MOBIL LISTRIK

Toyota melangkah bertahap menuju mobil listrik penuh

Toyota RAV4, salah satu mobil hibrida terlaris di Eropa tahun ini.
Toyota RAV4, salah satu mobil hibrida terlaris di Eropa tahun ini. | VanderWolf Images /Shutterstock

Pemerintah Indonesia berkomitmen mendorong pengembangan kendaraan rendah emisi karbon (Low Carbon Emission Vehicle/LCEV) yang saat ini tengah disiapkan regulasinya. Bahkan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjanjikan regulasi kendaraan rendah emisi karbon itu akan rampung tahun depan.

Rencana tersebut, tentu saja, membuat para pemanufaktur kendaraan di dalam negeri bersiap untuk menyambut era baru LCEV, termasuk PT Toyota Astra Motor (TAM).

"Mobil listrik bagi Toyota suatu keniscayaan karena ke depan kita akan membutuhkan mobil listrik," kata Rouli Sijabat, Public Relation Manajer TAM, di Semarang, Rabu (6/12/2017).

Walau demikian, Rouli memaparkan bahwa TAM takkan serta-merta beralih ke produksi mobil bertenaga listrik. Lagi pula LCEV bukan melulu soal tenaga listrik, melainkan kendaraan yang lebih ramah lingkungan dengan gas buang beremisi rendah.

Hingga saat ini Toyota, bahkan di Jepang, memang belum meluncurkan mobil bertenaga listrik penuh, walau beberapa purwarupa sudah diperlihatkan kepada publik, seperti i-ROAD dan i-Q EV.

Sebagai awal, lanjutnya, TAM akan terlebih dahulu mengedepankan kendaraan hibrida (plug-in hybrid), yang menggabungkan mesin berbahan bakar konvensional dengan motor listrik. Juga mobil berbahan bakar alternatif lain seperti fuel-cell, yang dikembangkan bersama BMW.

Rouli menjelaskan, beralih terlebih dahulu ke mesin hibrida atau fuel-cell akan membuat produk Toyota menjadi lebih fleksibel.

"Saat ini kendaraan hybrid yang paling mungkin untuk dipasarkan menuju ke era itu (era mobil listrik penuh, red.)," ujar Rouli.

Setelah teknologi plug-in hybrid (PHEV) dan fuel-cell stabil dan mantap baru kemudian mobil bertenaga listrik penuh akan disempurnakan.

Strategi tersebut menuai hasil, setidaknya di Eropa. Antaranews (17/12) mengabarkan penjualan mobil hibrida produksi Toyota--C-HR dan RAV4--naik 38 persen di Eropa sepanjang Oktober.

Kenaikan tersebut membantu Toyota untuk menguasai 45 persen pasar mobil di Benua Biru dengan angka penjualan total mencapai 800.000 unit selama 10 bulan awal 2017. Target Toyota di Eropa untuk 2017 adalah menjual 1 juta unit kendaraan dan diperkirakan bakal tercapai pada akhir tahun ini.

Kembali ke mobil listrik, Rouli menyatakan secara umum Toyota mendukung keinginan pemerintah Indonesia untuk mengembangkan dan memproduksi mobil listrik di dalam negeri, sehingga bisa memberikan dampak positif kepada negara.

Untuk itu, TAM mencermati regulasi dan infrastruktur yang saat ini tengah disiapkan di Indonesia.

Soal regulasi, Rouli menyatakan TAM ingin terlebih dahulu menunggu bagaimana peraturan pemerintah yang keluar nanti mendefinisikan apa itu mobil listrik. Definisi amat diperlukan sebagai basis pengembangan teknologi mobil tersebut.

Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) juga menyatakan menunggu regulasi sebelum mereka menetapkan besar investasi yang perlu ditanam untuk pengembangan dan produksi kendaraan listrik di Tanah Air.

Kepada Kompas.com (14/12), bos TMMIN Warih Andang Tjahjono, berharap dalam menyusun regulasi mobil listrik, pemerintah juga memerhatikan aturan di negara lain agar produk industri otomotif Indonesia bisa kompetitif.

Pemerintah tengah menyusun Peraturan Presiden (Perpres) untuk Program Percepatan Kendaraan Bermotor Listrik untuk Transportasi Jalan. Perpres ini akan menjadi acuan dan pemetaan rencana bagi seluruh industri terkait.

Salah satu poin penting dalam regulasi tersebut adalah pemberian insentif kepada industri, baik fiskal maupun non-fiskal.

Sebelumnya, pada awal Maret 2017, Presiden Joko Widodo menandatangani Perpres Nomor 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

Dalam lampiran Perpres itu disebutkan bahwa pemerintah akan mengembangkan kendaraan bertenaga listrik/hybrid pada 2025, dengan jumlah 2.200 unit untuk roda empat dan 2,1 juta unit untuk kendaraan roda dua.

Kerja sama dengan Panasonic

Hal lain yang juga harus dipersiapkan sebelum menuju produksi massal mobil listrik penuh adalah teknologi baterai, serta sistem pengisian daya dan daur ulang baterai tersebut. Pasalnya, menurut Toyota, baterai akan menentukan waktu dan jarak tempuh kendaraan.

Pekan lalu, Toyota Motor Corp. mengumumkan kemungkinan untuk memperluas kemitraan dengan Panasonic Corp. hingga kepada produksi bersama baterai untuk kendaraan listrik.

Sebelumnya kemitraan mereka terbatas pada penyediaan baterai listrik oleh Panasonic untuk dipasangkan pada kendaraan hibrida produksi Toyota, termasuk plug-in hybrid.

Kemungkinan perluasan keja sama tersebut didorong oleh rencana Toyota untuk mulai memproduksi mobil listrik penuh pada 2020 dan target penjualan mobil listrik mereka hingga 50 persen dari angka penjualan di seluruh dunia pada 2030.

"Akan sulit bagi kami untuk memenuhi target kami pada 2030 melihat lambatnya pengembangan baterai saat ini. Itulah mengapa kami melirik Panasonic dan beberapa perusahaan lain untuk membantu kami mengembangkan mobil dan baterai yang lebih baik," kata Presiden Toyota, Akio Toyoda.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR