Banyuwangi gelar 72 festival sepanjang 2017

Ilustrasi Banyuwangi Festival
Ilustrasi Banyuwangi Festival | Yavuz Sariyildiz /Shutterstock

Kabupaten di ujung paling timur pulau Jawa ini menyimpan begitu banyak keindahan. Sampai-sampai, bisa disulap sedemikian rupa menjadi 72 festival yang akan digelar sepanjang 2017.

Banyuwangi mendapat penghargaan dari Menteri Pariwisata, Arief Yahya, sebagai "The Best Festival City" di Indonesia. Predikat tersebut diberikan Arief Yahya pada acara peluncuran Banyuwangi Festival 2017 kantor Kementerian Pariwisata.

Banyuwangi dinilai telah sukses meningkatkan kuantitas dan kualitas pada festival yang telah rutin diadakan sejak tahun 2012.

Menurut Arief Yahya, terselenggaranya Banyuwangi Festival menghasilkan nilai budaya yang berkaitan dengan tingkat kebahagiaan dan nilai bisnis yang dapat memberi keuntungan secara ekonomi bagi masyarakat.

Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi, mengatakan bahwa dengan adanya festival, turut membantu promosi pariwisata, memaksimalkan potensi daerah dan memberikan semangat ke masyarakat untuk bersama-sama membangun daerah.

Tahun ini, menurut Abdullah, festival yang digelar di kota dengan julukan Sunrise of Java ini akan lebih kaya budaya dan potensi kreativitas masyarakat. Pernyataan tersebut bisa dibuktikan dalam festival dari Februari hingga Maret berikut ini:

Februari

Pada bulan Februari, diadakan Festival Angklung Caruk Pelajar yang menampilkan kelompok kesenian angklung yang dipertemukan dalam satu panggung. Mereka adu tebak gendhing dan unjuk kepandaian memainkan alat musik berlaras pelog serta diiringi musik khas Banyuwangi.

Angklung caruk berhiaskan motif hias ular naga sehingga tampak gagah. Untuk setiap penampilan, satu kelompok terdiri dari 12-25 orang. Tak hanya angklung, ada pun alat musik lain yang jadi pelengkap, seperti kethuk, gong, slenthem, saron dan kluncing.

Maret

Salah satu acara yang digelar pada bulan Maret adalah Banyuwangi Green and Recycle Fashion Week. Acara ini menampilkan karya-karya fesyen dari bahan daur ulang.

Bahan yang digunakan antara lain kantung plastik hitam, bungkus minuman kopi, bungkus sabun cuci, bungkus cokelat, dan segala jenis plastik.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengajak masyarakat mendukung gerakan pengurangan plastik serta memanfaatkannya dalam bentuk lain. Salah satunya adalah fesyen.

Tak hanya pakaian, segala ornamen dan dekorasi yang ada di festival ini juga terbuat dari barang bekas, salah satu contohnya adalah tirai berbahan botol bekas. Ada juga kursi dari tong bekas dan meja berbahan ban bekas.

Banyuwangi Green and Recycle Fashion Week menjadi ajang bagi para perancang dan model untuk unjuk bakat dalam dunia mode sekaligus kreativitas dalam mendaur ulang sampah.

Sebelumnya, di bulan Januari, telah diadakan Festival Sedekah Oksigen dan Festival Jeding Rijig di Desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi. Selain kedua pergelaran pada Februari dan Maret, masih ada puluhan perhelatan yang akan diadakan Banyuwangi.

Beberapa di antaranya adalah festival baru, seperti festival khusus untuk orang kembar dari seluruh dunia, festival sastra, sail yacht festival, dan festival bambu.

Tempo menulis daftar festival besar yang telah jadi ikon Banyuwangi, seperti Internasional Tour de Banyuwangi Ijen, Banyuwangi Ethno Carnival, Festival Gandrung Sewu, Banyuwangi Beach Jazz Festival, dan Jazz Ijen.

Ada pun festival bertema mode, seperti Green & Recycle Fashion Week, Kebaya Festival, Banyuwangi Batik Festival, dan Banyuwangi Fashion Festival.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR