MOBIL LISTRIK

Upaya PLN mendukung program mobil listrik nasional

Ilustrasi terminal pengisian daya mobil listrik.
Ilustrasi terminal pengisian daya mobil listrik. | Zapp2Photo /Shutterstock.com

Cepat atau lambat, era kendaraan bertenaga listrik akan hadir di Indonesia.

Leo Basuki, Manajer Niaga Perusahaan Listrik Negara (PLN) Distribusi Jakarta Raya mengatakan, kehadiran kendaraan berbasis listrik mempunyai ragam keunggulan, di antaranya tidak memiliki emisi gas buang yang membuat polusi udara.

"Transportasi umum pakai listrik. mudah dikendalikan, aman, bersih dan aman. Tidak menggunakan energi primer," katanya di Museum Listrik dan Energi Baru (MLEB) TMII, Jakarta Timur, Rabu (23/8/2017).

Menurutnya, tren penggunaan kendaraan listrik di dunia juga sudah meningkat.

Memang, menurut data International Energy Agency (IEA), yang dikutip Reuters (h/t Fortune, 7/6/2017), jumlah kendaraan listrik yang beredar di dunia pada 2016 sudah mencapai angka 2 juta unit. Naik 100 persen dari 1 juta unit pada 2015.

Walau naik pesat, angka itu hanya 0,2 persen dari jumlah keseluruhan mobil penumpang yang beredar di dunia.

1.000 SPLU di Jakarta

Jika kelak mobil listrik menjadi populer di Indonesia, salah satu hal yang mesti diperhatikan adalah tempat pengisian daya.

Leo menyatakan hal itu tak perlu dikhawatirkan karena di wilayah Jakarta saat ini telah tersedia 542 titik stasiun penyedia listrik umum (SPLU) yang dihadirkan sejak Agustus 2016.

SPLU merupakan upaya PLN dalam menyediakan infrastruktur pendukung mobil dan motor listrik di Indonesia sebagai media pengisian ulang baterai.

"SPLU sebagai charging station kendaraan listrik akan lebih pas apabila diletakkan di tempat parkir karena di sana, mobil atau motor listrik akan diparkir dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga dapat sekaligus di-charge," katanya.

Menukil kabar Berita Satu, bahkan PLN menargetkan sebanyak 1.000 stasiun pengisian listrik umum (SPLU) sudah terpasang di Jakarta hingga akhir 2017.

Memperhitungkan besarnya daya yang diperlukan untuk pengisian daya mobil listrik, PLN juga telah melakukan persiapan matang untuk memastikan keandalan, kualitas tegangan, kapasitas trafo, serta jaringan.

"Kami yakin bisa memenuhi ketersediaan SPLU dengan kualitas maksimal, apalagi daya pasok energi listrik juga banyak dipasok dari pembangkit baru yang berasal dari program 35.000 MW (megawatt, red.)," tambah Leo.

Direktur Utama PLN, Sofyan Basir, dikutip Katadata, menjamin tidak akan ada kekurangan pasokan listrik untuk mobil tersebut karena ada beberapa daerah yang mengalami surplus, seperti di Jawa Timur.

SPLU ini awalnya merupakan inovasi PLN untuk melayani kebutuhan listrik masyarakat di tempat umum, seperti untuk para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) atau pedagang kaki lima (PKL).

Diwartakan Liputan6, masyarakat pun dapat meminta kepada PLN untuk memasangkan SPLU pada lokasi yang diinginkan agar kebutuhan energi listriknya dapat terpenuhi, termasuk sebagai charging station kendaraan listrik.

Seiring perkembangan teknologi, pengisian daya pada SPLU pun mengadopsi sistem prabayar, seperti yang telah dilakukan pada SPLU Beji Lintar

Untuk dapat menggunakan SPLU Beji Lintar, masyarakat perlu mengisi pulsa (stroom) kWh meter dengan membeli token listrik melalui Payment Point Online Bank (PPOB), ATM, dan minimarket dengan hanya menyebutkan ID Pelanggan yang tercantum di SPLU yang akan digunakan.

Mencoba Evina

Pada kesempatan tersebut, PLN juga mendemonstrasikan mobil listrik yang sudah dipajang di MLEB TMII sejak 2015.

Mobil listrik tersebut bernama Evina (Electric Vehicle Indonesia) yang merupakan karya Dasep Ahmadi, Direktur PT Sarimas Ahmadi Pratama.

Secara dimensi, mobil tersebut tidak terlalu besar, bahkan identik dengan model Suzuki Karimun Wagon R. Beberapa kalangan jurnalis pun berkesempatan menjajal kendaraan ini, salah satunya Tribunnews.

Digambarkan Tribunnews, ketika melaju, suara mobil ini cukup senyap dengan kecepatan rata-rata kecepatan 40 km/jam di jalanan mulus, walau menurut Leo kecepatannya dapat melebihi itu.

Kabin mobil listrik bertransmisi tak jauh berbeda dengan mobil konvensional biasa, hanya saja terdapat indikator kondisi baterai yang terletak persis di sebelah kanan kemudi.

Indikator baterai itu menunjukkan kondisi baterai 10 persen (lemah) dengan warna merah hingga kondisi penuh 100 persen (full charge) yang berwarna hijau.

"Butuh waktu rata-rata 4 jam penuh untuk melakukan pengisian daya, tapi sekarang sedang dikembangkan teknologi fast charging. Jadi 40 menit bisa full charge," jelas Leo.

Populer, lalu masuk penjara

Evina diperkenalkan Dasep pada 2013 dan merupakan nama pemberian Dirut PLN saat itu Nur Pamudji. Dasep, melalui PT Sarimas Ahmadi Pratama, menggandeng PLN guna berperan sebagai penyedia infrastruktur.

Mobil yang diklaim bisa mencapai kecepatan maksimal 120km/jam itu langsung menarik perhatian, bahkan pemerintah memesan 16 unit dengan dana Rp32 miliar untuk menjadi kendaraan operasional pada konferensi APEC ke-12 di Bali, November 2013.

Menko Perekonomian kala itu, Hatta Rajasa, menyebut mobil tersebut telah sempurna dan siap untuk dipergunakan.

Rencana produksi massal Evina pun lalu digaungkan dan nama Dasep pun menjadi terkenal.

Akan tetapi mobil ternyata tak berfungsi sempurna. Dasep lalu dipidanakan karena dianggap merugikan negara dan pada 14 Maret 2016, ia dinyatakan bersalah oleh Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.

Hukumannya 7 tahun penjara dan denda Rp200 juta subsider tiga bulan kurungan, serta membayar uang pengganti Rp17,18 miliar subsider 2 tahun penjara.

Ia melawan hingga Mahkamah Agung, tetapi hukumannya malah diperberat menjadi 9 tahun oleh Majelis Hakim MA yang terdiri dari Artidjo Alkostar, Krisna Harahap dan MS Lumme.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR