Mengenal cara kerja rem angin pada bus

Ilustrasi bus sesaat hendak menikung ke kiri.
Ilustrasi bus sesaat hendak menikung ke kiri. | Oleksii Fedorenko /Shutterstock

Jika saja Amirudin (32) bersikukuh untuk tak menjalankan busnya, Sabtu (10/2/2018), bisa jadi kecelakaan maut di Tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat, urung terjadi.

Seperti diketahui, sebuah kecelakaan yang melibatkan bus dan pengendara motor terjadi akhir pekan lalu yang menyebabkan 27 orang tewas. Kecelakaan itu diduga terjadi akibat rem blong pada bus.

Direktur Lalu Lintas Polda Jabar Komisaris Besar Polisi Prahoro Tri Wahyono, dikabarkan Republika Online (12/2/2018), membenarkan dugaan tersebut.

"Dari hasil keterangan sang sopir, memang ada kendala remnya blong," ujarnya. "Ternyata ada kebocoran di selang-(rem)-nya."

Prahoro menambahkan, Amirudin mengetahui masalah tersebut dan melaporkannya kepada manajemen bus. Tetapi manajemen memaksanya untuk "mengakali" agar bus tersebut tetap layak jalan.

Padahal, menurut pengakuan Amirudin kepada polisi, ia tak memiliki kemampuan mekanik untuk mengakali kerusakan bus tersebut.

Mengenal sistem rem angin

"Rem blong" acap kali menjadi momok para sopir bus atau kendaraan berukuran besar lainnya. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan tidak bekerjanya mekanisme rem kendaraan.

Bisa dibayangkan sulitnya mengendalikan kendaraan sebesar itu jika remnya rusak atau tidak berfungsi maksimal.

Mekanisme pengereman pada bus dan truk, tentunya berbeda dengan mobil konvensional seperti sedan, SUV, maupun MPV.

Perangkat pengereman yang digunakan mesti disesuaikan dengan dimensi dan bobot bus yang besar. Rem bus tentunya tak mungkin hanya mengandalkan booster seperti yang digunakan pada mobil berukuran kecil dan sedang.

Rem pada bus adalah rem tromol yang kinerjanya dibantu oleh sistem hidrolik yang digerakkan oleh tekanan angin. Karena itu jenis rem ini juga dikenal sebagai rem angin (air brake).

Pada mesin bus umumnya terdapat kompresor yang berguna untuk membangkitkan tekanan udara yang ditempatkan dalam tangki khusus.

Autoexpose menjelaskan, rem angin yang digunakan bus terdiri atas dua jenis.

Pertama adalah tipe Combi Air Brake. Tipe ini masih memanfaatkan cairan hidrolik sebagai media. Tapi energi utama pengereman diperoleh dari tekanan udara pada tangki udara (air tank).

Selanjutnya ada Full Air Brake. Pada model ini tidak lagi menggunakan cairan hidrolik. Tekanan udara langsung berhubungan dengan rem, sehingga menimbulkan daya yang efisien. Saat ini rem angin tipe FAB lebih banyak digunakan pada truk dan bus modern.

Walau berbeda, keduanya memiliki pengendalian yang sama. Yakni ketika pengemudi menginjak pedal rem, maka udara bertekanan tinggi yang ada pada kompresor terbuka dan disalurkan kepada setiap ban untuk mendorong kampas rem untuk menekan perputaran ban.

Canggihnya pengembangan sistem rem pada kendaraan besar tersebut, menurut Otomotifnet, membuat "rem blong" nyaris tak mungkin terjadi.

[HINDI] Air Brakes : Animation & Layout Explained! /The Automotives

Memantau kinerja rem

Penggunaan rem angin sebenarnya tidak jauh berbeda dengan penggunaan rem biasa. Pengemudi hanya perlu menekan pedal rem seperti biasa dengan mengatur penekanannya sesuai kadarnya.

Di dalam pedal sistem rem angin, terdapat sebuah katup yang akan mengatur volume serta tekanan udara yang mengalir untuk menekan kampas rem. Semakin banyak volume udara yang dialirkan, semakin besar pula energi pengereman yang didapat.

Namun semua itu sia-sia jika kondisi tekanan udara didalam tangki udara kosong atau selangnya bocor. Karenanya, disarankan sebelum melakukan perjalanan pastikan kondisi air tank dan kompressor angin bekerja normal.

Untuk memantau kinerja atau ketersediaan angin pada air tank, di dasbor bus terdapat meter pengukur tekanan angin (air pressure gauge) yang akan menunjukan berapa tekanan angin yang ada dalam air tank.

Saat mesin dinyalakan dan sopir menekan pedal rem, jarum pada alat ini bergerak hingga tekanan maksimal. Jika tekanan tidak normal, biasanya ada indikator khusus yang menyala pada dasbor.

Umumnya, saat air tank mencapai tekanan maksimal, akan ada terdengar bunyi cetusan. Bunyi yang tentunya sering Anda dengar ketika bus hendak berangkat. Suara itu berasal dari check valve di dalam air tank.

Ketika bunyi tersebut timbul, secara teknis jarum pada alat akan berhenti bergerak meski mesin masih menyala. hal itu menandakan tekanan pada air tank telah maksimal.

Kemudian saat sopir melepas pedal rem, akan terdengar juga suara mendecit, khas rem angin. Itu menandakan udara yang dipakai untuk pengereman tidak dimasukkan kembali ke dalam tangki udara, melainkan dibuang ke udara bebas, sehingga keberlangsungan kinerja kompresor dan check valve pada tanki udara tetap terjaga.

Saat ini, untuk menjaga sistem pengereman menjadi optimal, produsen bus dan truk juga melakukan pengembangan dengan melibatkan peranti elektronik sebagai pengatur kinerja rem.

Teknologi itu dikenal dengan Electronic Brake Systems (EBS), yang mengandalkan sensor kecepatan dan EBS Control Unit.

Ilustrasinya dapat Anda lihat pada video di bawah ini.

MAN - Basic EBS functions (English version) /MAN Truck & Bus
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR