Prius, salah satu mobil hibrida andalan Toyota
Prius, salah satu mobil hibrida andalan Toyota Andreas Yemmy / Beritagar.id
GIIAS 2019

Menyongsong era mobil listrik di Indonesia

Jalan panjang menuju era kendaraan listrik akan segera berakhir seiring dengan regulasi yang akan diterbitkan oleh pemerintah dalam waktu dekat.

SPONSOR: Asuransi Astra

Mobil listrik tengah menjadi topik perbincangan hangat. Pasalnya, pemerintah sedang mempersiapkan sekaligus mengakselerasi pengembangan kendaraan listrik di Indonesia.

Ihwal komitmen dan kesiapan pemerintah tersebut dipertegas oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla saat memberikan sambutan dalam acara pembukaan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019 di Indonesia Convention Exhibition, BSD City, Tangerang Selatan (18/7).

"Peraturan Pemerintah (PP) terkait regulasi kendaraan listrik sudah disiapkan. Masih menunggu, tapi tahun ini akan diselesaikan," ujar Jusuf Kalla.

Senada dengan Jusuf Kalla, Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa persiapan kendaraan listrik sedang dikebut. Pemerintah menargetkan 20 persen mobil yang beredar di Indonesia pada tahun 2025 adalah mobil listrik.

Tidak hanya itu, Menperin menegaskan bahwa pemerintah juga siap memfasilitasi perusahaan asing yang ingin menanamkan modalnya di sektor kendaraan listrik dengan menghadirkan kebijakan pembebasan pajak atau tax holiday.

"Proses negosiasi dengan berbagai negara sedang berlangsung. Pemerintah siap memberikan tax holiday bagi perusahaan yang ingin berinvestasi, terutama di bidang pembuatan baterai," tuturnya.

Peraturan Pemerintah terkait kendaraan listrik nantinya hanya akan mengatur kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV). Sedangkan untuk kendaraan listrik jenis hybrid dan plug-in hybrid tidak dimuat dalam peraturan tersebut.

Tingkat kandungan lokal dalam negeri (TKDN) yang mengikat untuk industri kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBL) dan komponen pendukungnya akan diatur dengan jelas dalam Peraturan Pemerintah tersebut nantinya. Tujuannya agar industri KBL tumbuh pesat sekaligus mendorong perekonomian nasional.

Pada tahap awal, mobil listrik wajib memiliki kandungan TKDN minimal 35 persen (2019-2021), kemudian ditingkatkan menjadi 40 persen (2021-2023), dan minimal 60 persen pada periode selanjutnya (2023-2025). Targetnya, pada tahun 2025 nanti seluruh mobil listrik yang dipasarkan di Tanah Air mengandung 80 persen komponen lokal.

Mengintip kesiapan APM menghadapi aturan mobil listrik

Menanggapi aturan mobil listrik yang sedang digarap serius oleh pemerintah, sejumlah Agen Pemegang Merek (APM), seperti Toyota Astra Motor (TAM), BMW Group Indonesia, dan Astra Daihatsu Motor (ADM), antusias menyambut rencana pemerintah untuk menerbitkan peraturan terkait kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Namun, ketiganya menyatakan masih melihat dan menunggu perkembangan regulasi yang akan dibuat oleh pemerintah. Meski begitu, TAM menjadi salah satu APM yang sudah mempersiapkan diri sejak jauh hari dalam menghadirkan kendaraan ramah lingkungan lewat teknologi hybrid.

Toyota mengawali perjalanan mobil hybrid di Indonesia sejak satu dekade silam melalui Prius yang dipasarkan tahun 2009. Seiring berjalannya waktu, TAM menambah jajaran mobil bermesin hybrid lain melalui lini produk Alphard Hybrid, Camry Hybrid, dan yang teranyar, CH-R Hybrid yang baru diperkenalkan awal tahun ini.

Dimas Aska, Head of Media Relation Toyota Astra Motor
Dimas Aska, Head of Media Relation Toyota Astra Motor | Andreas Yemmy /Beritagar.id

Menurut Head of Media Relation TAM Dimas Aska, hadirnya produk-produk kendaraan hybrid tersebut dapat menjadi jembatan transisi sebelum Indonesia masuk sepenuhnya ke era mobil listrik. Sehingga, masyarakat dapat merasakan teknologi yang lebih ramah lingkungan sambil menunggu regulasi dan infrastruktur pendukung mobil listrik rampung.

“Pada dasarnya kami sejalan dengan apa yang diinginkan pemerintah yang saat ini mengarah ke teknologi ramah lingkungan. Perlahan tapi pasti kita akan menuju ke sana,” kata Dimas Aska dalam wawancara khusus dengan Beritagar.id di hall Toyota, ICE, BSD City, Tangerang Selatan (18/7).

Menurutnya, usaha TAM untuk memperkenalkan kendaraan ramah lingkungan menunjukkan tren positif. Penjualan pada periode 2012–2018 yang rata-rata hanya 14 unit per bulan, mengalami peningkatan signifikan pada semester pertama 2019 yang membukukan angka 65 unit per bulan. Hasil ini boleh dikatakan sebagai buah dari edukasi berkesinambungan dan juga dukungan pemerintah yang semakin serius dalam menghadirkan kendaraan ramah lingkungan.

Selaras dengan yang dilakukan oleh TAM, BMW Group Indonesia yang juga berada dalam naungan Astra International, telah menghadirkan kendaraan listrik di Indonesia yang diperkenalkan pada GIIAS 2018 melalui BMW seri i8 roadster dan BMW seri i3s di GIIAS 2019.

Keseriusan BMW Group Indonesia juga ditunjukkan dengan hadirnya dua dealer khusus untuk menangani mobil listrik yang sudah dipasarkan, sehingga konsumen BMW tidak perlu khawatir mengenai perawatan dan perbaikan kendaraan listrik yang dibeli.

“BMW Indonesia memasarkan dua model kendaraan listrik yaitu BMW i3s dan juga BMW i8 yang mengusung teknologi hybrid. Untuk i8 ada dua tipe bodi, yakni coupe dan roadster. Selain itu, kami juga sudah punya dua dealer khusus kendaraan listrik yaitu BMW Astra Serpong dan BMW Tebet," ujar Corporate Communications BMW Group Indonesia, Ismail Ashlan.

Jika TAM dan BMW Group Indonesia sudah menjembatani konsumen mereka menuju mobil listrik melalui mobil hybrid, strategi berbeda dilakukan oleh Astra Daihatsu Motor (ADM) yang belum memasarkan kendaraan ramah lingkungan berbasis listrik di Indonesia dengan memperkenalkan teknologi hybrid lewat unit mobil konsep Daihatsu HYFun di GIIAS 2019.

Nama HYFun merupakan gabungan kata dari Hybrid dan Fun. Menurut Satriyo Budiutomo, Product Planning Department Head Research & Development ADM, Daihatsu HYFun merupakan mobil hybrid masa depan yang mengincar segmen anak muda dengan desain futuristik.

“HYFun akan menjadi mobil yang digemari anak muda berkat desain SUV berpenampilan sporty. Meski mobil ini dirancang seperti SUV namun memiliki fungsi seperti MPV sehingga tetap akomodatif, sesuai dengan karakter anak muda yang senang bepergian bersama-sama," ungkap Satriyo.

Bila ditanya mengenai kesiapan teknologi hybrid, ADM menyatakan siap untuk menerapkan mesin hybrid dalam mobil Daihatsu di masa yang akan datang sambil menunggu kepastian regulasi dari pemerintah. Di satu sisi, ADM juga terus melakukan riset terkait manpower planning (perencanaan tenaga kerja) untuk mengembangkan teknologi mesin listrik bagi konsumen Tanah Air.

Daihatsu HYFun, kendaraan konsep bermesin hibrida yang dipamerkan di GIIAS 2019
Daihatsu HYFun, kendaraan konsep bermesin hibrida yang dipamerkan di GIIAS 2019 | Andreas Yemmy /Beritagar.id

Tantangan menghadirkan mobil listrik di Indonesia

Dalam mewujudkan cita-cita penggunaan mobil ramah lingkungan di Indonesia, sejumlah tantangan tentu harus dihadapi oleh pemerintah dan APM, misalnya saja ihwal infrastruktur dan perpajakan. Beruntung, dari tahun ke tahun, keseriusan pemerintah dalam mendukung kehadiran mobil listrik di Indonesia semakin terlihat nyata, salah satunya lewat rencana revisi pajak mobil listrik.

Terkait penerapan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), Kemenperin tengah melakukan pembicaraan dengan Dirjen Pajak untuk segera melakukan revisi PPnBM. Tujuannya agar mobil listrik harganya lebih terjangkau dan bisa diterima masyarakat luas.

Menurut Airlangga Hartanto, revisi tersebut sudah disetujui oleh parlemen sehingga tinggal menunggu pelaksanaannya. "Sudah tidak ada isu lagi, sudah disetujui di parlemen sehingga tinggal teknis saja," ujarnya saat mengunjungi GIIAS 2019 (18/7).

Pajak yang akan ditetapkan terhadap mobil listrik secara langsung akan memengaruhi harga jualnya di Indonesia. Saat ini, mobil listrik kurang diminati karena sudah tertanam mindset bahwa pajak mobil listrik mahal. Meski begitu, BMW Group Indonesia optimis kehadiran mobil listrik bisa disambut lebih baik jika pemerintah menerapkan kebijakan pajak yang sama seperti di luar negeri.

"Melihat negara-negara lain yang memiliki perkembangan kendaraan listrik yang cukup pesat, mereka rata-rata menerapkan emission based tax. Jadi, jika pajak berdasarkan emisi tersebut diterapkan juga di Indonesia, saya yakin perkembangan kendaraan listrik semakin pesat," tutur Ismail Ashlan dari BMW Group Indonesia.

Tantangan lain yang dihadapi APM adalah meluruskan salah kaprah terkait biaya servis mobil listrik yang dikatakan lebih mahal jika dibandingkan dengan mobil konvensional. Hal ini diungkapkan oleh Dimas Aska dari Toyota Astra Motor.

"Kita ambil contoh CH-R konvensional dan hybrid. Harga jualnya hanya selisih 30 juta. Sedangkan biaya perawatannya selama lima tahun hanya selisih Rp21.000,- yang artinya hampir tidak ada selisih," ujar Dimas.

Menyongsong era mobil listrik di Indonesia /Beritagar ID

Melihat optimisme dan kesiapan dari para APM, mewujudkan mobil listrik sebagai kendaraan masa depan yang ramah lingkungan di Indonesia rasanya tinggal selangkah lagi, hanya menunggu ketuk palu terkait regulasi dari pemerintah. Sudah siapkah Anda memasuki era mobil listrik dalam waktu dekat?

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR