Patung Putri Mandalika di Pantai Seger mengilustrasikan sejumlah pangeran yang mengejarnya, namun ia memilih mengorbankan dirinya untuk menjaga persatuan Ilustrasi Awan
Patung Putri Mandalika di Pantai Seger mengilustrasikan sejumlah pangeran yang mengejarnya, namun ia memilih mengorbankan dirinya untuk menjaga persatuan Beritagar.id / Yoseph Edwin

Bau Nyale, tradisi menangkap Putri Mandalika

Tradisi Bau Nyale di Pantai Seger, Lombok, NTB, selalu menarik perhatian banyak orang. Pemerintah setempat pun memanfaatkannya untuk menjaring banyak wisatawan.

Alkisah, ada sebuah kerajaan yang dipimpin sesosok arif dan bijaksana bernama Raja Tonjeng Beru dan istrinya bernama Dewi Seranting. Kerajaan bernama Tanjung Bitu tersebut berdiri di pesisir selatan dari wilayah yang saat ini kita kenal sebagai Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Raja dan ratu itu dikaruniai seorang anak perempuan, Putri Mandalika namanya. Ia dikisahkan memiliki rupa yang cantik, cerdas, dan berperilaku sopan.

Kesempurnaan rupa dan tabiatnya tersebut membuat nama Putri Mandalika terkenal hingga ke berbagai negeri seberang. Tak sedikit raja dan pangeran yang jatuh hati dan ingin meminangnya.

Persaingan untuk berebut hati sang putri pun meruncing. Konon, saking panasnya persaingan, siapapun pilihan sang putri dapat memicu terjadinya serangan dari mereka yang tidak terpilih. Potensi perang besar pun menggelayut di kerajaan tersebut.

Sang putri lalu bersemedi untuk mencari petunjuk mengenai apa yang harus dilakukannya menghadapi dilema tersebut.

Singkat cerita, usai bersemedi--tepatnya pada tanggal 20, bulan 10, penanggalan Sasak--Putri Mandalika memanggil semua raja dan pangeran yang menaruh hati padanya untuk berkumpul di Pantai Seger.

Di hadapan mereka semua, ia menyatakan tidak bisa memilih salah satu dari raja dan pangeran tersebut. Putri Mandalika lalu berlari ke arah pantai dan lompat ke laut, usai menyatakan bahwa semua orang dapat menemukannya setiap tahun.

Putri Mandalika rupanya memilih untuk mengorbankan diri ketimbang kerajaan terseret dalam peperangan bila menikah dengan salah satu raja dan pangeran yang meminangnya.

Jasad sang putri tak pernah ditemukan di laut tersebut. Namun, di tempat ia menjatuhkan diri muncul cacing laut berwarna hijau dan cokelat, yang oleh warga setempat disebut nyale.

Masyarakat Suku Sasak menganggap nyale adalah jelmaan dari Putri Mandalika, yang mengorbankan diri demi kesejahteraan kepada penduduk kerajaan tersebut. Kepercayaan itu terbit karena hijau dan cokelat adalah warna selendang yang dipakai sang putri saat menceburkan diri.

Kisah tersebut yang kemudian menjadi dasar munculnya tradisi menangkap cacing laut yang disebut Bau Nyale, setiap tanggal 20, bulan 10, penanggalan Sasak. Bau adalah kata dalam bahasa Sasak yang berarti menangkap.

Ribuan orang datang dan rela bermalam di lokasi Pantai Seger guna mencari nyale pada dini hari hingga subuh
Ribuan orang datang dan rela bermalam di lokasi Pantai Seger guna mencari nyale pada dini hari hingga subuh | Yoseph Edwin /Beritagar.id

Tradisi itu dikatakan sudah dimulai oleh Suku Sasak sebelum abad ke-16. Saat waktunya tiba, ribuan orang akan datang ke Pantai Seger di Lombok Tengah sejak malam hari.

Mereka rela bermalam di pinggir pantai, baik dengan mendirikan tenda atau hanya menggelar tikar, menunggu dini hari untuk berburu nyale. Panen cacing laut tersebut dilakukan hingga subuh, tepat sebelum Matahari terbit.

Masyarakat setempat percaya, jika mereka mengabaikan momen Bau Nyale tersebut, kemalangan akan datang menimpa mereka.

Tradisi Bau Nyale sekaligus menjadi penanda masyarakat akan berakhirnya periode musim hujan.

Ribuan warga memadati pesisir pantai untuk mencari "Nyale" (cacing laut) di Pantai Seger, Lombok Tengah, NTB, Rabu (7/3)
Ribuan warga memadati pesisir pantai untuk mencari "Nyale" (cacing laut) di Pantai Seger, Lombok Tengah, NTB, Rabu (7/3) | Ahmad Subaidi /Antara Foto

Cacing bernilai tinggi

Secara ilmiah, nyale bernama latin Eunice fucata. Fauna merupakan bagian dari kelas Polychaeta, kelas cacing Annelida yang umumnya hidup di laut. Sebagian juga bisa ditemukan di sungai dan danau air tawar. Beberapa lainnya hidup di darat (terrestrial).

Cacing ini memiliki rupa menarik karena berwarna hijau dan cokelat sesuai dengan jenis kelaminnya. Cacing jantan memiliki warna tubuh cokelat sedangkan betina memiliki warna tubuh hijau.

Eunice fucata hidup di koral-koral dalam lautan. Mereka bereproduksi setahun sekali dan ketika proses reproduksi itu terjadi itulah, telur yang terbungkus dan sperma muncul ke permukaan laut hingga terbawa ombak ke tepi pantai.

Jadi, dipaparkan Karin Muller dari National Geographic, sebagian besar bagian tubuh yang kemudian mengambang dan diburu oleh orang-orang tersebut adalah kantung telur dan sperma dari cacing laut, bukan tubuh sebenarnya.

Proses reproduksi tersebut hanya berlangsung selama beberapa jam dan tak bisa dijamin kesuksesannya. Apalagi jika ada banyak tangan yang memburu mereka.

Telur dan sperma yang bisa bertemu dan bereproduksi dengan sempurna, akan melahirkan cacing laut baru. Cacing-cacing yang baru lahir itu bakal mengambang selama beberapa hari, lalu tenggelam untuk hidup di koral.

Kemunculan nyale di Pulau Lombok selalu terjadi pada periode antara Februari dan Maret setiap tahunnya, tergantung pada kondisi alam saat itu.

Cacing laut itu diketahui memiliki nilai yang tinggi. Mereka bisa ditaburkan di sawah karena dipercaya dapat menyuburkan tanah hingga membuat hasil panen berlimpah.

Hewan ini juga bisa dimakan langsung atau diolah menjadi lauk-pauk, penyedap masakan, obat antibiotik, hingga obat penambah stamina karena memiliki kandungan gizi yang tinggi.

Kalau yang menangkap tak ingin mengonsumsinya, cacing itu laris dijual di pasar karena banyak peminatnya.

Dilansir dari laman Sari Husada, nyale memiliki kandungan protein yang jauh lebih tinggi dari telur ayam ras dan susu sapi. Cacing laut itu memiliki kandungan protein sebanyak 43,84 persen sedangkan telur ayam ras dan susu sapi masing-masing sebesar 12,2 persen dan 3,50 persen.

Mereka juga memiliki kadar fosfor sebesar 1,17 persen, lebih tinggi dari telur ayam ras (0,02 persen) dan susu sapi (0,10 persen). Lalu ada juga kandungan kalsium (1,06 persen) yang masih lebih tinggi dari kandungan kalsium susu sapi (0,12 persen).

Perayaan yang semakin megah

Lokasi Pantai Seger, tempat acara puncak Festival Bau Nyale, juga menjadi ajang pasangan muda-mudi menghabiskan waktu bersama
Lokasi Pantai Seger, tempat acara puncak Festival Bau Nyale, juga menjadi ajang pasangan muda-mudi menghabiskan waktu bersama | Yoseph Edwin /Beritagar.id

Perayaan Bau Nyale tahun ini berlangsung lebih meriah dari biasanya. Keterlibatan langsung Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) jadi penyebabnya. Acara ini sebelumnya hanya dibantu pelaksanaannya oleh pemerintah kabupaten setempat.

Selain itu, kemeriahan juga dipicu kehadiran nyale yang tak biasa pada 2018 ini. Mereka muncul ke permukaan pada periode waktu yang lebih lama dari biasanya.

"Biasanya, nyale atau cacing itu akan muncul dalam waktu satu minggu, namun tahun ini spesial karena cacing muncul sekitar dua minggu dari tanggal 20 Februari," ujar Kepala Bidang Atraksi dan Daya Tarik Wisatawan Dinas Pariwisata Provinsi NTB, Baiq Rahmayati, saat ditemui Beritagar.id di Mataram, Lombok Barat (8/3).

Periode kemunculan yang lebih panjang itu, jelas Rahmayati, memungkinkan Bau Nyale diadakan dua kali. Pertama, pada awal kemunculannya masyarakat setempat sudah melakukan apa yang mereka sebut "nyale awal".

Kemudian Pemprov NTB, untuk menarik lebih banyak wisatawan, menyelenggarakan "nyale akhir" yang jatuh pada tanggal 6 dan 7 Maret dan menjadikannya sebagai puncak sebuah festival.

Sejak Nyale awal, Dinas Pariwisata NTB sudah mulai menggelar beragam acara untuk memeriahkan festival yang kini menjadi satu dari 100 acara kalender pariwisata nasional.

Ada 12 macam aktivitas yang diadakan dalam perayaan Bau Nyale 2018. Tahun ini pemerintah provinsi juga berinovasi dengan menghadirkan acara-acara baru yang bertaraf internasional.

"Tahun ini ada beberapa acara baru, seperti Mandalika Etno Performance, Mandalika World Music Festival, kompetisi voli internasional, yang belum ada dalam perayaan Bau Nyale tahun-tahun sebelumnya," jelas Maya, sapaan akrab Rahmayati.

Hal ini tidak lain bertujuan untuk lebih "memasyarakatkan" festival masyarakat sasak kepada wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Acara-acara menyambut puncak Bau Nyale, yang baru melibatkan pemerintah dalam 2-3 tahun terakhir ini, tidak hanya bertempat di Pantai Seger. Perayaan juga dilakukan di sejumlah area di Lombok Tengah, seperti Parade Budaya yang mengambil lokasi di Kota Praya, sekitar 30 km di utara Pantai Seger.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, Lalu Moh. Faozal, menjelaskan bahwa penentuan lokasi yang lebih menyebar di Lombok Tengah ini merupakan usaha agar masyarakat area lain juga ikut terlibat.

Festival Bau Nyale menjadi acara pertama dalam kalender pariwisata nasional, bahkan juga salah satu pembuka dari sederetan acara lain yang tengah dipersiapkan pemerintah provinsi NTB untuk tahun ini.

"Ada empat dari sejumlah acara Dinas Pariwisata NTB yang masuk ke dalam kategori 'Wonderful Event'. Setelah Bau Nyale akan ada Festival Pesona Tambora pada bulan April, disusul Festival Pesona Lombok Sumbawa, dan Festival Pesona Mayo," jelas Maya.

Semua acara tersebut, menurut Esthy Reko Astuti, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata, adalah bagian dari upaya Pemprov NTB untuk mendatangkan 4 juta wisatawan sepanjang 2018.

Tahun lalu, kawasan yang juga terkenal dengan pemandangan laut dan kemegahan Gunung Rinjani ini, berhasil menggaet 3.508.903 wisatawan--2.078.654 di antaranya wisatawan lokal dan 1.430.249 wisatawan mancanegara.