota Surakarta pada malam hari, saya menjajal kemampuan rem mobil yang sudah dilengkapi cakram berfitur ABS, EBD, dan BA pada keempat roda, serta Electric Parking Brake (EPB) --sistem pengereman yang dipasang pada as roda depan, bukan pada poros roda belakang seperti umumnya rem parkir konvensional.

Hasilnya, saat akselerasi stop and go, deselerasi mobil cukup baik. Bahkan ketika mobil membutuhkan panic brake, momentum berhenti Cortez layak mendapat apresiasi.

Konsep cluster Wuling Cortez memudahkan pengendara untuk mengoperasikan seluruh fitur dan perangkat yang sudah dibenamkan pada mobil ini.
Konsep cluster Wuling Cortez memudahkan pengendara untuk mengoperasikan seluruh fitur dan perangkat yang sudah dibenamkan pada mobil ini. | Randi Aditya /Beritagar.id

Mata saya pun akhirnya mengitari seisi kabin mobil saat mobil berhenti di lampu lintas. Saya tidak menyangka mobil dengan banderol harga relatif terjangkau ini cukup lengkap. Ada atap kaca (sunroof), AC climate control, Multi Information Display (MID) berlayar Thin-film Transistor (TFT), multimedia berukuran 8 inci dengan model "gawai tanam", dan koneksi USB untuk mengisi baterai gawai di setiap baris kabin.

Tetap membutuhkan riset dan pengembangan

Wuling Cortez dibangun dari basis Baojun 730 di Tiongkok. Pun demikian, Dian Asmahani, Brand Manager SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors), memaparkan adanya perbedaan pada dua nama tersebut.

"Pengembangan model Wuling Cortez butuh waktu 1,5 tahun untuk menyesuaikan kondisi di Indonesia. Niat kami untuk komitmen jangka panjang, jadi kami harus melakukan riset terhadap kebutuhan konsumen mobil di Indonesia," ungkap Dian kepada Beritagar.id di sela-sela media test drive ini.

Meski terdapat perbedaan, secara keseluruhan desain rancang, fitur, dan kelengkapan berkendara relatif mirip. "Secara keseluruhan mirip, tapi sudah pasti ada yang beda. Misalnya posisi setir, (pemilihan) nama, terus untuk interior disesuaikan dengan (ergonomic) orang Indonesia. Kalau sektor mesin, fitur dipastikan sama seperti model yang dijual di Tiongkok," imbuh Dian.

Soal pemilihan nama Cortez; Brian Gomgom, Media Specialist Wuling Indonesia, menjelaskan bahwa artinya mobil ini memberi respek dan menghargai pengendara.

"Jadi bagi yang ingin mobil yang dilengkapi fitur lengkap dan canggih, posisi berkendara yang nyaman, fitur keamanan lengkap, dan harga yang terjangkau, nama Cortez ini yang jadi jawaban itu semua," pungkas Gomgom.

Di Indonesia, Wuling Cortez hadir dengan lima opsi kelir; Burgundy Red, Starry Black, Dazzling Silver, Sand Brown dan Pristine White. Mobil ini dipadukan dengan dua pilihan transmisi ini berharga Rp218 juta (1.8 C MT) dan tipe tertinggi Rp264 juta on the road Jakarta.

Di Jawa Tengah, harga jual Cortez mulai dari Rp227 juta hingga Rp273 juta. Artinya terpaut Rp9 juta lebih mahal dari harga OTR di Jakarta.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR