Penjualan motor turun, skutik masih meraja

Honda BeAT eSP masih merajai penjualan sepeda motor di Indonesia pada periode Januari-Agustus 2017.
Honda BeAT eSP masih merajai penjualan sepeda motor di Indonesia pada periode Januari-Agustus 2017. | Astra Honda Motor

Pasar sepeda motor di Indonesia tengah lesu. Angka penjualan sepanjang Januari-Agustus 2017, menurut data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) turun 3,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu--dari 3.939.469 unit pada 2016 menjadi 3.793.637 unit tahun ini.

Walau demikian, masih ada secercah harapan bagi industri motor Indonesia. Pasalnya, 554.923 unit kendaraan roda dua yang terjual sepanjang Agustus 2017 berarti kenaikan 3,1 persen dibandingkan pada Juli 2017 yang mencapai 538.176 unit.

Angka tersebut juga lebih besar 5,2 persen dibandingkan 527.536 unit yang laris pada Agustus 2016.

Jumlah penjualan di atas setengah juta unit dalam satu bulan tersebut baru tiga kali terjadi sepanjang delapan bulan terakhir. Selain Juli dan Agustus, satu lagi terjadi pada Mei ketika 531.496 unit laku terjual.

Bulan-bulan lainnya berada di kisaran 400 ribu unit, bahkan sempat di bawah 390 ribu unit pada April dan Juni.

Varian skuter matik (skutik) masih menjadi yang paling diminati oleh para pemotor di Nusantara. Hingga Agustus 2017, skutik menguasai 81,38 persen pasar lokal, disusul motor sport (9,97 persen) dan bebek (8,64 persen).

Kemudahan pengendalian, pengoperasian, dan perawatan menjadi alasan utama mengapa motor kecil dengan transmisi otomatis tersebut selalu menjadi jawara di pasar sejak nyaris 10 tahun terakhir.

Oleh karena itu tak heran jika dari kelima anggota AISI--Honda, Yamaha, Suzuki, Kawasaki, dan TVS--hanya Kawasaki yang tidak menjual skutik di Indonesia, walau tahun lalu sempat digosipkan segera mendatangkan J125.

Dalam wawancara dengan Otospirit General Manager Marketing Division PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI), Kazuya Ikebuchi, menyatakan harga skutik produksi mereka terlalu mahal jika dijual di Indonesia. J125, misalnya, akan berbanderol di atas Rp50 juta.

"Ini sangat tidak masuk akal ketika skutik-skutik tersebut dipasarkan di Indonesia. Terlalu mahal," papar Ikebuchi, walau ia tak menampik KMI akan terus mempelajari kemungkinan dan peluang untuk meluncurkan skutik di Indonesia.

Dari banyaknya varian yang beredar di Indonesia, skutik dengan mesin 110 cc mendominasi dengan pangsa pasar mencapai 53,78 persen. Berdasarkan data AISI tampak bahwa semakin besar mesin yang digunakan sebuah skutik, semakin menurun angka penjualannya.

PT Astra Honda Motor (AHM) menguasai 78,67 persen pasar dengan jumlah penjualan mencapai 2.428.882 unit sejak Januari hingga Agustus 2017. Yamaha ada di peringkat kedua (21,05 persen), lalu Suzuki (0,27 persen), dan TVS (0,01 persen).

Raja skutik di Indonesia saat ini, siapa lagi kalau bukan generasi ketiga Honda BeAT, yaitu BeAT eSP.

Sejak pertama diperkenalkan di Indonesia pada 2008, skutik berkapasitas mesin 110 cc itu langsung menguasai pasar nasional, hingga saat ini. Pada Februari 2016, penjualan semua varian BeAT di Indonesia sejak 2008 mencapai angka 10 juta unit.

Makoto Dohi, assistant chief engineer Honda R&D Southeast Asia, Indonesia representative office, mengungkapkan rahasia kesuksesan BeAT.

Menurutnya, dalam wawancara dengan Okezone, hal yang mendasari kesuksesan tersebut adalah BeAT dirancang langsung oleh orang Indonesia yang mengetahui persis apa kebutuhan dan karakter konsumen di segmen ini.

Ukuran yang compact, desain yang menyasar anak muda, efisiensi bahan bakar (konsumsi bahan bakar BeAT eSP mencapai 63km/liter), dan harga yang relatif murah (Rp14,65 juta-Rp15,69 juta) menjadi empat faktor yang mendukung kepopuleran skutik tersebut.

Saat ini ada tiga varian BeAT yang tersedia di gerai-gerai AHM, yaitu BeAT eSP, BeAT Street, dan BeAT POP eSP.

Skuter-skuter Honda juga mendominasi lima besar skutik terlaris Januari-Agustus 2017. Seperti tampak pada grafik di atas, setelah BeAT ada Vario 125 eSP (392.492 unit), Scoopy FI/eSP (385.968), disusul New Vario 150 eSP (298.581).

Satu-satunya skutik non-Honda yang masuk lima besar adalah Yamaha Mio M3 CW yang laris 183.051 unit selama periode delapan bulan tersebut.

Dari tabel di atas tampak skutik berbanderol Rp15 juta-Rp17,5 juta mendominasi pasar dengan pangsa mencapai 55,7 persen, dua kali lipat lebih laris dari peringkat kedua yang ditempati skutik berharga Rp17,5 juta-Rp20 juta.

Jadi, dalam pasar skutik, harga murah tidak lantas menjamin produk tersebut bakal laris di pasaran. Lihat saja TVS Dazz yang hanya terjual 119 unit selama delapan bulan terakhir.

Kalah di skutik bermesin kecil, Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) menguasai pasar skutik berbodi besar (bongsor) dengan kapasitas mesin 150cc ke atas dan berharga di atas Rp20 juta.

Penguasanya adalah NMax. Penjualan skuter bermesin 155 cc ini mencapai160.841 unit. Yamaha Aerox (93.161 unit) ada di posisi kedua, disusul produk skutik premium Honda PCX 150 (4.400).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR