Regulasi Euro-4 antara Gaikindo, manufaktur, dan Pertamina

Konferensi otomotif internasional Gaikindo tahun ini mengangkat tema besar Euro-4.
Konferensi otomotif internasional Gaikindo tahun ini mengangkat tema besar Euro-4. | /Dokumen 7event

Upaya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk menekan polusi udara di Indonesia, salah satunya adalah dengan menerapkan standar emisi gas buang Euro-4 pada kendaraan yang beredar di Indonesia.

Pemerintah mengingatkan, manufaktur di Indonesia harus segera menutup kegiatan produksi mesin dengan standar emisi Euro-2.

Kebijakan soal Euro-4, tertuang dalam Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.P. 20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/ 2017, tentang baku mutu emisi gas buang kendaraan bermotor tipe Euro-4.

Mengenai sanksi bagi pelanggar, Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, M. R Karliansyah, menyatakan bahwa acuannya ialah UU No 32/2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Gaikindo selaku asosiasi industri kendaraan bermotor di Indonesia tentunya mendukung langkah pemerintah tersebut.

Selasa (7/8), di Nusantara Room 3, ICE, BSD, Banten, saat berlangsung pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2018, asosiasi manufaktur kendaraan mengadakan Konferensi Otomotif Internasional Gaikindo (Gaikindo International Automotive Conference/GIAC) yang telah menginjak tahun ke-13.

Secara umum, pada konferensi tersebut membahas tentang isu industri otomotif di Indonesia saat ini, termasuk pembahasan tentang emisi Euro-4 yang dalam waktu dekat akan diterapkan di Indonesia.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian memaparkan skema pajak baru kendaraan berdasarkan kadar emisi gas buang.

Ketua Umum Gaikindo, Johannes Nangoi, menjelaskan mengenai kebijakan Euro-4 dan pengaruhnya kepada industri manufaktur.

Selain itu, dia juga menerangkan soal pencapaian penjualan kendaraan dan menekankan pentingnya standar emisi Euro-4 bagi kelangsungan ekspor.

Nangoi mengatakan bahwa sejalan dengan tema GIIAS kali ini, "Menuju Beyond Mobility", pihaknya akan fokus pada pengembangan industri kendaraan dengan teknologi hemat energi dan ramah lingkungan.

"Penerapan standar emisi Euro-4, merupakan tonggak penting yang akan mendorong pertumbuhan industri otomotif Indonesia menuju industri global," kata Nangoi.

Gaikindo, sambung dia, memastikan para anggotanya mendukung langkah pemerintah dan siap untuk langsung menuju regulasi itu pada Oktober 2018.

Dalam paparannya, Nangoi menjelaskan bahwa perkembangan industri otomotif juga berdampak pada investor asing untuk berinvestasi di Indonesia.

"Saat ini industri otomotif Indonesia adalah yang terbesar kedua di ASEAN dengan kapasitas produksi tahunan saat ini sebesar 2,3 juta unit per tahun," imbuhnya.

Menurut laporan dari Gaikindo, saat ini produksi tahunan kendaraan hanya memanfaatkan 59 persen dari total kapasitas produksi. Hal yang demikian menunjukkan bahwa perlu adanya peningkatan volume produksi, salah satunya dengan memenuhi lini ekspor.

Penerapan Euro-4, menurut Gaikindo, membuat manufaktur berpeluang untuk meningkatkan volume ekspor.

"Jadi, secara umum, penerapan Euro-4 akan memengaruhi semua sektor, dan diharapkan semua manufaktur telah siap," terangnya.

Sementara Dirjen ILMATE Kemenperin, Harjanto, menjelaskan bahwa dengan adanya pemberlakuan skema pajak baru ini diharapkan akan lebih banyak lagi kendaraan ramah lingkungan yang diproduksi di Indonesia.

"Sebelumnya kalkulasi pajak barang mewah dihitung berdasarkan kapasitas mesin (cc). Sekarang, dihitung berdasarkan emisi. Semakin rendah emisinya, semakin murah pajaknya," jelas Harjanto.

Harjanto memperlihatkan tabel pajak kendaraan terkait program LCGC, LCEV, dan PNG, yang diatur atas Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM).

Lalu, dia juga mengatakan, terkait skema tersebut akan langsung dibahas pada rapat antar-menteri ketika pada level eselon I sudah final.

Kepastian BBM

Regulasi Euro-4 tentunya juga terkait dengan pihak pemasok bahan bakar minyak (BBM) sesuai spesifikasi tersebut.

Kebutuhan BBM-nya menurut Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Djoko Siswanto, mencapai 180 ribu kiloliter (KL).

Jumlah itu akan diimpor 100 persen dari kebutuhan, selagi menunggu kilang-kilang modifikasi Pertamina atau Refinery Development Master Plan (RDMP) selesai dibangun.

Saat ini, PT Pertamina (Persero) tengah menjalankan empat proyek RDMP, di Cilacap, Jawa Tengah; Balikpapan, Kalimantan Timur; Balongan, Jawa Barat; dan Dumai, Riau.

VP Corporate Communication Pertamina, Adiatma Sarjito, mengatakan bahwa dua kilang yang siap dikembangkan Pertamina untuk BBM Euro-4 adalah kilang Cilacap dan Kilang Dumai.

Pihaknya, menurut Adiatma, menyatakan sudah bisa memproduksi BBM tersebut di Kilang Balongan sebesar 9.450 KL dan sisanya, 14.310 KL, diimpor.

Terkait BBM Euro-4, Kukuh Kumara, Sekjen Gaikindo, mengharapkan bahwa suplai BBM sudah bisa memenuhi kebutuhan kendaraan.

"Gaikindo berkomitmen dan siap dengan regulasi tersebut, harapannya semua pihak juga melakukan hal yang sama karena ini merupakan aturan pemerintah," tegas Kukuh pada Beritagar.id, Selasa (14/8).

Tanggapan manufaktur

Mengenai hal terurai di atas, walau sudah di deklarasikan, tetapi beberapa manufaktur yang memiliki pabrik di Indonesia punya ragam pendapat yang dikemukakan oleh masing-masing perwakilan juru bicara, mulai dari Toyota, Mitsubishi, Suzuki, Nissan-Datsun, dan Wuling.

Rouli Sijabat, PR Manajer Toyota Astra Motor (TAM), mengatakan bahwa menghijaukan langit Indonesia menjadi salah satu tujuan jenama Jepang tersebut.

"Secara umum, Toyota tentu akan mengikuti aturan pemerintah itu," tegas Rouli, Selasa (7/8).

Lalu, Irwan Kuncoro, Direktur Penjualan dan Marketing Divisi Mitsubishi Motor Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), menegaskan bahwa konsumen yang memesan kendaraan di pameran GIIAS 2018 akan mendapatkan unit dengan spesifikasi Euro-4.

"Jelas kami pasti ikut, kan masih Oktober ya. Tapi untuk yang pesan di GIIAS, khususnya Xpander, maka akan mendapatkan unit Euro-4," janji Irwan, Kamis (9/8).

Terkait kebutuhan ekspor karena Xpander merupakan model global, Irwan menyatakan, pihaknya tentu akan menyesuaikan spesifikasi sesuai negara tujuan.

Penjelasan diutarakan oleh Harold Donnel, Head of Brand Development and Marketing Research 4W Suzuki Indomobil Sales (SIS). Ia menegaskan bahwa sejak Juli 2018 pihaknya sudah mulai merakit kendaraan dengan spesifikasi itu.

"...Termasuk All New Ertiga," cerita Harold, Sabtu (4/8).

Kemudian, jenama Jepang terakhir yang berkomentar terkait hal ini adalah Nissan-Datsun.

Hanna Maharani, Head of Product Communications Nissan Motor Indonesia (NMI), mengatakan, pihaknya selalu mengikuti aturan yang diberikan oleh pemerintah.

Sementara jenama Tiongkok, Wuling Indonesia, melalui penjelasan Brand Manager Wuling Motors Indonesia, Dian Asmahani, bahwa saat ini pihaknya tengah melakukan studi terkait hal itu.

"Secara umum kita patuh, dan akan terus melakukan studi terkait hal itu. Untuk mulai kapannya didistribusikan, tunggu kabar kami selanjutnya ya," pungkas Dian, Sabtu (4/8).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR