KENDARAAN LISTRIK

Toyota Indonesia serahkan 12 mobil elektrik ke 6 universitas

Menperin Airlangga Hartanto (kiri) dan Presdir TMMIN Warih Andang Tjahjono, berfoto bersama mobil hibrida Toyota Prius, di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat (4/7/2018).
Menperin Airlangga Hartanto (kiri) dan Presdir TMMIN Warih Andang Tjahjono, berfoto bersama mobil hibrida Toyota Prius, di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat (4/7/2018). | Toyota Motor Manufacturing Indonesia

Inisiatif para manufaktur dan produsen untuk membantu menghijaukan alam Indonesia pada tahun 2030 semakin konsisten.

Februari lalu, Mitsubishi Motors Corporation (MMC) telah mendonasikan 10 unit mobil listrik kepada Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Republik Indonesia.

Kini, Toyota Indonesia melakukan hal serupa, yakni mendonasikan 12 unit mobil berbasis elektrik untuk program Penelitian dan Studi Komperehensif Kendaraan Elektrifikasi yang dilakukan oleh enam universitas di Indonesia.

Mobil yang didonasikan terdiri dari 6 unit Prius Hybrid dan 6 unit Prius Prime PHEV (plug-in hybrid electric vehicle).

Toyota Indonesia melalui Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) dan Toyota-Astra Motor (TAM), juga memberikan 6 unit Corolla Altis yang berbasis mesin konvensional.

Penyerahan unit kendaraan yang berlangsung di Universitas Indonesia (UI) itu dihadiri oleh Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI, Dr. Muhammad Dimyati, Para rektor dan perwakilan dari 6 Universitas.

Selain UI, lima perguruan tinggi lainnya yang terlibat dalam program tersebut adalah Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Semarang (UNS), Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS), dan Universitas Udayana.

Turut hadir pula Tatsuro Takami, Managing Officer Toyota Motor Corporation (TMC), Yoshihiro Nakata, President Director TAM, Andah Tjahjono, Presiden Direktur TMMIN Warih Andang Tjahjono, dan sejumlah jajaran direksi dan manajemen Toyota Indonesia.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Perindustrian RI karena telah memberikan kesempatan kepada Toyota untuk berpartisipasi dalam studi pengembangan kendaraan elektrifikasi di Indonesia," ujar Warih Andang Tjahjono dalam siaran pers TMMIN yang diterima Beritagar.id, Rabu (4/7).

Toyota Indonesia juga memberikan fasilitas 6 unit stasiun pengisian level 2 yang mampu melakukan 4 jam pengisian baterai secara penuh (3.500 watt) untuk mendukung riset secara menyeluruh. Selain itu, juga menyediakan asisten teknis kepada enam universitas tersebut.

"Dalam riset ini kami memberikan dukungan berbentuk penyediaan alat berupa kendaraan, perekam data (data logger), pengisi daya (charger), dan perangkat pendukung lainnya yang dapat dipergunakan oleh para peneliti dari universitas-universitas di Indonesia," tambah Warih.

Warih berharap, dukungan yang diberikan Toyota ini dapat membantu pemetaan kondisi dan kebutuhan riil pelanggan, termasuk kesiapan dan tantangan dalam mengembangkan industri sekaligus infrastruktur kendaraan elektrifikasi di Indonesia sesuai arahan Kemenperin.

Mekanisme penelitian

Penelitian dan studi ini merupakan upaya untuk memahami secara lebih menyeluruh aspek-aspek yang memengaruhi pengembangan kendaraan berbasis elektrik di Indonesia. Terutama yang terkait dengan preferensi konsumen, industri, termasuk pula pemetaan rantai pasok, dan kebutuhan infrastruktur pendukung.

Mekanisme penelitian pada tahap pertama dilakukan oleh peneliti dari UI, ITB, dan UGM.

Mereka akan menggunakan 12 unit kendaraan elektrik dan 6 unit kendaraan konvensional tersebut sebagai studi perbandingan selama kurun 3 bulan untuk mempelajari aspek teknis yang meliputi jarak tempuh, emisi, infrastruktur, dan kenyamanan.

Para peneliti pun bakal melibatkan masyarakat di tiga kota besar, yakni Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, sebagai partisipan.

Kemudian, peneliti akan merangkum data yang dibutuhkan berdasarkan uji coba tersebut.

Lalu, penelitian akan dilanjutkan oleh para peneliti dari UNS, ITS, dan Universitas Udayana, agar data yang didapatkan lebih beragam dan komprehensif.

Studi ini juga akan mempelajari mengenai rantai pasok industri, termasuk kebutuhan terkait sumber daya manusianya (ketenagakerjaan).

Terakhir, semua data yang diperoleh seluruh peneliti akan dianalisis dan disimpulkan menjadi referensi bagi Kemenperin.

"Kami berharap studi ini bisa membantu dalam meningkatkan informasi masyarakat terhadap teknologi kendaraan listrik, serta peningkatan kesiapan sumber daya manusia. Terutama para mekanik (engineer) lokal dalam mempersiapkan era baru industri otomotif Indonesia yang berorientasi pada teknologi tinggi dan ramah lingkungan," beber Yoshihiro Nakata.

Data tersebut juga akan menjadi acuan terkait opsi pilihan teknologi kendaraan listrik yang akan dikembangkan oleh Toyota di Indonesia. Tujuannya untuk memberikan kenyamanan bagi konsumen supaya kendaraan listrik mudah diterima dan meningkat populasinya.

Menperin Airlangga kepada Antara menjelaskan bahwa pemerintah masih membuat aturan final terkait fiskal kendaraan ramah lingkungan.

Sementara regulasi dan roadmap-nya sudah ditentukan melalui Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 33/2018 tentang Pengujian Tipe Kendaraan Bermotor.

Pemerintah menargetkan 20 persen kendaraan yang beredar di Indonesia pada 2025 adalah jenis kendaraan ramah lingkungan (low carbon electric vehicle/LCEV), baik kendaraan hibrida (hybrid) dan kendaraan listrik murni.

Kemudian, pada 2030, pemerintah juga menargetkan akan menurunkan Emisi Gas Rumah Kaca (CO2) sebesar 29 persen, sekaligus menjaga ketergantungan terhadap impor BBM, khususnya di sektor transportasi darat.

Toyota berharap studi pengembangan kendaraan elektrik ini bisa menjadi salah satu dukungan untuk mewujudkan kesuksesan program pemerintah.

Terkait kemungkinan kehadiran mobil ramah lingkungan dalam jangka pendek, Airlangga menyatakan pilihan yang paling rasional adalah kendaraan hibrida.

Alasannya, kendaraan yang menggunakan bensin sebagai genset penghasil listrik, tidak memerlukan infrastruktur pengisian daya listrik.

"...Itu pilihan yang paling rasional, kami dorong plug-in hibrida sehingga bisa menggunakan bahan bakar yang ada tapi penggerak mobil adalah listrik. BBM untuk menghasilkan listrik, seperti adanya genset di bawah mobil," jelas Airlangga.

Saat ini, selain manufaktur Jepang (Toyota, Mitsubishi, dan Nissan), dua produsen otomotif asal Eropa juga sudah bersiap menyongsong era mobil listrik di Indonesia, yaitu BMW Indonesia, yang sudah mulai mengomunikasikan kendaraan listrik BMW i series sejak 2014, dan Mercedes-Benz, dengan rentetan produk EQ Power.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR