Kawasan wisata Kampung Bambu Klatakan, Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Senin (28/05/2018). Ilustrasi Awan
Kawasan wisata Kampung Bambu Klatakan, Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Senin (28/05/2018). Beritagar.id / Reza Fitriyanto

Belajar sambil berwisata di kampung bambu Klatakan

Tak banyak wisatawan yang tahu bahwa sejatinya alam sekitar Candi Borobudur juga memiliki keindahan yang patut dikunjungi, salah satunya adalah Kampung Bambu Klatakan di Dusun Bojong, Desa Wringinputih, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.

Tak semua warga yang tinggal di sekitar Candi Borobudur mengetahui lokasi Kampung Bambu Klatakan, meskipun lokasinya hanya sekitar lima kilometer dari candi Buddha terbesar di Indonesia.

Namun, ketika saya menyebut detil alamatnya, yaitu Dusun Bojong, Desa Wringinputih, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, beberapa orang baru bisa memberikan petunjuk arah.

“Klatakan itu nama baru. Nama aslinya ya, Bojong,” kata Sarjono (40) salah satu pengelola desa wisata Kampung Bambu Klatakan saat saya berwisata ke sana pada hari Senin (28/5/2018).

Nama Klatakan muncul usai area persawahan di Dusun Bojong tergenang luapan air sungai Progo pada suatu waktu. Bebatuan kali yang tumpang tindih ikut menerjang persawahan yang kemudian memunculkan istilah “klatakan”. Alhasil, sebutan itulah yang menjadi nama daerah di lokasi wisata baru seputaran Borobudur.

Awalnya, kampung bambu itu adalah area perkebunan bambu milik warga. Keberadaan kebun bambu sudah ada sejak zaman nenek moyang bermukim di sana. Sekarang, luasnya sekitar 15 hektare, tetapi dulu lebih luas lagi.

Dahulu, kawasan Kampung Bambu Klatakan merupakan hamparan hutan bambu. Seiring waktu, hutan tersebut sedikit demi sedikit hilang tergerus dengan pertumbuhan penduduk dan pengadaan perkampungan.

Kampung Bambu Klatakan dibuka menjadi area wisata pada 2012. Pembukaannya pun tak lepas dari campur tangan pihak Taman Wisata Candi (TWC) dan Dinas Pariwisata setempat yang memang tengah mengembangkan desa wisata seputaran candi.

Proses menjadikan kampung sebagai objek wisata ternyata terbilang sulit. Pasalnya, membutuhkan waktu yang tidak sebentar dalam mempersiapkan sumber daya manusia.

“Sempat 'tidur' lagi empat tahun. Terus digugah (dibangunkan) 2016 lalu,” kata Sarjono.

Warga Bojong pun berbenah. Sejumlah fasilitas berbahan bambu disiapkan. Pembuatan lima gazebo siap dibangun dengan bantuan BUMN. Fungsi dari gazebo tersebut antara lain untuk pos jaga di lokasi parkir, musala, dan wadah penduduk setempat berjualan.

Kampung Bambu Klatakan resmi dibuka sebagai obyek wisata pada tahun 2017 silam dan dihadiri oleh Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah.

Saya merasakan suasana yang asri di sekitar Kampung Bambu Klatakan saat waktu siang saya mengunjunginya. Saya mendengar sekilas bunyi gemerisik dedaunan bambu yang saling bergesekan dan suara derit batang-batang bambu yang meliuk ditiup angin. Semuanya bak irama musik selamat datang yang menyambut hangat.

Batang-batang pohon yang menjulang dan tumbuh menggerombol menciptakan payung alami berupa dedaunan rimbun di atas kepala saya. Alhasil, tercipta suasana yang adem meski Matahari sedang tinggi-tingginya.

Kawasan wisata Kampung Bambu Klatakan, Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Senin (28/05/2018).
Kawasan wisata Kampung Bambu Klatakan, Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Senin (28/05/2018). | Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Tanpa berhias pun, kampung bambu tetap terlihat cantik. Batang pohon yang menjulang di kanan-kiri jalan terasa seperti gapura selamat datang. Lokasi ini menciptakan latar belakang foto yang menarik sehingga sangat cocok untuk Anda yang hobi swafoto atau selfie.

Kegiatan positif yang bisa dilakukan pengunjung di kampung ini adalah mempelajari keanekaragaman rumpun bambu. Paling tidak ada sekitar 10 jenis bambu yang tumbuh sehat dan indah. Sejumlah papan keterangan yang tertancap pada pohon menginformasikan nama-nama jenis bambu.

Beberapa jenis bambu yang ada di sini adalah petung, ori, jawa, gombong, dan masih banyak lagi. Namun, berdasarkan pantauan saya, tak sedikit papan nama yang telah rusak dan hilang.

Menurut Sarjono, bambu gombong seperti petung, tetapi diameternya lebih kecil dan biasa digunakan untuk membuat kentongan serta bangunan. Dia menambahkan bahwa bambu legi kurang bagus untuk bahan bangunan karena teksturnya yang tipis.

Walaupun telah menjadi objek wisata, tak ada larangan bagi warga setempat untuk menebang pohon bambu untuk dimanfaatkan dalam kebutuhan sehari-hari, terutama bambu-bambu yang usianya sudah tua berkisar enam tahun ke atas.

“Kalau bambu tua enggak ditebang akan makin rusak karena makin kering,” imbuhnya.

Anehnya, meskipun disebut kampung bambu, tak ada warga di sana yang menjadi perajin bambu. Warga lebih banyak bekerja sebagai petani dan penyadap nira.

Sayangnya, siang itu saya datang pada waktu yang tak tepat. Hampir tak ada pengunjung lain yang mampir ke sana di bulan Ramadan ini, hanya beberapa orang warga setempat yang berpapasan di kebun bambu usai mereka mandi dan mencuci baju di aliran sungai di bawahnya.

Selain itu, saya juga tak melihat keberadaan seorang penjual makanan yang menyemarakkan lapak-lapak bambu yang disediakan. Menurut Sarjono, pasar kuliner hanya diadakan saban hari Minggu Legi, mulai pukul 07.00-12.00 WIB.

Sajian yang dijual adalah makanan khas dusun, yakni nasi jagung kluban, singkong bumbu ingkung, bubur dengan minuman nira kelapa yang disebut badeg. Jajanannya serba dari ketela, seperti getuk, kemplang, dan cothot. Soal jajanan pasar ini, Sarjono menyimpan cerita berkesan.

“Dari sekian kuliner yang disajikan, Presiden malah pilih kemplang,” kata Sarjono sambil tersenyum.

Ada nada bangga dari suaranya saat mengisahkan kedatangan Presiden Joko Widodo ke Kampung Bambu Klatakan dalam rangka kunjungan kerja tahun 2017.

Kabarnya, pasar kuliner tersebut bakal dihidupkan setiap Ahad Kliwon usai Lebaran 2018 nanti. Nantinya, seiring perkembangan jumlah pengunjung, pasar kuliner direncanakan aktif setiap hari.

Anda yang hobi berolahraga air, seperti rafting dan arum jeram, pasti akan memiliki pengalaman menarik di sini.

Rute untuk arung jeram mulai dari Kali Progo dan berakhir di Kampung Bambu Klatakan, lebih kurang satu jam lebih Anda akan merasakan serunya mengarungi arus sungai menggunakan perahu karet, dayung, kayak, dan kano.

Saat tiba di bawah kebun bambu, maka pengunjung dapat menikmati aliran sungai tempuran yang merupakan lokasi pertemuan beberapa sungai, yaitu Progo, Tangsi, dan Gending.