ULASAN

Menjajal Xpander melalui jalur Semarang-Solo

Rombongan Mitsubishi Xpander Media Touring 2018 saat melintasi jalur menuju Ketep Pass, Magelang, Jawa Tengah, Minggu (4/3/2018).
Rombongan Mitsubishi Xpander Media Touring 2018 saat melintasi jalur menuju Ketep Pass, Magelang, Jawa Tengah, Minggu (4/3/2018). | MMKSI

Awal pekan ini (4-6 Maret 2018), saya berkesempatan untuk mencoba low multi-purpose vehicle (LMPV) terbaru dari Mitsubishi yang tengah naik daun, Xpander. Beritagar.id diundang mengikuti "Xpander Media Touring 2018" melalui jalanan Semarang hingga Solo, Jawa Tengah, dan saya ditugaskan memenuhi undangan tersebut.

Walau bisa mengemudi dan memiliki SIM, saya bukan wartawan spesialis otomotif. Sepanjang karier saya, ini adalah touring mobil kedua yang saya ikuti. Namun, karena Xpander banyak dibicarakan dan laris, saya penasaran ingin mencoba.

Memang sepertinya undangan test drive ini bisa dibilang terlambat karena mobil berkapasitas 7-penumpang tersebut telah mulai dijual sejak Oktober tahun lalu.

PT Mitsubishi Motor Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) menyatakan baru bisa memberi kesempatan kepada media untuk mencoba karena mereka fokus dulu untuk memenuhi pesanan yang terus mengalir.

Hingga sejak Oktober 2017 hingga Februari 2018, sudah lebih dari 55.000 orang memesan Xpander dan baru 27.000 dari pemesan tersebut yang sudah bisa menggunakannya di jalanan.

Angka penjualannya terus naik. Bahkan pada Januari, Xpander menempati peringkat kedua mobil terlaris di Indonesia dengan pengiriman 7.097 unit, hanya kalah dari Toyota Avanza (7.543 unit), "mobil sejuta umat" yang merajai jalanan Indonesia selama 14 tahun terakhir.

Dalam uji coba tersebut, saya mencoba dua tipe teratas, yaitu Sport dan Ultimate. Menurut MMKSI, dua tipe seharga masing-masing Rp242,2 juta dan Rp250,4 juta itu adalah varian terlaris, bukan versi termurah GLX yang dihargai Rp194,1 juta.

Mendarat di Bandara Ahmad Yani, Semarang, pada Minggu pagi (4/3), telah menunggu sembilan Xpander untuk dicoba. Setiap mobil diisi empat wartawan dan saya kebagian mobil nomor 9 yang bertipe Sport.

Ada lima tipe Xpander yang dijual di Indonesia, namun kelimanya menggunakan mesin yang sama, yaitu MIVEC DOHC 4 silinder, 16 katup, berkapasitas 1.500 cc berbahan bakar bensin.

Hanya tipe menengah, Exceed, yang memiliki pilihan transmisi manual atau otomatis. Ultimate dan Sport hanya bertransmisi otomatis, sementara GLX dan GLS hanya bertransmisi manual.

Ruang penumpang lega dan nyaman

Karena masih mengantuk, saya memilih mengawali perjalanan sebagai penumpang di barisan tengah. Inilah pengalaman pertama saya masuk ke dalam Xpander dan, sesuai dengan cerita beberapa teman, ruang penumpang tengah terbukti memang lega dan nyaman.

Penyebabnya, lebar mobil yang mencapai 1.750 mm menjadikan Xpander sebagai yang paling lega di kelasnya.

Kursi baris belakang sepertinya lebih baik ditempati anak-anak karena terasa sempit untuk orang dewasa, terutama yang tingginya di atas 165 cm. Tapi masalah kursi belakang ini terjadi di semua LMPV, termasuk Avanza yang saya gunakan sehari-hari.

Dua kantong udara dan ISOFIX--pengaman untuk anak dan bayi--juga menjadi standar di semua tipe. Selain itu ada 16 tempat penyimpanan barang, serta colokan USB dan pengisi daya 12 volt di setiap baris tempat duduk.

Bahan plastik mendominasi interior, tetapi pengerjaan yang rapi membuatnya tidak terlihat murahan.

Tipe Ultimate dan Sport menggunakan keyless operating system, jadi cukup menekan tombol untuk menyalakan atau mematikan mesin selama remote control ada di dekatnya.

Setelah acara seremoni sebentar, rombongan langsung bergerak ke luar bandara menuju jalan tol Semarang. Tujuan pertama adalah Kopeng Treetop Adventure Park, yang berjarak 69,3 km dari ibu kota Jawa Tengah tersebut.

Jalan tol Semarang memang tidak mulus. Getaran pada ban terasa hingga kabin, walau tak terlalu mengganggu. Pada poin ini, menurut saya, kondisinya sama dengan beberapa LMPV lain yang pernah saya coba.

Kabin yang kedap suara adalah salah satu jualan utama Mitsubishi Xpander. Memang, dibandingkan para pesaing di kelasnya, kabin Xpander adalah yang paling baik dalam meredam suara-suara dari luar. Kelasnya di sini, maksud saya, adalah LMPV. Jadi, jangan bandingkan dengan kekedapan suara pada mobil-mobil kelas atas.

Intinya, saya bisa mendengarkan musik yang diputar dengan jelas dan berbicara dengan rekan-rekan di samping dan di depan tanpa harus saling berteriak.

Setelah melalui jalan tol yang lurus, kami memasuki daerah Bawen dengan jalan yang naik-turun dan mulai berliku. Sebagai penumpang, kondisi mobil terasa stabil dan tak membuat saya mual saat berkelak-kelok.

Hill Start Assist amat membantu

Hill Start Assist dan kontrol traksi amat membantu di jalanan menanjak, berliku, serta licin seperti ini.
Hill Start Assist dan kontrol traksi amat membantu di jalanan menanjak, berliku, serta licin seperti ini. | MMKSI

Usai beristirahat dan makan siang di Kopeng, perjalanan diteruskan menuju Desa Cepogo, Kabupaten Boyolali, untuk mengunjungi sebuah galeri kerajinan tembaga.

Giliran saya untuk menyopir pun tiba. Saya memang sengaja memilih untuk menyetir di jalur ini karena ingin mengetahui kinerja Xpander pada jalanan pegunungan yang berliku melalui Ketep Pass. Turunnya hujan membuat perjalanan lebih menantang.

Rasa duduk di bangku pengemudi, saya rasa sama saja dengan LMPV lain. Keistimewaannya adalah panel petunjuk kecepatan, putaran mesin, dll., lebih jelas dan nyaman dilihat karena menggunakan layar dengan kontras warna tinggi.

Perjalanan dalam satu rombongan yang beriringan memang tak memungkinkan kami untuk menguji hingga maksimal kemampuan mesin 1,5 liter MIVEC bertenaga maksimal 103,5 hp ini di jalur pegunungan.

Namun mesin bisa dibilang responsif menanggapi pijakan pedal gas dan perpindahan gigi pada transmisi otomatis 4-percepatan terasa mulus. Semua tanjakan bisa dilalui dengan relatif mudah walau menggunakan transmisi pada posisi D. Namun akan lebih aman memasukkan transmisi pada posisi di bawah--L, 1, atau 2--jika macet di tanjakan.

"Kami sengaja memilih jalur touring bervariasi seperti ini untuk menunjukkan performa Xpander pada segala medan," kata Kepala Penjualan dan Pemasaran MMKSI, Imam Choeru Cahya.

Kickdown terasa lambat, tetapi karena ini adalah mobil keluarga, bukan mobil balap, saya pikir itu bukan masalah besar. Saya teringat perkataan Rifat Sungkar--pereli nasional dan duta jenama Mitsubishi--kepada rekan saya ketika memperkenalkan Xpander tahun lalu.

"Emang mau seberapa kenceng lo mau bawa ini mobil? Ini mobil keluarga, man," kata Rifat, yang ternyata sudah menunggu di Solo untuk ikut dalam tur media ini.

Fitur lain yang membantu di jalanan penuh tanjakan seperti ini adalah hill start assist--hanya tersedia di versi Ultimate dan Sport. Hill Start Assist membuat mobil tetap tak bergerak selama beberapa detik setelah rem dilepas. Saya bisa lebih santai saat memindahkan kaki dari rem ke gas untuk menjalankan mobil setelah berhenti di tanjakan.

Setir terasa mantap saat melibas tikungan tajam dan bodi tidak limbung. Active Stability Control (ASC) dengan Traction Control Logic (TCL) pada varian Sport ini berfungsi dengan baik.

Konsumsi bahan bakar selama melalui jalan pegunungan tersebut, seperti yang saya lihat di layar dasbor, mencapai sekitar 8,3 km/liter. Sementara di jalan datar bisa mencapai 10,6 km/liter pada kecepatan konstan sekitar 60 km/jam.

Oh ya, mungkin Anda sudah mendengar adanya keluhan soal idle up--saat putaran mesin mendadak meninggi lebih dari normalnya--pada Xpander. Namun saya tidak mengalami itu pada mobil yang saya kendarai.

Sedikit masalah yang saya alami adalah menyesuaikan gaya dan cara menyetir dengan mobil yang berbodi lebih lebar dari yang biasa saya gunakan. Beberapa kali ban kiri mobil ke luar dari jalur saat berpapasan dengan mobil lain di jalanan pegunungan yang relatif sempit. Namun saya pikir hal ini hanya masalah kebiasaan saja.

Perjalanan sejauh 155 km tersebut berjalan lancar dan kami tiba di Solo pada sekitar pukul 20.00 WIB, lalu beristirahat.

Pada hari kedua, saya mendapat giliran pertama menyopir untuk berkeliling Kota Solo. Varian yang digunakan berganti menjadi Ultimate, versi paling mewah saat ini.

Dari segi pengendalian dan performa mesin, tak ada perbedaan dengan Sport. Hanya saja parkir jadi lebih mudah karena Ultimate dilengkapi dengan kamera belakang. Joknya juga terasa lebih lembut dan empuk, serta layar sentuh pada konsol entertainment.

Value for money

Bagian belakang Mitsubishi Xpander
Bagian belakang Mitsubishi Xpander | MMKSI

Setelah mencoba dua tipe berbeda dalam dua hari walau sebentar, saya berkesimpulan Mitsubishi Xpander adalah produk value for money. Harganya sebanding dengan fitur dan kenyamanan yang ditawarkan.

Bahkan, menurut saya, inilah mobil terbaik di kelasnya saat ini. Terutama terasa pada dua versi termahal, yaitu Sport dan Ultimate.

Walau demikian, seperti dikatakan seorang rekan wartawan, Xpander harus membuktikan diri sebagai sebuah kendaraan yang bisa diandalkan dan tidak rewel. Ketangguhan sebuah kendaraan biasanya baru benar-benar teruji setelah mobil dijalankan sejauh minimal 50.000 km.

Jika pada saat itu tidak ada keluhan dan kerusakan berarti, maka value for money tadi baru benar-benar terbukti.

Layanan purnajual juga butuh pembuktian. Salah satu alasan kenapa Toyota bertahan menjadi merek mobil terlaris di Indonesia adalah kemudahan para pelanggan untuk memperbaiki mobil jika mendadak rusak di jalanan.

Nyaris semua montir, baik bengkel besar maupun kecil, memahami cara memperbaiki mesin mobil Toyota, terutama tipe terlaris seperti Avanza dan Kijang.

Imam Choeru Cahya, menyatakan mereka memahami hal itu. Oleh karenanya mereka terus menambah jumlah diler dan bengkel di seluruh Indonesia, yang saat ini jumlahnya mencapai 115 di seluruh Indonesia. Target mereka adalah mencapai jumlah 143 gerai pada 2019.

Terakhir, yang menurut saya tak kalah penting, Mitsubishi harus mengganti klakson Xpander tanpa mempengaruhi harga. Tak pantas rasanya sebuah mobil berdesain gagah tapi klaksonnya berbunyi seperti itu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR