TIP OTOMOTIF

Tip memilih ban bekas yang layak pakai

Toko ban bekas di Bandung, 25 April 2016.
Toko ban bekas di Bandung, 25 April 2016. | Aditya Herlambang Putra/Tempo

Ban adalah salah satu komponen terpenting pada kendaraan yang harganya relatif mahal. Oleh karena itu hingga saat ini masih banyak pemilik kendaraan yang mencari ban bekas saat komponen tersebut mesti diganti.

Memang tak ada salahnya menggunakan ban bekas pada kendaraan yang Anda pakai. Harganya jauh lebih murah dan, jika cermat memilih, Anda bisa mendapatkan ban bekas yang cukup berkualitas.

Akan tetapi, jika tidak hati-hati saat membeli, menggunakan ban bekas bisa menjadi berbahaya bagi keselamatan Anda saat berkendara.

Selain memahami ban seperti apa yang cocok untuk kendaraan yang digunakan, ada tiga hal lain yang mesti diperhatikan sebelum memutuskan untuk membeli ban bekas.

Cek tampilan fisik

Pertama, Anda harus mencermati penampilan fisik dari ban tersebut, terutama alurnya. Teliti apakah serat kompon ban ada yang rusak karena hal itu bisa membuat ban menjadi tak stabil saat diisi angin.

Kemudian perhatikan kondisi struktur ban. Dijelaskan Metrotvnews.com, struktur utama pada ban terdiri atas belt yang disusun oleh jaringan serat kawat. Belt tersebut menjaga bentuk ban agar tetap bulat dan bisa bergulir dengan mulus.

Ban yang sudah rusak struktur fisiknya disebut ban sipa. Bentuk ban sipa sudah tak lagi bundar sempurna karena ada gelombang pada beberapa bagiannya. Gelombang tersebut seringkali tak terlihat hingga kita memasangnya pada pelek dan kemudian memutarnya.

Jika saat dicoba putaran ban tampak tidak sempurna, sebaiknya Anda tidak membeli ban tersebut.

Akan tetapi, seperti dikabarkan Solopos.com, jarang sekali penjual ban bekas yang mengizinkan calon pembeli mencoba ban terlebih dahulu atau mau menukar ban yang sudah dipasangkan pada kendaraan. Oleh karena itu cermati dengan baik ban bekas yang ingin Anda beli atau ajak teman yang lebih paham soal ban agar tak menyesal setelah membeli.

Ilustrasi kondisi tapak pada ban mobil
Ilustrasi kondisi tapak pada ban mobil | Wisnu Agung Prasetyo /Tempo

Hindari memilih ban rekondisi (vulkanisir)

Saat membeli ban bekas, Anda juga mesti mengenali apakah ban tersebut sudah direkondisi (vulkanisir). Jika itu adalah ban vulkanisir, sebaiknya batalkan rencana membeli ban tersebut.

Ban vulkanisir merupakan ban yang sudah gundul namun alurnya diperbaiki kembali sehingga tampak seperti baru. Jenis ban ini memang biasanya dijual dengan harga sangat terjangkau sehingga tak sedikit yang mau menggunakannya.

Kris, asisten kepala Planet Ban Lenteng Agung, menyarankan agar tidak membeli ban vulkanisir.

"Gampang meletus, vulkanisir hanya tambahan lapisan karet yang diproses pemanasan. Tidak menyatu seperti cetakan ban keluaran pabrik. Tidak tahan panas umumnya ban yang digunakan, dan sewaktu-waktu lapisannya copot," jelas Kris kepada Maniakmotor.

Secara kasat mata, Kris mengatakan membedakan antara ban vulkanisir dengan ban asli cukup mudah.

"Dari samping ban vulkanisir kembangnya tidak menyatu. Terlihat juga garis tipis seperti karet tempelan yang disatukan. Selain itu, harga ban vulkanisir juga jauh lebih murah dibanding ban baru. Perbedaan harganya bahkan bisa lebih dari 50 persen," jelasnya.

Kepada Okezone, Dwi Triono, Manager Technical Service PT Gajah Tunggal Tbk menjelaskan cara membedakan ban hasil vulkanisir sebagai berikut:

  1. Setiap ban punya indikator TWI (tread wear indicator). TWI ditandai dengan adanya kode logo segitiga di pinggir dekat tapak ban. Biasanya ada total enam logo segitiga. Logo tersebut mengarahkan sekaligus menunjukkan ke sebuah tonjolan di antara alur ban. Bila tonjolan tersebut sudah sejajar dengan alur ban maka dapat dipastikan ban itu sudah aus dan tak layak pakai.
  2. Biasanya ban vulkanisir dibuat kembangan baru pada tapaknya dengan cara diukir. Akibatnya tonjolan TWI yang berada di antara kembangan ban akan hilang. Jika membeli ban bekas, perhatikan bagian ini. Jika tak ada, dapat dipastikan ban itu sudah direkondisi.
Beware regrooved car tires, expert says /joe coron

Takar umur ban dan minta garansi

Terakhir, jangan lupa menaksir umur ban yang Anda ingin beli dengan mengamati kode yang terpampang di dinding ban. Dari kode tersebut Anda akan mengetahui tahun produksi, tekanan angin, dan berbagai informasi lainnya soal ban itu.

Perlu dicatat, ban mempunyai batas kadaluarsa. Biasanya tiga tahun dari tanggal produksi atau jika sudah menempuh jarak 60 ribu kilometer.

Jika semua sudah dicek dan Anda merasa cocok dengan ban bekas tersebut, cobalah untuk meminta garansi pada penjual. Biasanya penjual yang bertanggung jawab akan memberi garansi selama satu minggu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR