ULASAN

Menjajal sebentar Honda PCX 150 produksi lokal

Para jurnalis menjajal All New Honda PCX 150, Rabu (7/2/2018) di JIEXPO  Kemayoran.
Para jurnalis menjajal All New Honda PCX 150, Rabu (7/2/2018) di JIEXPO Kemayoran. | Mustafa Iman /Beritagar.id

Rabu (7/2/2018), pada jurnalis otomotif, narablog, serta perwakilan diler, berkesempatan menjajal performa All New Honda PCX rakitan lokal di area parkir Jakarta International Expo (JIEXPO) Kemayoran.

Pada kesempatan itu, Astra Honda Motor (AHM), selaku penyelenggara acara, menyediakan delapan varian PCX versi ABS untuk dijajal.

Awalnya, karena awan yang cukup mendung, saya enggan melakukan pengetesan. Malas kalau tiba-tiba hujan, pikir saya. Namun cuaca berubah menjadi cerah. Saya pun berubah pikiran dan bergerak untuk menuntaskan rasa penasaran.

Sehari-hari saya menggunakan motor All New Honda Vario 150 eSP. Nah, mesin yang sama digunakan oleh PCX lokal. Saya penasaran apakah performa mesin yang sama akan terasa sama pada motor dengan desain yang berbeda.

Apalagi tak sedikit yang menyatakan bahwa PCX baru tersebut hanyalah Vario 150 yang ganti baju.

Mesin yang digunakan itu berkapasitas 149,3 cc, 4-tak, SOHC, PGM-Fi, eSP, idling stop system, dengan pendingin cairan.

Spesifikasi itu sedikit lebih kecil dibandingkan PCX 150 impor (completely built up/CBU) dari Vietnam yang menggunakan mesin 152,9 cc.

Ada dua area yang disediakan oleh AHM, letaknya pun saling berdampingan. Pada area itu terdapat beberapa marka cone sebagai pembatas wilayah pengetesan, dan rujukan lajur yang akan dilintasi.

Walau hanya menjajal lintasan berpermukaan aspal campur beton, namun alur yang disajikan cukup beragam. Ada trek lurus, tikungan tajam, putar balik, zig-zag, hingga marka kejut (polisi tidur). Lagi pula, sepertinya takkan ada yang akan membawa PCX ke jalur offroad.

Kesemuanya itu, menurut AHM, disediakan agar para penguji PCX bisa memaksimalkan semua fitur yang terdapat pada motor yang dibanderol Rp27,7 juta (versi CBS) dan Rp30,7 juta (versi ABS) untuk wilayah Jakarta itu.

Ergonomi

Saya menuju tenda paling ujung dari empat tenda yang disediakan. Pada tenda itu, tersedia kelengkapan berkendara, seperti jaket, pelindung siku dan lutut, serta helm, yang langsung saya kenakan.

Lalu saya memilih unit PCX berwarna putih dari empat warna yang disediakan untuk dijajal. Saya pun langsung duduk di atas jok setinggi 76 cm dari permukaan aspal itu.

Dengan tinggi badan 167 cm, kaki saya sedikit jinjit, padahal harusnya tidak. Saya memperkirakan, hal itu terjadi karena jok PCX terbilang lebar sehingga kaki mesti agak mengangkang. Namun begitu, posisi setang pas bagi saya--tak terlalu jauh dan tak terlalu dekat.

Leburan krom pada setang, menurut saya, membuat PCX tampil lebih mewah. Spidometer full digital pada dasbor cukup mudah saya pantau. Pijakan kaki pun cukup lega. Mau kaki ditekuk atau selonjor, sama nyamannya. Hal yang tak saya rasakan saat mengendarai Vario.

Saya kemudian menggenjot motor untuk mengetahui kenyamanan suspensinya. Ternyata suspensi belakang PCX terasa lebih keras dibandingkan Vario milik saya.

Saya langsung memutar keyless searah jarum jam, hingga muncul ornamen biru dengan layar spidometer yang menyala cukup cerah. Tak menunggu lama, langsung saya pencet starter elektrik di panel sebelah kanan setang.

Suaranya cukup senyap berkat fitur ACG, lebih senyap dari Vario milik saya. Sebelum tancap gas, saya memandang sekeliling. Ada beberapa rekan jurnalis yang terlihat tengah mendokumentasikan motor di antara liukan motor yang sedang di uji.

Sejurus kemudian, para pengawas pun mempersilahkan saya tancap gas.

A post shared by M. Lulut (@luluthebat) on

Menjajal akselerasi dan manuver

Saya langsung puntir gas dan mencapai kecepatan 67 km/jam pada jarak sekitar 100 meter. Tidak terlalu mengesankan, memang, tetapi akselerasinya saya rasakan lumayan responsif.

Kemudian saya menikung setengah lingkaran ke arah kanan, dengan badan sedikit condong ke kanan, motor tak terasa limbung. Dilanjutkan dengan gerakan zig-zag. Bantingan motor kali ini terasa nyaman.

Sejurus kemudian saya dipaksa mengerem, karena ada marka kejut persis usai menikung. Dengan hanya menggunakan rem belakang, perlambatan motor cukup tepat sasaran.

Pada kasus yang sama, beberapa kali saya ulang. Bahkan menarik tuas rem lebih jauh, yang mengakibatkan motor agak melincir.

Pada satu kesempatan trek lurus, saya penasaran untuk menjajal keampuhan peranti ABS satu channel yang terpasang pada rem depan. Saya kebut motor hingga kecepatan 65 km/jam, lalu langsung menarik rem dalam-dalam.

Motor berhenti pada jarak 2 meter dari titik pengereman. Terbilang pakem dan tak terasa limbung saat direm mendadak seperti itu. Setidaknya jarak pengereman lebih pendek dari Vario yang saya gunakan.

Pendek kata, rem ABS ini berguna bagi pengendara saat dihadapkan pada situasi yang mengharuskan motor berhenti lebih cepat dengan tak membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Kesimpulan sementara

Waktu uji coba yang singkat ini membuat saya belum bisa mengetahui dan merasakan performa PCX yang sesungguhnya. Akan tetapi saya bisa menyatakan akselerasi dan performa motor ini lebih baik dari Vario 150 walau keduanya bermesin sama.

Selain itu, motor ini lebih nyaman saat dibawa menikung tajam. Sepertinya dimensi motor yang lebih lebar serta ban berukuran 100/80-14 (depan) dan 120/70-14 (belakang) adalah penyebabnya.

Keandalan rem ABS yang digunakan, saya yakin bisa membuat para pengendara lebih percaya diri memacu motor ini.

Kelebihan atau kekurangan lainnya dari motor ini baru bisa diketahui dalam pengujian yang lebih panjang.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR