Menilik tarif dan sistem kelola parkir di berbagai negara

Salah satu area parkir di New York, AS.
Salah satu area parkir di New York, AS. | Beketoff /Shutterstock

Kemacetan dan parkir, merupakan dua masalah lalu-lintas yang dihadapi oleh kota-kota besar. Dengan semakin banyaknya pengguna kendaraan pribadi, otomatis membuat jalanan semakin padat.

Sementara transportasi umum yang ditawarkan pun belum mampu membuat orang mau berpaling menggunakannya. Alasannya beragam, soal sistem dan kenyamanan.

Sementara untuk menekan jumlah kendaraan, pemerintah suatu negara sampai menaikkan pajak kendaraan, hingga tarif parkir yang mahal.

Bahkan seperti ditulis Tirto.id, pada Agustus 2017 Pemda DKI menaikkan tarif parkir sebesar 10 persen.

Auchincloss dari Drexel, University of New Hampshire dan Nelson, Nygaard Consulting Associates berpendapat penerapan tarif parkir yang tinggi, akan membuat orang untuk beralih menggunakan angkutan umum.

Jika di Indonesia, khususnya di Jakarta Anda harus merogoh kocek cukup dalam untuk biaya parkir, bagaimana dengan dengan kota-kota di negara lain?

Kota-kota dengan tarif parkir termahal

Parkopedia menyediakan informasi terkait parkir dari laporan Global Parking Index 2017 yang berisi 25 kota dan negara dengan biaya parkir termahal di dunia.

Laporan itu menulis data parkir dari 6.500 kota di 75 negara di dunia.

Dalam laporan itu, kota-kota di Amerika Serikat dan Australia berada di posisi teratas, untuk tarif parkir paling menguras dompet.

Untuk tarif parkir selama dua jam saja, New York, menjadi yang paling mahal dengan rerata 32,97 Dolar AS atau setara Rp427 ribu. Di beberapa lokasi di New York, tak jarang biaya parkir selama dua jam pun dikenai tarif 62 Dolar AS (Rp806 ribu).

Untuk tarif parkir bulanan, New York tetap yang tertinggi dengan tarif rerata 608,37 Dolar AS atau Rp7,8 juta per bulan. Bahkan di beberapa lokasi di New York, ada yang mematok tarif parkir hingga 2000 dolar AS atau Rp26 juta per bulan.

Sementara Sydney, Australia adalah kota kedua dengan biaya parkir termahal. Untuk kurun waktu dua jam. Anda harus mengeluarkan 28,45 Dolar AS atau setara Rp369 ribu.

Namun menurut laporan Royal Automobile Club of Queensland(RACQ) untuk durasi parkir sekitar 30 menit hingga satu jam, Sydney masih kalah dari Brisbane.

Di Brisbane, untuk kategori off street parking, pengemudi harus menyiapkan 16,04 Dolar Australia (Rp160 ribu) untuk parkir selama 30 menit. Sedangkan untuk satu jam, ongkosnya 28,32 Dolar Australia (Rp280 ribu).

Dua kota lain yang masuk dalam tarif termahal adalah London dan Tokyo. Dua kota itu rerata memasang tarif setara 16 Dolar AS (Rp208 ribu) tiap dua jam.

Sedangkan Jerman sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Eropa memiliki tarif parkir yang relatif murah. Munich adalah kota di Jerman yang memasang tarif parkir tertinggi dengan rata-rata 5,69 Dolar AS atau Rp73 ribu per dua jam.

Hongkong, Tokyo (Jepang), Roma (Italia), Zurich (Swiss), Perth (Australia), Brussel (Belgia), dan Kopenhagen (Denmark) juga tercatat sebagai kota dengan banderol parkir selangit.

Bahkan menukil Travelingyuk, kota-kota seperti Hongkong, Paris, dan Singapura, punya banderol tarif parkir khusus yang dapat mencapai harga mobil baru.

Sistem kelola

Soal sistem kelola, Kompas.com mencontohkan bahwa kota Tokyo memiliki pengelolaan masalah parkir dari hulu sampai hilir. Mulai dari kepemilikan, lahan, hingga regulasi yang komprehensif.

Negeri asal Doraemon itu menerapkan pembatasan lahan parkir dan pengenaan tarif tinggi sebagai strategi mengatasi kemacetan, terutama di kota Tokyo. Cara ini sekaligus upaya memaksa warganya beralih dari mobil pribadi ke alat transportasi umum.

Atase Perhubungan Republik Indonsia di Tokyo, Popik Montanasyah, bercerita soal pengaturan parkir di negara tersebut.

"Di Tokyo, kapasitas parkir untuk gedung pemerintahan hanya untuk 20 hingga 40 mobil. Itu pun hanya untuk mobil sedan," ujar Popik.

Adapun di gedung perniagaan, kapasitasnya antara 50 dan 100 mobil, dengan tarif 600 yen per jam, setara Rp67 ribu. "Ruko untuk perkantoran swasta atau pertokoan rata-rata hampir tidak memiliki tempat parkir tersendiri," lanjut Popik.

Bila di Indonesia, pembatasan kapasitas tersebut bisa jadi "diakali" dengan parkir di pinggir jalan. Di Jepang, "akal-akalan" begitu sudah diantisipasi.

Pemerintah Tokyo membolehkan parkir di pinggir jalan, tetapi hanya di ruas jalan tertentu. Itu pun, posisinya harus sebaris dan sejajar jalan saja, dan waktunya dibatasi hanya 15-60 menit.

"Untuk parkir di pinggir jalan biayanya bervariasi mulai dari 300 yen sekali parkir (setara Rp33.000)."

Sanksi atas pelanggaran aturan parkir itu juga diterapkan secara tegas. Pelanggar aturan parkir di tepi jalan, akan terkena denda 6.000 yen atau setara Rp670 ribu.

Contoh lain datang dari Israel. Di negara ini sanksi yang diterapkan lebih sadis lagi, jika sembarangan parkir maka pemilik kendaraan berpotensi masuk bui.

Di Israel, seperti ditulis DetikOto hal-hal seperti itu bisa termasuk dalam tindakan kriminal. Itu dianggap seperti berkendara di bawah pengaruh alkohol atau berkendara tanpa memiliki SIM.

Sementara contoh lain dari sebuah negara yang mengakali lahan parkir dengan penerapan sistem teknologi canggih adalah Tiongkok. Parkir mobil memanfaatkan ruang bawah tanah dengan teknologi state-of-the-art.

problemi di parcheggio in cina risolvono cosi /liberatof82
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR