Pentingnya memahami 6 titik berbahaya saat berkendara

Ilustrasi pandangan pada kaca depan.
Ilustrasi pandangan pada kaca depan. | Fin La-Ji /Shutterstock

Anda berencana mudik dengan kendaraan pribadi? Sebaiknya jangan lupa meningkatkan kewaspadaan saat berkendara.

Beberapa hari terakhir, banyak media memberitakan terjadinya insiden pelemparan batu ke arah mobil pengguna jalan tol yang terjadi di ruas Jalan Tol Jakarta-Cikampek Km 6 arah Cikampek, Jawa Barat.

Menukil Tribun Jakarta, aksi pertama terjadi pada Selasa (5/6/2018) pukul 04.13 WIB. Insiden tersebut tak memakan korban jiwa, tetapi kaca mobil korban bagian depan pecah.

Selang beberapa menit kemudian, tepatnya pukul 04.18 WIB, aksi serupa terulang di lokasi yang sama.

"Sebongkah batu dilemparkan ke arah kaca depan pengguna jalan tol. Insiden kedua ini memecahkan kaca depan dan mengenai pengemudi," jelas Dwimawan Heru, AVP Corporate Communication PT Jasa Marga dalam keterangan tertulisnya, Jumat (8/6).

Pada insiden kedua tersebut, sambung Heru, bahkan sampai memakan korban jiwa.

“Korban segera dilarikan ke Rumah Sakit Umum Bekasi. Saat perjalanan menuju rumah sakit, korban masih bernafas dan dilakukan pertolongan. Sesampai di rumah sakit, korban dinyatakan meninggal di rumah sakit,” terang Heru.

Menanggapi kasus tersebut, Instruktur dan pendiri Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, mengatakan bahwa Anda sebagai pengemudi harus memahami setidaknya 6 titik potensi bahaya ketika berkendara.

"Umumnya, pengemudi mengantisipasi bahaya dalam jarak pandang depan, belakang, samping kanan dan kiri. Padahal ada 2 titik lagi yang harus diwaspadai, yakni atas dan bawah," terang Jusri pada Beritagar.id, Sabtu (9/6).

Selain harus piawai dalam berkendara, Jusri berpesan bahwa setidaknya Anda mawas dan dapat mengantisipasi hal-hal yang terjadi secara spontan.

"Bahaya tak dapat diprediksi, dapat datang dari titik mana saja. Kadang menabrak dari depan, terserempet dari samping, diseruduk dari belakang, terkena lobang jalan, dan yang terakhir bisa terjadi dari atas. Semisal tertimpa dahan pohon, papan reklame, atau seperti kejadian kemarin, ada batu meluncur dari atas," bebernya.

Selain memahami titik potensi bahaya yang mengintai ketika melajukan kendaraan, terlebih di jalan tol yang umumnya berkecepatan tinggi, Jusri juga menerangkan ada 3 hal yang harus Anda persiapkan, yakni antisipasi, waspada, dan berhitung.

Dibutuhkan kondisi fisik yang prima, fit, bugar, dan peka untuk mengaplikasikan tiga hal tersebut.

Peka yang dimaksud Jusri tak melulu Anda harus tegang dan memantau lingkungan, hingga kenyamanan dan rileks saat berkendara hilang. Namun, dalam berkendara Jusri mengistilahkan Anda seperti tengah memasuki ruang gelap yang harus sigap dan dapat mengantisipasi sekitar.

Antisipasi dalam berkendara seperti yang dikatakan Jusri juga tertuang dalam aturan berkendara yang tertuang dalam pasal 62 PP no. 43/1993 tentang Tata Cara Berlalu Lintas.

Pentingnya menjaga jarak antarkendaraan memberikan ruang atau waktu kepada Anda untuk refleks melakukan tindakan menghindar.

Kemudian waspada. Dalam berkendara, tentunya Anda akan melintasi berbagai medan dan infrastruktur jalan.

"Setiap medan yang dilalui, pasti ada potensi bahaya yang harus Anda waspadai," imbuhnya.

Ketika akan melintas terowongan misalnya, setidaknya selain konsentrasi penuh, disarankan Anda membunyikan klakson untuk memberikan tanda kepada objek di depan Anda.

"Dianjurkan juga untuk menurunkan kecepatan," ingatnya.

Dengan kewaspadaan tadi, setidaknya Anda telah awas dan sigap ketika tiba-tiba terjadi suatu insiden di depan Anda.

Terakhir adalah berhitung. Berhitung saat berkendara tak ubahnya mengukur serta menganalisis potensi bahaya.

Jadi, misal, ketika kendaraan Anda tengah dipacu pada dua lajur berlawanan tanpa pembatas. Kemudian, di depan Anda ada mobil dari arah berlawanan, maka Anda mulai harus berhitung tentang antisipasi serta timing yang harus Anda persiapkan, jika tiba-tiba mobil itu mengarah pada kendaraan Anda.

"Dengan berhitung, tentunya akan lebih sigap dan siap," ungkapnya.

Menakar bobot kendaraan

Hal terakhir dalam berkendara--terutama saat melakukan perjalanan jarak jauh--seperti ditutur Rifat Sungkar dalam Garduoto.com adalah dengan menakar bobot kendaraan Anda.

Sebab, bobot kendaraan akan memengaruhi manuver kendaraan saat melaju.

Rifat bilang, sebagian orang berpikir jika mobil yang digunakan sehari-hari sudah menjadi bagian dari kehidupan dan kebiasaan.

Dengan itu maka banyak yang menganggap mobil akan selalu siap digunakan untuk melakukan perjalanan ke luar kota, apalagi mobil tersebut baru berusia satu atau dua tahun.

"...Akan tetapi perlu disadari. Sifat perjalanan dalam kota dan luar kota saja sudah jauh berbeda. Jadi tidak bisa dipukul rata begitu saja,” pesan Rifat.

Ketika beban melebihi standar, sambung Rifat, tentunya akan memengaruhi berbagai komponen kendaraan. Pertama adalah suspensi yang tentunya akan terasa lebih keras dan tekanan ban yang mendapatkan beban berlebih.

Lalu, yang tak kalah penting adalah kemampuan kampas rem saat menahan putaran piringan cakram ketika mobil melaju dengan bobot yang cukup berat.

Oleh karena itu, Rifat menyarankan, akan lebih bijak jika Anda meluangkan waktu satu atau dua jam di rumah sebelum berangkat untuk mengecek, mempelajari, dan mengantisipasi sesuatu yang bakal terjadi di jalan.

Pastikan mobil Anda sudah diservis sebelum melakukan perjalanan mudik, guna memberikan jaminan mobil Anda selalu berjalan dengan performa terbaiknya.

Tak hanya itu, Anda juga harus mengecek kondisi mobil seperti mesin mobil, radiator, aki mobil, ban mobil (kondisi angin), maupun oli mobil.

Lalu, jangan luput untuk memerhatikan dan mempertimbangkan kapasitas mobil.

"Jangan dipaksakan untuk membawa lebih banyak penumpang," pesan Julian Noor, CEO Adira Insurance, mengutip siaran pers yang disebar, Sabtu (9/6).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR