Sopi, minuman beralkohol khas Flores, Nusa Tenggara Timur. Ilustrasi Awan
Sopi, minuman beralkohol khas Flores, Nusa Tenggara Timur. Shutterstock / Caroline Pang

Air kekeluargaan itu bernama sopi

Sopi adalah minuman keras tradisional yang sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Flores. Mereka menyebutnya sebagai "air kekeluargaan".

Baunya menyengat, warnanya bening kekuningan, rasanya keras dan jika tak hati-hati saat meminumnya, akan langsung membuat tenggorokan menjadi panas. Sepintas kemudian, mata pun mulai berkunang.

"Itu sopi kelas satu," kata Andreas Maxi (50), bapak 5 orang anak yang telah 30 tahun membuat arak sopi.

Sopi telah menjadi salah satu minuman secara turun temurun khas Tanipa--sebutan untuk tanah Flores. Pada beberapa tempat di wilayah Flores, seperti Maumere dan Aimere, minuman beralkohol ini juga disebut dengan Moke atau Tuak.

Arak-arak itu menjadi salah satu konsumsi utama para lelaki Flores. Bukannya mereka tak menyukai minuman keras lain, tapi dalam kultur mereka, sopi dianggap sebagai minuman yang prestisius atau mewah, dan merupakan bagian dari ukuran martabat kehormatan tradisi adat warisan leluhur.

Kata sopi berasal dari bahasa Belanda, zoopje, yang bermakna alkohol cair.

Pada beberapa tempat di Flores, Anda masih dapat menemui para peracik sopi yang membuat minuman itu secara tradisional.

Arak yang tak memiliki label itu mengandung alkohol dalam kisaran 5 hingga 80 persen, tergantung dari proses penyulingannya.

Sopi kelas satu, seperti yang disebut Andreas tadi, merupakan salah satu minuman langka yang hanya bisa didapatkan ketika berkunjung ke desa-desa adat Flores. Kadar alkoholnya bisa mencapai 80 persen.

Karenanya biar tak mabuk kepayang, sopi biasanya diminum dengan camilan pengiring, seperti ikan bakar, pisang bakar, bahkan sayuran.

"Ini minuman kekeluargaan. Untuk yang kelas satu, hanya dikeluarkan saat acara-acara adat atau seperti ketika menyambut tamu," terang Andreas lagi.

Pun ketika digelar pernikahan atau acara adat lainnya, sambung Andreas, suguhan yang hampir pasti selalu ada adalah sopi.

Minuman ini biasanya disajikan dalam ukuran 30 ml untuk sekali tenggak. Jeda setiap tenggak biasanya lima menit agar kehangatannya meresap dalam tubuh.

Tungku tempat menggodok Sopi di Flores, Nusa Tenggara Timur.
Tungku tempat menggodok Sopi di Flores, Nusa Tenggara Timur. | Caroline Pang /Shutterstock

Tak mudah mendapat sopi dengan kualitas terbaik

Untuk menikmati sopi saat berada di Labuan Bajo, Anda bisa mendapatkannya di sepanjang jalur Trans Flores. Tapi jangan salah, tak mudah untuk mendapatkan Sopi dengan kualitas terbaik.

Jika ingin menikmati sopi dengan kualitas terbaik, Anda bisa mengunjungi salah satu desa adat, yakni Kampung Cecer, Desa Liang Ndara. Jaraknya sekitar 30 km ke arah timur Labuan Bajo. Desa adat yang juga terkenal dengan penyelenggaraan tari Caci--sebuah tarian pertarungan--itu masih membuat sopi secara tradisional.

Sopi dengan kualitas sedang banyak dijual di gerai atau warung di pinggir jalan Trans Flores. Minuman yang biasanya dijual dalam botol bekas air mineral itu menjadi salah satu penopang perekonomian warga. Satu jeriken sopi kualitas sedang berisi 2 liter, umumnya dijual antara Rp30 ribu-Rp40 ribu.

Jika Anda mampir ditemani pemandu (guide) warga lokal, biasanya baru mereka akan menawarkan sopi kualitas kelas satu. Jenis premium itu tentu saja berharga lebih mahal, mencapai Rp65 ribu-Rp75 ribu per 500 ml, atau setakaran botol air mineral berukuran sedang.

Bagaimana cara mengetahui sopi yang dijual betul-betul kelas satu? Sopi berkualitas tinggi lebih mudah menyala ketika dibakar. Oleh karena itu, sopi kelas atas itu biasa disebut warga lokal "sopi BM", atau bakar menyala.

Setiap harinya, Andreas bisa menjual 5-8 jeriken sopi kualitas sedang. Biasanya yang membeli adalah pelancong. Sementara untuk sopi kelas satu, hanya kepada orang-orang tertentu saja ia jual--umumnya kepada warga Flores yang akan menjamu tamu.

"Tak banyak yang tahu sopi BM. Biasanya ditawarkan buat para pengunjung yang memang suka minum, atau ingin mencoba sesuatu yang baru. Jadi kadang masyarakat sini yang menjual sopi, menawarkannya juga tak sembarangan," terang Karolus Vitalis (49), Kepala Kampung Cecer.

Walau memabukkan, sambung Karolus, tak pernah ada sengketa atau perkelahian usai menenggak sopi. Bagi mereka, minuman itu sangat sakral dan merupakan hal konyol jika harus ribut gara-gara minum sopi.

Karolus juga mengingatkan sebuah pantangan, jangan meminum sopi usai mengonsumsi buah durian, salah satu buah yang banyak didapat di pinggiran jalan Trans Flores.

"Pokoknya jangan," tanpa ia menjelaskan dampaknya lebih rinci.

Namun, sebuah penelitian yang dilakukan tim Universitas Tsukuba, Jepang, dan Universitas Filipina Diliman pada 2009 menemukan bahwa durian mengandung kompon sulfur Diethyl Disulfide yang menghambat pencernaan alkohol dalam tubuh.

Karena pencernaan alkohol terhambat maka acetaldehyde akan mengalir lama dalam darah, juga ke seluruh tubuh, sehingga rasa mual hebat pun bergejolak.

Oleh karena itu orang yang minum alkohol sembari memakan durian biasanya akan muntah-muntah 10 kali lebih banyak dari yang tidak memakan buah itu.

Proses pembuatan yang butuh kesabaran

Penjual sopi di pinggiran jalur Trans Flores, dan proses penyulingan Sopi (bawah)
Penjual sopi di pinggiran jalur Trans Flores, dan proses penyulingan Sopi (bawah) | Samuel Rabenak /Beritagar.id

Umumnya, sopi dibuat dari resapan air pohon aren atau enau (Arenga pinnata). Pada beberapa kawasan, seperti di Aimere dan Bajawa, sopi juga dibuat dari kucuran air pohon lontar.

Untuk mendapatkan resapan air terbaik dari pohon aren tersebut, sopi biasanya diproduksi pada musim kemarau. Karena jika dilakukan pada musim penghujan, biasanya air pohon itu akan bercampur dengan air hujan.

Masyarakat masih menggunakan bambu untuk menampung resapan air pohon tersebut.

Air pohon aren itu kemudian dimasak dengan dicampur berbagai akar-akaran, agar tak langsung mengendap dan menjadi gula aren. Uap air masakan itu ditampung dalam wadah corong bambu yang secara perlahan, setetes demi setetes, mengalir ke wadah botol.

Penyulingan bisa berlangsung selama tiga hari, tergantung banyaknya air pohon aren yang didapat. Untuk membakarnya tak menggunakan minyak, melainkan kayu bakar.

Pada penyulingan pertama ini, kadar alkoholnya hanya sekitar 5-25 persen. Mirip dengan rasa anggur merah atau wine dengan warna putih.

Kemudian penyulingan kedua, yang tentunya menghasilkan kadar alkohol yang lebih meningkat dengan kandungan 25 persen hingga 50 persen. Sopi kualitas inilah yang kerap dijual di pinggiran jalan Trans Flores. Warnanya lebih cenderung kekuningan.

Untuk mendapatkan sopi kelas satu, penyulingan ketiga pun dilakukan. Pada penyulingan ketiga ini kadar alkoholnya jadi sangat tinggi dan tetesan air jauh lebih sedikit. Itulah kenapa sopi kualitas tertinggi berwarna bening ini sangat mahal.

Usai disuling, sopi kelas satu itu dipendam dalam tanah selama beberapa hari untuk mendapatkan rasa yang lebih enak.

Total waktu pemrosesan sopi kelas satu itu mencapai 7-10 hari.

Untuk bisa menyaksikan bagaimana masyarakat setempat berinteraksi sembari menenggak sopi, datanglah ke desa-desa di Labuan Bajo saat sedang ada perayaan. Bisa berupa pesta adat, musim panen, atau pesta lainnya.

Saat itulah Anda bisa melihat dan merasakan mengapa mereka menganggap minuman beralkohol yang biasa dinikmati bersama pada malam hari di bawah taburan bintang itu sebagai minuman kekeluargaan.