Pantai Lumban Bulbul Ilustrasi Awan
Pantai Lumban Bulbul Beritagar.id / Dian Afrillia

Balige, sisi lain Danau Toba

Datanglah ke Balige, daerah selain Samosir untuk nikmati Danau Toba.

Langit masih berwarna biru cerah ketika saya tiba di Pantai Lumba Bul-Bul, Balige, Sumatra Utara. Kedatangan saya disambut oleh suara ombak yang bergantian menyapu pantai pasir putih.

Satu hal yang membawa saya ke sini adalah keinginan untuk melihat pantai di Danau Toba. Tak bisa dimungkiri bahwa pantai bukan objek wisata populer di Danau Toba. Nama Pulau Samosir tentu lebih terkenal di kalangan wisatawan.

Namun, karena itulah saya semakin ingin menyaksikan pesona alam lainnya di tanah Sumatra Utara ini.

Berjalan menyusuri tepi pantai, saya melihat banyak anak kecil berlarian, sedangkan beberapa orang dewasa memilih santai-santai dalam saung. Di ujung pantai, ada dermaga yang dimanfaatkan anak-anak untuk meloncat ke air lalu berenang.

Sepintas, Pantai Lumban Bul-Bul sama seperti pantai pada umumnya. Keunikannya adalah pantai ini memiliki air tawar.

Di tepi pantai, ada beberapa objek foto seperti tulisan Pantai Lumba Bul-Bul dan patung putri duyung.

Kemudian, ada juga kapal-kapal kecil yang bisa disewa untuk berkeliling area pantai dan permainan air seperti banana boat.

Pantai Lumban Bul-Bul hanyalah salah satu objek wisata di kawasan Balige.

Jarak pantai ini lebih kurang 60km dari Parapat, Simalungun. Jika datang dari Samosir, tentunya harus menyeberang terlebih dahulu sampai ke Parapat. Sementara itu, dari arah Bandara Silangit Siborong-Borong, bisa ditempuh selama 30-40 menit.

Selain pantai, Balige juga punya Bukit Tarabunga untuk menikmati keindahan Danau Toba dari sisi lain.

Tepat dari atas bukit, Anda bisa melihat keindahan Danau Toba yang bersanding dengan bukit-bukit di sekitarnya. Lalu, tampak pula garis Pantai Pakkodian dan beberapa makam besar di kejauhan.

Pemandangan Danau Toba dari Bukit Tarabunga
Pemandangan Danau Toba dari Bukit Tarabunga | Dian Afrillia /Beritagar.id

Pizza Andaliman

Nama restoran Pizza Andaliman berulang kali saya temukan saat mencari informasi soal tempat yang wajib dikunjungi di Balige ini.

Konon, yang membuat pizza ini unik karena menggunakan andaliman, rempah seperti merica yang banyak digunakan dalam masakan Batak.

Terdorong rasa penasaran, saya pun memilih menikmatinya saat makan siang. Lokasinya ada di Jalan Siborong-Borong - Parapat, Sangkar Nihuta, Balige.

Terdapat dua pilihan menu pizza, yaitu biasa dan complete.

Pada pizza biasa diberikan taburan sayuran dan keju, sedangkan pizza complete ditambah sosis.

Saya pun memilih memesan pizza complete dan jus andaliman.

Tak sampai 15 menit, pesanan telah tiba di depan mata. Sekilas, memang seperti pizza pada umumnya dengan banyak keju pada bagian atas. Lalu, di bawah keju, ada irisan sosis, wortel, daun bawang, dan jagung. Jika dimakan tanpa keju, rasanya agak mirip seperti bakwan.

Ketebalan pizza termasuk sedang dan disajikan tidak terlalu garing. Rotinya masih berwarna putih, seperti tidak dipanggang. Saya merasa seperti sedang makan roti mentah. Begitu pun dengan sayuran di atasnya yang terasa tidak matang. Nyaris mirip makan bakwan setengah matang.

Perbedaan pizza yang terlihat ada pada saus. Untuk memperkaya cita rasa, ada tiga jenis saus yang disediakan, yaitu saus cabai, campuran mayones dan andaliman, serta saus andaliman.

Juru masak di Pizza Andaliman yang akrab dengan panggilan Ibu Hota mengatakan, saus andaliman dibuat dari kacang, andaliman, asam, dan cabai. Rasanya pedas, mirip bumbu kacang tapi lebih getir.

Kedua saus dengan campuran andaliman agak asing di lidah saya. Saya juga merasa kurang cocok dengan rasa pizza-nya. Maklum, lidah saya lebih familiar dengan pizza di restoran waralaba yang tersebar di Jakarta.

Selain pizza dan sausnya, lidah saya juga menolak rasa jus andaliman, yang merupakan campuran andaliman, susu, dan asam. Rasanya seperti minum jus merica campur jeruk nipis, asam dan pedas. Akhirnya, buru-buru saya memesan jus markisa yang lebih ramah di lidah.

Setelah makan pizza, saya pun menuju ke Tugu D.I Panjaitan yang berjarak 1,5km dari Pizza Andaliman.

Salah satu kelebihan Balige adalah adanya kendaraan umum seperti becak motor sehingga memudahkan mobilitas wisatawan.

Pizza andaliman
Pizza andaliman | Dian Afrillia /Beritagar.id

Balige Street Festival

Jika datang ke Balige pada hari Sabtu mulai pukul empat sore, mampirlah ke Balige Street Festival di Tugu D.I Panjaitan.

Festival ini merupakan acara hiburan rakyat yang menampilkan pentas budaya. Tak hanya profesional, siapa saja bisa tampil di panggung ini.

Ketika saya datang, ada anak-anak dari SD HKBP Balige yang menampilkan musik tradisional dan nyanyian dengan bahasa Batak. Setelahnya, dilanjutkan oleh tari tradisional oleh remaja dari sanggar tari di Balige dan lagu-lagu Batak oleh band remaja.

Diselenggarakan oleh Komunitas Seni Budaya Kreatif (KSBK) Tobasa, acara ini menjadi ajang unjuk kebolehan bagi kalangan non profesional agar berani tampil di depan umum.

Kemasan acaranya sangat sederhana. Memanfaatkan panggung terbuka di Tugu D.I Panjaitan tanpa banyak hiasan. Pengunjung yang tiba datang bisa menikmati acara sambil duduk-duduk di depan panggung, bahkan bisa sambil mencicipi jajanan kaki lima yang berderet di pintu masuk tugu.

Remaja Balige menampilkan tarian tradisional dalam Balige Street Festival
Remaja Balige menampilkan tarian tradisional dalam Balige Street Festival | Dian Afrillia /Beritagar.id