Target baru Mitsubishi Indonesia dan isu ''idle up'' Xpander

Mitsubishi Xpander yang tengah naik daun.
Mitsubishi Xpander yang tengah naik daun. | Sandy Pramuji /Beritagar.id

Pada awal tahun fiskal 2017 (April 2017-Maret 2018), PT Mitsubishi Motor Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) menetapkan target penjualan 91.000 unit. Kini, dengan hanya sekitar satu bulan tersisa, target tersebut dinaikkan menjadi 103.000 unit.

Keberanian meningkatkan target tersebut didorong oleh popularitas varian low multi-purpose vehicle (LMPV) Xpander. Angka penjualan mobil yang dibanderol antara Rp194,1 juta hingga Rp250,4 juta itu tampak meyakinkan.

Januari lalu, menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), tercatat 7.097 unit Xpander terjual--hanya satu tingkat di bawah mobil terlaris, Toyota Avanza (7.543 unit).

"Pada Januari sudah (menguasai) sekitar 27,2 persen pasar (LMPV) dan dengan penambahan volume produksi kami harapkan angka itu bisa meningkat," kata Kepala Penjualan dan Pemasaran MMKSI Imam Choeru Cahya di Solo, Jawa Tengah (4/3).

Ia menambahkan, angka penjualan Xpander itu naik lagi pada Februari mencapai sekitar 7.400 unit.

Hingga saat ini, menurut Imam, ada sekitar 55.000 Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) untuk Xpander dan pada periode Oktober-Februari, sudah 27.000 unit sampai ke garasi konsumen.

Agar target baru tercapai, berarti Mitsubishi mesti mempercepat proses produksi Xpander--produk terpopuler mereka--sehingga mobil-mobil yang dipesan bisa segera diterima para pelanggan.

Pasalnya, jumlah SPK belum menentukan jumlah mobil yang terjual. Jika mobil itu belum diterima pemesan, masih ada kemungkinan mereka membatalkan pesanan.

"Hasil negosiasi dengan prinsipal (Mitsubishi Motor Corporation/MMC) ... cara mempercepat suplai ke masyarakat adalah dengan menunda ekspor (Xpander) kami ke Filipina, dari seharusnya Februari menjadi Mei (2018)," kata Imam.

Selain Filipina, PT Mitsubishi Motor Krama Yudha Indonesia (MMKI) pemanufaktur mobil Mitsubishi di Indonesia juga berencana untuk mengekspor mobil ke Thailand, Vietnam, Bolivia, dan Mesir.

Saat ini MMKI sudah memproduksi Xpander sekitar 8.000 unit per bulan. Produksi bakal digenjot hingga 9.000-10.000 unit untuk sekaligus memenuhi kebutuhan ekspor.

Penundaan ekspor dilakukan agar para pemesan di dalam negeri tak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan unit yang mereka pesan. Imam menyatakan mereka yang memesan saat ini akan mendapatkan mobil dalam 3-4 bulan, tergantung variannya.

Ia mengakui bahwa jumlah pesanan yang masuk untuk Xpander tersebut jauh lebih tinggi dari ekspektasi mereka. Namun, tentu saja, mereka gembira karena strategi yang dijalankan untuk mendorong penjualan LMPV tersebut tepat sasaran.

"Kami bekerja sama dengan prinsipal, APM (Agen Pemegang Merek), dan beberapa diler mengadakan survei sejak 3-4 tahun lalu. Kami memperkenalkan mobil konsepnya (Mitsubishi XM), melakukan road show," papar Imam.

"Itu merupakan strategi untuk memberikan info kepada seluruh masyarakat terhadap LMVP yang akan kita luncurkan."

Para diler, lanjutnya, berperan penting dengan membantu dengan mengumpulkan info mengenai kandidat pelanggan.

Amiruddin, Kepala Penjualan dan Pemasaran Wilayah 2 MMKSI, menambahkan, semua upaya tersebut membuat mereka mengetahui mobil seperti apa yang diminati masyarakat Indonesia.

"Aspek keamanan dan kenyamanan. Itulah yang paling dicari peminat mobil di Indonesia dan kami bisa memenuhinya. Kami lengkapi mobil ini sehingga sesuai dengan ekspektasi market yang ada," kata Amiruddin.

Penyelesaian isu idle up

Di tengah keberhasilan tersebut, ada beberapa isu yang mencuat di berbagai media sosial mengenai adanya masalah pada mesin mobil yang berkapasitas 1.500 cc tersebut.

Beberapa pelanggan merasa ada keanehan pada mesin Xpander yang mereka terima. Ketika mesin hidup sementara mobil diam (langsam/idle), putaran mesin (RPM) kerap mendadak naik walau gas tak dipijak (idle up).

Head of PR & CSR MMKSI, Intan Vidiasari, menyatakan bahwa keluhan beberapa pelanggan tersebut telah disampaikan kepada kantor pusat Mitsubishi di Jepang dan mereka sudah menelitinya.

"Mitsubishi Motor akan mengirimkan sebuah software di kuartal kedua 2018 agar konsumen bisa datang untuk mengatur ulang RPM mesin agar sesuai dengan kenyamanan," jelasnya.

Menurutnya, tidak banyak pelanggan yang mengeluhkan soal itu dan menyatakan bahwa sebenarnya idle up tersebut bukanlah sebuah masalah besar.

"Lain halnya dengan Pajero Sport yang hidrolik pada bagasinya bermasalah. Itu berpotensi masalah karena jika hidrolik tidak bekerja, pintu (bagasi) tidak akan tertutup sempurna," tutur Intan.

Pada awal Februari 2018, Mitsubishi menarik (recall) Pajero Sport karena masalah hidrolik pintu bagasi (tailgate gas spring) tersebut. Ada 14.499 unit Pajero Sport produksi 2016 di Indonesia yang ditarik untuk diperbaiki.

Rifat Sungkar, pereli dan duta jenama Mitsubishi, mengaku telah mencoba beberapa varian Xpander dan tak mengalami masalah idle up. Menurutnya, RPM yang meninggi itu dikarenakan pengemudi menyetel AC terlalu dingin.

AC dan putaran mesin, jelasnya, saling terkait. Jika pengemudi ingin agar ruang dalam mobil dingin, maka sensor akan memerintahkan mesin untuk berputar lebih cepat untuk mencapai suhu yang diinginkan tersebut. RPM mesin pun akan naik.

"Ini bukan problem yang besar. Tapi secara fungsi tidak ada masalah dengan mobil tersebut," kata Rifat.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR