KESELAMATAN BERKENDARA

Road rage bisa ancam keselamatan banyak orang di jalanan

Ilustrasi road rage
Ilustrasi road rage | sawaddeebenz /Shutterstock

Kemampuan mengendalikan emosi saat berkendara terbilang sangat penting untuk pengemudi, terutama yang sehari-hari melewati jalanan padat dan rentan macet.

Tak bisa dimungkiri bahwa situasi dan kondisi lalu-lintas dalam keseharian bisa memengaruhi kondisi emosi seseorang, terutama pengemudi.

Stres dalam berkendara yang bisa memicu emosi dan amarah disebut dengan istilah road rage.

Emosi tersebut bisa dipicu dengan hal-hal kecil, seperti misalnya tak sengaja menyenggol spion kendaraan atau telat jalan ketika lampu beralih hijau.

Namun, karena tidak cakap dalam mengendalikan emosi, pengendara pun melontarkan umpatan kepada pengendara lainnya sehingga mematik pertengkaran.

Kondisi tersebut tentunya merugikan banyak orang karena biasanya berujung pada pertengkaran yang membuat jalanan menjadi tersendat dan macet.

Berdasarkan studi yang dirilis oleh AAA Foundation for Trafic Safety, 80 persen pengemudi mengalami road rage, misalnya, sengaja menabrakan mobil ke mobil lain yang telah menyinggung perasaan mereka. Selain itu, mereka juga mengaku, sengaja memblok jalan mobil yang telah menyalip mereka hanya untuk bertengkar.

Menariknya, studi mengungkapkan, mayoritas road rage dan sikap agresif yang dialami partisipan selalu membuahkan hasil yang mengecewakan atau membuat mereka semakin naik darah.

“Sudah banyak bukti, seseorang bisa terlihat sabar dan tenang pada lingkungan sosial, seperti keluarga, teman, dan kerja, tetapi ketika mereka di belakang kemudi, mereka bertransformasi menjadi sosok yang berbeda, menyeramkan,” jelas Robert Nemerovski, PsyD, seorang terapis di Marin County, California, Amerika Serikat.

Nemerovski menduga bahwa tak sedikit orang yang merasa wajar meluapkan temperamen ketika sedang mengemudikan kendaraan.

Dia menambahkan bahwa banyak kasus kecelakaan lalu-lintas terjadi karena pengemudi tidak bisa mengendalikan emosi saat terjadi kesalahan minor dari pengemudi kendaraan lainnya.

Dr Steve Albrecht, seorang konsultan dan motivator menganalisis, orang yang mengalami road rage bisa meneruskan emosi negatif tersebut pada orang-orang lain dalam kehidupan personal mereka.

“Jika Anda tidak mendapatkan perawatan, Anda bisa mereplika sikap tersebut terus menerus,” jelas Dr Albrecht.

Jadi, kondisi ini tidak bisa di anggap enteng karena memang bisa mengancam keselamatan Anda dan orang lain di jalanan.

Nemerovski menganjurkan beberapa cara untuk meredakan road rage, salah satunya adalah memilih jenis musik yang Anda dengar saat berkendara.

Menurut dia, perbincangan politik atau musik keras yang didengar dari radio bisa membuat Anda merasa panas dan meningkatkan level stres.

Dia merekomendasikan, apabila Anda tipe orang yang mudah tersulut emosi, lebih baik dengarkan musik instrumen yang menenangkan saat berkendaraan atau memainkan audiobook dengan cerita lucu.

Selain itu, dia menyarankan untuk latihan pernafasan dan mengontrol pikiran agar level emosional lebih stabil dan tidak mudah tersulut.

“Menyadari Anda stres dan memiliki kelemahan dalam mengendalikan emosi dapat menurunkan level stres serta lebih bisa mengontrol amarah,” imbuh Nemerovski.

Menjaga jarak kendaraan, kata dia, bisa membantu Anda untuk tetap tenang dalam berkendara dan fokus dengan sekeliling.

“Kebanyakan orang ketika di jalan menjadi sangat egois. Kita memikirkan cara tercepat untuk mencapai tujuan. Jadilah orang yang lebih berempati terhadap sesama, keselamatan diri Anda dan orang lain,” urainya.

Ubah persepsi Anda dan berpikirlah dalam cakupan yang lebih luas. Memikirkan keselamatan diri sendiri, tetapi keselamatan orang lain juga tidak bisa Anda abaikan.

“Saat Anda merendahkan orang lain. Anda membuat mereka tidak penting dari diri Anda. Sebaliknya, hidup mereka sama pentingnya dengan Anda,” tegasnya.

Perlu Anda ketahui bahwa Indonesia juga mengatur sikap dan perilaku saat berkendara di jalan umum.

Aturan tersebut dituangkan dalam pasal 283 UU Lalu Lintas Nomor 22 tahun 2009, seperti berikut ini:

"Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi, dipidana dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan kurungan atau denda paling banyak Rp 750.000."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR