KESELAMATAN BERKENDARA

Menimbang manfaat larangan melihat GPS saat berkendara

Ilustrasi menggunakan GPS untuk navigasi arah berkendara
Ilustrasi menggunakan GPS untuk navigasi arah berkendara | TippaPatt /Shuterstock

Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait larangan menggunakan Global Positioning System (GPS) saat berkendara karena dinilai mengganggu konsentrasi saat berkendara, menuai kontra. Sebenarnya, larangan tersebut sarat manfaat.

Para ahli maupun pihak terkait sependapat bahwa larangan semacam ini dapat menciptakan kesadaran perilaku tertib berkendara sehingga menghindarkan pengemudi dari bahaya kecelakaan lalu lintas.

Larangan penggunaan GPS digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK), khususnya pasal 106 ayat (1) UU No. 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ).

Pasal tersebut intinya mewajibkan pengemudi berkendara dengan penuh konsentrasi tanpa terganggu aktivitas lain. Bagi yang melanggar, terancam pidana penjara paling lama 3 bulan atau denda Rp750 ribu sesuai Pasal 283 UU LLAJ.

Gugatan yang diajukan komunitas Toyota Soluna dan pengemudi transportasi online pada Maret 2018, menyatakan mereka merasa dirugikan dengan larangan tersebut karena sangat bergantung dengan aplikasi GPS saat bekerja.

Namun, MK menolak gugatan itu, menilainya tak beralasan menurut hukum. Menurut hakim, menggunakan aplikasi sistem navigasi GPS pada saat berkendara melalui telepon seluler, dalam batas penalaran yang wajar termasuk hal yang dapat mengganggu konsentrasi berlalu lintas yang dapat berdampak pada kecelakaan lalu lintas.

Dengan kata lain, penggunaan GPS dapat dibenarkan sepanjang tidak mengganggu konsentrasi pengemudi dalam berlalu lintas. Artinya, menurut MK, tidak setiap pengendara yang menggunakan GPS serta-merta dapat dinilai mengganggu konsentrasi mengemudi, sehingga penerapannya harus dilihat secara kasuistis.

Permasalahan utamanya lantaran tak ada rincian yang jelas mengenai sejauh mana penggunaan GPS dianggap menganggu konsentrasi pengendara. Sementara, GPS masa kini cenderung lebih ramah pengemudi semisal bisa didengar lewat navigasi suara atau terpasang sebagai fitur standar di mobil.

Lantas, kapan menggunakan GPS dapat dikatakan menganggu?

Situs Elkandelk menyebutkan ada lima cara pengoperasian GPS bisa menganggu konsentrasi, yakni ketika pengemudi melihat ke ponsel untuk memvisualisasikan rute, menyentuh dan berinteraksi dengan perangkat sehingga melepas tangan dari kemudi, terganggu secara visual oleh cahaya perangkat yang terang setelah gelap, terganggu oleh navigasi suara, dan ketika pengemudi perlu mengubah atau memilih rute alternatif.

Intinya, GPS memungkinkan pengemudi mengalihkan perhatian dari jalan.

Andry Berlianto, instruktur Rifat Drive Labs, mengatakan bahwa beralih fokus saat berkendara tentu berbahaya. Terutama bagi orang-orang yang terlalu mengandalkan GPS.

Ia menjelaskan, saat mata melihat arah lain apalagi melakukan kegiatan lain seperti mengoperasikan GPS, maka konsentrasi pasti terganggu dan pengendalian menjadi tidak fokus. Hal ini memungkinkan pengemudi rentan hilang kendali seperti berubah lajur.

Sekadar melihat arahan navigasi terbukti dua kali lipat menimbulkan kecelakaan dibanding bicara di telepon.

Di Amerika dan sebagian besar negara Barat, larangan penggunaan perangkat GPS saat berkendara tercakup dalam Undang-undang tentang Gangguan Mengemudi—mulai dari menumpahkan kopi sampai hal-hal berkaitan dengan ponsel macam berkirim pesan teks.

Pasalnya, menurut Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional AS (NHTSA), setiap hari ada sembilan orang tewas dan ribuan orang cedera yang sebagian besar disebabkan penggunaan ponsel pintar. Pada 2018, 88 persen orang dalam survei AAA Foundation juga mengakui, gangguan mengemudi adalah masalah terbesar di jalan dibanding perilaku berisiko lainnya seperti mabuk atau ugal-ugalan.

Tak hanya AS, larangan serupa juga berlaku sejak tahun 2017 di Inggris. Selain dilarang penuh pakai GPS di ponsel, apabila tertangkap petugas memanfaatkan GPS sehingga tidak wajar dalam mengendalikan mobil, mereka harus siap ditindak.

Sama halnya di Indonesia yang tidak miliki regulasi khusus soal GPS, negara-negara seperti Singapura, Jepang, Argentina, Filipina, dan Portugal, sudah cukup jelas menegaskan bahwa menggunakan perangkat elektronik nirkabel apapun saat kendaraan melaju dianggap melanggar hukum.

"Banyak orang berpikir tidak apa-apa memegang ponsel di tangan dan menggunakannya dalam mode GPS atau speakerphone. Sayangnya itu bukan hanya ilegal, tetapi cara yang baik untuk terluka atau terbunuh," ujar Jeffrey Levine, seorang pengacara dari New York City yang berspesialisasi dalam kasus-kasus pelanggaran lalu lintas.

Ia menjelaskan bahwa di AS penempatan ideal untuk GPS ponsel maupun perangkat adalah di dasbor. Sebab, hampir seluruh negara bagian mengilegalkan pemasangan GPS di dekat kaca depan mobil. Bahkan, beberapa negara yang memperbolehkan pun memiliki regulasi khusus soal penempatannya. Intinya, GPS tidak boleh terlalu dekat dengan pengemudi.

Selain itu, 28 negara bagian AS punya aturan yang melarang pengemudi amatir atau pemula untuk menggunakan perangkat bebas genggam sekalipun lewat navigasi suara.

Lebih-lebih jika Anda pengendara motor, pakai GPS di ponsel sudah pasti ilegal.

"Jika Anda memegang perangkat elektronik dengan cara yang menonjol, ada anggapan bahwa Anda menggunakannya," imbuh Levine.

Kadang, lanjutnya, tanpa harus melihat Anda memegang ponsel atau perangkat apapun sudah sah bagi polisi untuk menindak tegas jika kedua tangan Anda tidak berada di atas kemudi.

"Ada kemunafikan soal gangguan mengemudi," tambah Joel Feldman, seorang pengacara Philadelphia dan pendiri kampanye End Distracted Driving.

Ia berpendapat bahwa para pengemudi yang begitu mengandalkan GPS tapi bebal diperingatkan soal bahayanya itu sebetulnya hanya terlalu percaya diri berperilaku tidak aman.

“Karena mereka tidak mengalami kecelakaan, mereka pikir itu aman untuk dilakukan lagi,” ujarnya.

Oleh karena itu, para ahli menyarankan mempelajari rute perjalanan dengan memprogram tujuan di GPS sebelum berangkat. Nyalakan juga mode suara atau minta bantuan penumpang untuk memonitor GPS.

Terakhir, jangan kelewat mengandalkan GPS dan tetap fokus mengemudi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR