Menyoal mobil mewah pakai data palsu

Ilustrasi mobil mewah.
Ilustrasi mobil mewah. | Windu_dolan /Shutterstock

Kasus penunggak pajak dengan memalsukan data kepemilikan mobil mewah kembali terjadi. Bagaimana hal ini bisa sampai terjadi? Mari menyelisik.

Di Mangga Besar, Jakarta Barat (28/1), satu keluarga mengaku kaget dan bingung saat disambangi petugas karena tercatat sebagai pemilik mobil mewah. Padahal, mereka cuma tinggal di gang sempit selebar 1,2 meter tanpa lahan parkir.

Awalnya petugas datang untuk menagih tunggakan dan denda pajak Bentley Continental GT yang tercatat dimiliki Zulkifli, sang anak. Pajak senilai lebih dari Rp108 juta itu tidak dibayar sejak September 2018. Tak tahunya sang ibu juga tercatat memiliki Toyota Harrier, dan sang ayah memiliki Mercedes-Benz.

Kasus serupa pada Desember 2018 juga pernah menimpa Ilham, seorang buruh serabutan yang tercatat memiliki Ferrari.

Usut punya usut, rupanya keluarga itu maupun ilham sama-sama korban pemalsuan dokumen kepemilikan mobil oleh oknum tak bertanggung jawab. Caranya sama. Data mereka diduga dipalsukan dari KTP yang diminta dengan modus pemberian sembako, atau hilang dicuri.

Menurut Elling Hartono, Kepala Unit Pelayanan PKB dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) Kota Administrasi Jakarta Barat, penyebab pemalsuan identitas ini karena tidak adanya penyaringan atau regulasi khusus saat pendaftaran kendaraan baru.

“Jadi mau itu beli motor atau mobil mewah seharga berapa pun tidak ada bedanya, registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor (Regident) cuma butuh fotocopy KTP saja. Kecuali saat nanti perpanjangan tahunan wajib melampirkan aslinya," ucapnya.

“Banyak kasus juga yang dia beli mobil bekas tidak langsung balik nama, dan ketika mau membayar pajak malas sampai akhirnya menunggak. Padahal ketika ditelusuri alamatnya itu tidak sesuai dengan pemilik sebelumnya," tambah Kasubdit Regident Polda Metro Jaya, AKBP Sumardji.

Akibat regulasi yang terkesan memudahkan itu, lanjut Elling, para pemilik asli yang enggan bertanggung jawab semacam mendapat celah untuk menyiasati menghindari bayar pajak. Salah satunya dengan memalsukan identitas.

Pertanyaannya, kenapa pemilik mobil mewah yang notabene tergolong orang kaya memilih memalsukan identitas demi menghindari bayar pajak?

Menurut Elling jawabannya ada dua dan terkait fenomena masyarakat perkotaan. Pertama, boleh jadi karena mereka malas dan enggan merugi. Kedua, karena mereka sesungguhnya tidak siap kaya.

Sebagai gambaran, pajak mobil mewah memang sangat mahal, meskipun besarannya akan berbeda tergantung jenis kendaraan, kubikasi, harga, dan banyak lagi.

Di Indonesia, suatu mobil dikatakan mewah alias tergolong supercar jika kapasitas mesinnya mencakup 3.000-5.000 cc. Ini termasuk mobil impor utuh atau Completely Built Up (CBU). Oleh sebab itu, pajak yang dikenakan bukan hanya Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), tapi juga Pajak Penghasilan (PPh) impor.

Menukil GridOto, untuk supercar sepantaran McLaren 570S, nominal pajak yang harus dibayar per tahun (PKB) bisa setara bayar pajak motor Kawasaki ZX130 keluaran tahun 2005 selama 600 tahun lebih. Yakni sekitar Rp77 juta. Bahkan jika ditotal dengan perhitungan angka Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) bisa seharga beli rumah.

Meski begitu, sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Derajad S Widhyharto punya pendapat lain. "Dari sosiologi konsumsi, dari segi sosiologi perkotaan, itu fenomena orang tidak siap menjadi kaya sebenarnya,” tutur Derajad.

Dalam kajian sosiologis, kata Derajad, kekayaan adalah status. Ketika kekayaan menjadi status, maka otomatis akan ada konsekuensi yang harus diterima. “Salah satunya membayar pajak itu secara aturan hukumnya," paparnya.

Menanggapi fenomena semacam ini, AKBP Sumarji dan Faisal Syafruddin, Pelaksana Tugas Kepala Badan Pajak dan Retribusi DKI Jakarta, sama-sama mengimbau masyarakat untuk tidak sembarangan memberi dan menolak meminjamkan KTP sekalipun kepada orang dikenal, agar tidak disalahgunakan membuat STNK.

Di samping itu, Elling juga menegaskan bahwa pemilik mobil mewah yang berbuat culas sebaiknya jangan merasa lega lebih dulu. Sebab, bila ketahuan, pihaknya akan segera melakukan pemblokiran nomor kendaraan sehingga surat kendaraan otomatis tidak aktif.

Artinya, kendaraan tidak lagi memiliki surat sah alias bodong. Ini sesuai yang tertera dalam undang-undang no.22 Tahun 2009 pasal 74 ayat (2) tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, dan teknisnya diatur dalam Perkap (Peraturan Kapolri) Nomor 5 tahun 2012 tentang Registrasi dan Identifikasi Kendaraan Bermotor.

Dengan demikian, selain kendaraan jadi tidak memiliki nilai jual selayaknya, pemilik mobil mewah pun bisa ditindak sesuai pasal 260 ayat (1) UU 22/2009 jika sampai melakukan pelanggaran di jalan Tindakan dimulai dari pemeriksaan lebih lanjut, penyitaan surat-surat ataupun kendaraan, hingga penahanan.

Adapun untuk mendapatkan surat kendaraan atau mengaktifkan kembali STNK, penunggak pajak itu mau tak mau harus menunjukkan jati diri guna membuka dari awal dan melakukan proses balik nama.

Itu pun masih wajib membayar satu persen dari nilai jual kendaraan bermotor (NJKB), lalu diakumulasi dengan pajak terutangnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR