TILANG CCTV

Polisi mulai awasi pengemudi dengan CCTV tersembunyi

Ilustrasi pengendara yang menggunakan ponsel.
Ilustrasi pengendara yang menggunakan ponsel. | deineka /Shutterstock.com

Saat ini ponsel seperti sulit dilepaskan dari tangan pemiliknya. Gawai tersebut telah menjadi bagian dalam hampir setiap kegiatan, bahkan saat mengemudi, baik motor maupun mobil.

Padahal, saat berkendara dibutuhkan konsentrasi penuh dari sang pengemudi. Kelengahan satu detik saja bisa berujung pada kecelakaan yang merenggut nyawa.

Berkendara sembari mengamati ponsel sebenarnya adalah kegiatan yang berlawanan dengan hukum, namun banyak yang tak awas atau mengabaikannya.

Pasal 106 ayat 1 UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan dengan tegas mewajibkan pengendara untuk mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.

Lalu, pada penjelasan pasal tersebut disebutkan bahwa yang dimaksud dengan "penuh konsentrasi" adalah berkendara dengan penuh perhatian dan tidak terganggu oleh beberapa hal, termasuk menggunakan telepon.

Jika melanggar, Pasal 283 juga menegaskan sanksi yang berkaitan dengan pasal 106 tadi, berupa pidana kurungan maksimal 3 bulan atau denda paling banyak Rp750 ribu.

Untuk mengawasi tingkah pengemudi dan memastikan para pengguna lalu lintas mematuhi hukum yang berlaku, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mulai menggencarkan pemasangan CCTV pada beberapa ruas jalan.

Jadi, walau tak ada petugas kepolisian di sebuah kawasan, jangan gegabah melanggar peraturan. Bukti rekaman CCTV tersebut bisa digunakan untuk mencari keberadaan setiap pelanggar melalui nomor polisi kendaraan yang terekam.

Kemudian, surat tilang beserta bukti pelanggaran bisa dilayangkan ke alamat yang tertera pada STNK mobil atau motor pelanggar.

Kepala Korps Lalu Lintas Polri, Irjen Pol Royke Lumowa mengatakan, bahwa saat ini polisi sedang memasang kamera pengawas di beberapa titik, untuk menindak para pelanggar lalu lintas, termasuk bagi yang kedapatan menggunakan ponsel saat berkendara.

Royke juga tak menyebutkan lokasi penempatan CCTV tersebut, karena memang tersembunyi dan tak mencolok.

"Kan kamera tersembunyi, jelas dong jangan sampai kelihatan," ujarnya menukil AutoBild.

"Ini bukan hanya menangkap pelanggaran yang main handphone saja. Tapi bisa menilang yang menerobos lampu merah, marka, rambu, dan lain-lainnya," tandasnya.

Walau nantinya akan digunakan di seluruh Indonesia, untuk sementara ini, baru Surabaya, Jawa Timur, yang akan mencoba penerapan tilang berdasarkan bukti CCTV tersebut.

Polisi mengantar Surat Teguran Pelanggaran Lalulintas Hasil Rekaman Elektronik ke alamat pelanggar lalu lintas di Surabaya, Jawa Timur, Senin (4/9). Kegiatan sosialisasi kepada masyarakat yang melanggar lalu lintas itu merupakan bagian dari program tilang dengan bukti rekaman CCTV yang akan diterapkan di Surabaya.
Polisi mengantar Surat Teguran Pelanggaran Lalulintas Hasil Rekaman Elektronik ke alamat pelanggar lalu lintas di Surabaya, Jawa Timur, Senin (4/9). Kegiatan sosialisasi kepada masyarakat yang melanggar lalu lintas itu merupakan bagian dari program tilang dengan bukti rekaman CCTV yang akan diterapkan di Surabaya. | Didik Suhartono /Antara Foto

Kepala Satuan Lalu Lintas Polrestabes Surabaya, AKBP Adewira Negara Siregar, dikutip VIVA.co.id (7/9), mengatakan bahwa uji coba tilang CCTV itu berlaku satu bulan selama September. Pada Oktober nanti, kepolisian sudah akan melakukan penindakan berdasarkan data pelanggar yang terekam di CCTV.

Dia mengatakan, ada efek penggertak ditimbulkan dari uji coba tilang CCTV itu. Jumlah pelanggar di titik uji coba berkurang jauh dari hari pertama diuji coba. Di hari pertama, CCTV merekam terjadinya lebih dari 400 pelanggaran di Perempatan Bratang.

Dua titik lain akan ditambah selama September ini, yaitu di Perempatan Pucang Anom dan Perempatan Prof Dr Moestopo.

Sempat beredar kabar bahwa Polda Metro Jakarta Raya juga akan segera menerapkannya, tetapi hal tersebut dibantah Kepala Subdirektorat Pembinaan dan Penegakan Hukum Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Metro Jaya, AKBP Budiyanto.

"Info tersebut enggak jelas sumbernya," kata Budiyanto kepada Tempo.co.

E-tilang mulai dicoba

Selain pemasangan CCTV, kepolisian juga sudah mulai menerapkan sistem e-tilang bagi para pelanggar peraturan lalu lintas.

Penerapan e-tilang merupakan satu terobosan Polri untuk mengurangi terjadinya pungli dalam penindakan pelanggaran lalu lintas, serta mempermudah dan mempercepat membayar denda pelanggaran.

Dengan adanya e-tilang, surat tilang akan segera tidak berlaku lagi. Polisi akan langsung memasukkan data pelanggaran ke aplikasi e-tilang yang terkoneksi dengan data pelanggaran dan denda, data samsat, dan database bank. Saat ini baru Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang telah bekerja sama dengan Polri untuk pembayaran e-tilang.

Terduga pelanggar juga mesti mengunduh aplikasi e-tilang yang berbasis Android tersebut.

"Pengendara dalam waktu singkat akan mendapat notifikasi berupa kode yang isinya persis seperti surat tilang, disertai kode untuk melakukan pembayaran denda," jelas AKBP Budiyanto kepada Cermati.com.

"E-tilang memberikan suatu kesempatan kepada pelanggar untuk menitipkan denda langsung ke bank dengan fasilitas yang dia miliki, mungkin dengan e-banking, ATM, atau datang sendiri ke teller."

Lalu pengendara yang ditilang diwajibkan untuk membayar denda maksimal sesuai pasal yang dilanggar olehnya. Jika dendanya sudah lunas, polisi yang menilang akan menerima notifikasi juga di ponselnya.

Kemudian, pelanggar bisa menebus surat yang disitanya langsung dengan cukup menyerahkan tanda bukti bayar, maupun mengambilnya di tempat yang disebut dalam notifikasi.

Aplikasi e-tilang ini terintegrasi dengan pengadilan dan kejaksaan. Hakim akan memberi putusan, dan jaksa akan mengeksekusi putusan itu, biasanya dalam waktu seminggu hingga dua minggu.

Saat ini e-tilang baru efektif untuk jenis surat tilang biru, yang berarti terduga pelanggar mengakui kesalahannya dan mau membayar denda. Sistem ini belum berlaku untuk terduga pelanggar yang memilih surat tilang merah atau tidak mengakui kesalahannya.

"Dengan berjalannya waktu, tilang merah dipastikan dapat dilayani dengan aplikasi ini sehingga tidak akan ada lagi sidang tilang," kata Budiyanto.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR