EMISI KENDARAAN

Mulai September 2018, mobil baru harus berstandar emisi Euro-4

Ilustrasi mobil baru dalam sebuah pameran otomotif.
Ilustrasi mobil baru dalam sebuah pameran otomotif. | Mustafa Iman /Beritagar.id

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Putu Juli Ardika, mengingatkan bahwa terhitung sejak bulan September 2018 manufaktur mobil di Indonesia harus segera menutup kegiatan produksi kendaraan dengan standar emisi Euro-2.

Itu artinya, model mobil baru dengan mesin bensin yang diproduksi di Indonesia sudah harus mengacu pada standar emisi Euro-4. Sementara untuk kendaraan bermesin diesel baru diterapkan pada 2021.

Euro adalah standar emisi gas buang yang diterapkan pada kendaraan--roda dua, empat, atau lebih--yang beredar di Eropa. Tetapi pada perkembangannya standar ini juga ditetapkan di negara-negara lain, terutama eksportir produk otomotif.

Semakin tinggi angkanya, semakin ketat standar yang diterapkan terkait kandungan minimal gas karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (NOx), karbon monoksida (CO), volatile hydro carbon (VHC) dan partikel lain yang berdampak negatif pada manusia atau lingkungan jika melebihi ambang batas tertentu.

Saat ini pemerintah Indonesia menetapkan standar emisi Euro-2 untuk kendaraan yang beredar di jalan. Kini mereka tengah mempersiapkan untuk meningkatkan standar langsung ke Euro-4 tanpa melalui Euro-3 lebih dulu.

"Jadi gini, saat ini manufaktur kan memiliki dua jalur produksi, yaitu Euro-2 untuk pasar domestik dan Euro-4 untuk pasar ekspor. Nantinya, jalur-jalur itu akan disamaratakan ke Euro-4," kata Putu, Rabu (18/7/2018), di Jakarta.

Namun begitu, ia mengatakan pemerintah masih memberikan kelonggaran terkait produsen atau manufaktur untuk menghabiskan masa produksi kendaraan yang masih berspesifikasi Euro-2.

Kebijakan soal Euro-4 tertuang dalam Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P. 20/ MENLHK/ SETJEN/ KUM. 1/3/ 2017, tentang baku mutu emisi gas buang kendaraan bermotor tipe Euro-4.

Aturan itu menyatakan bahwa jenis kendaraan tipe baru dengan kategori M (angkutan orang), N (angkutan barang), dan O (kendaraan bermotor gandengan atau tempel), sebagai tipe kendaraan yang wajib menerapkan standar emisi Euro-4.

Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Karliansyah, menjelaskan pada April lalu, aturan itu mutlak berlaku pada 18 bulan sejak ditandatangani Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (MLHK), Siti Nurbaya Bakar, pada Maret 2017.

Sementara untuk kendaraan diesel, berlaku 48 bulan ke depan (2021).

Mengenai sanksi bagi para pelanggar, Karliansyah menyatakan bahwa permen itu memang tidak mengatur mengenai sanksi.

"... hanya saja pernyataan yang tertera adalah perintah atau amanah dari Peraturan Pemerintah, dan juga itu amanah dari Undang-undang. Artinya kalau melanggar, sanksinya tentu menurut undang-undang," ujar Karliansyah.

Beberapa manufaktur pun mengaku telah siap menerapkan aturan itu. Wuling, Toyota, dan Mitsubishi, bahkan mulai menyiapkan kenaikan harga produk terkait aturan itu.

“Meskipun naik, tetapi kami pastikan tidak terlalu signifikan. Masih bisa terjangkau oleh konsumen," kata Henry Tanoto, Vice President Director Toyota Astra Motor (TAM), dalam Motoris.id.

Jenama Jepang lain, Mitsubishi Motor Kramayudha Sales Indonesia (MMKSI), melalui Direktur Penjualan dan Marketing Divisi MMKSI, Irwan Kuncoro, mengatakan bahwa MMKSI telah menambah investasi untuk mengikuti regulasi tersebut.

"...Tidak hanya Xpander tapi semua produk kami harus menyesuaikan dengan aturan," tegas Irwan, menukil CNN Indonesia.

Sementara Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Yohanes Nangoi, mengabarkan bahwa para anggotanya secara umum telah siap dalam mengikuti regulasi tersebut.

Bahkan dalam pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2018, yang akan berlangsung pada 2-12 Agustus 2018, di ICE BSD, Tangerang, Banten, Gaikindo akan mendeklarasikan kick off terkait kendaraan beremisi Euro-4 yang akan dijual di Indonesia.

Beberapa produsen bahkan telah siap untuk meluncurkan kendaraan baru dengan spesifikasi mesin Euro 4 pada pameran tahunan tersebut.

Namun sebelumnya, seperti pernah diungkap Sekjen Gaikindo, Kukuh Kumara, Gaikindo meminta kepada pemerintah untuk memberikan kelonggaran terkait regulasi Euro-4 untuk kendaraan niaga/komersial.

“Terkait jenis mobil tersebut (komersial), kami sudah meminta perpanjangan pemberlakuannya sebelum aturan Euro-4 dikeluarkan, dan pemerintah menyetujui. Sehingga untuk tipe-tipe kendaraan komersial baru akan berlaku pada April 2019,” kata Kukuh dalam Kompas.com.

Gaikindo berharap, keselarasan distribusi mobil yang sudah menggunakan standar emisi Euro-4 dapat diimbangi dengan pendistribusian bahan bakar--dengan spesifikasi serupa di seluruh Indonesia.

Menjawab pertanyaan tersebut, Deny Djukardi, Commercial Retail Fuel Marketing Manager Pertamina, dalam GridOto, mengatakan saat ini ada dua bahan bakar yang sudah memenuhi syarat Euro-4, yaitu Pertamax Turbo dan Pertamax (RON 92-95).

Terkait keraguan Gaikindo terkait pemerataan distribusi, saat ini Pertamina berupaya akan akan memperluas pasar Pertamax Turbo.

Gaikindo juga menyoroti soal penggunaan bahan bakar diesel B20-B30 yang saat ini sedang digenjot pemerintah. Pengujian terkait bahan bakar itu, kata Nangoi, juga harus mengacu kepada standar emisi Euro-4.

Ia mengatakan bahwa BBM Biodiesel B20 bahkan tidak sesuai standar Euro-2, yang merupakan standar pemerintah saat ini. "...Kalau nanti Euro-4, harus lebih hati-hati karena lebih sensitif mesinnya," ujar Nangoi dalam CNBC Indonesia.

Bagaimana dengan sepeda motor?

Saat ini sebagian besar sepeda motor yang dijual di Indonesia sudah menggunakan mesin dengan standar emisi Euro-3. Oleh karena itu tahun lalu Kementerian LHK menyatakan pemerintah telah memiliki modal yang kuat untuk menyusun Euro-4 bagi sepeda motor.

Direktur Pengelolaan Udara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Dasrul Chaniago, dikuti Bisnis.com (1/11/2017), menjelaskan pemerintah tinggal mengadopsi dan mengubah poin-poin tertentu.

Sementara dari pihak manufaktur, Marketing Director PT Astra Honda Motor (AHM), Thomas Wijaya, mengatakan bahwa meskipun sepeda motor Honda sekarang masih standar Euro-3, namun sudah dapat 'meminum' bahan bakar berspesifikasi Euro-4.

"Sebenarnya tidak masalah karena masih compatible. Ya, kita akan menyesuaikan regulasi yang ditetapkan pemerintah," kata Thomas dalam DetikOto.

Senada dengan Thomas, saat masih menjabat sebagai GM Aftersales & Public Relation Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) tahun lalu, Muhammad Abidin, pernah mengatakan kepada Beritagar.id, bahwa pihaknya sudah menyusun rencana jika peraturan tersebut diberlakukan untuk sepeda motor.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR