Pintu masuk Gua Batu Cermin, di kawasan Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores Barat, Nusa Tenggara Timur. Ilustrasi Awan
Pintu masuk Gua Batu Cermin, di kawasan Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores Barat, Nusa Tenggara Timur. Beritagar.id / Samuel Rabenak

Bercermin di Gua Batu Cermin

Meski fasilitas minim dan cenderung tak terurus, Gua Batu Cermin masuk salah satu destinasi wisata alternatif di Labuan Bajo yang karena keindahan alamnya layak disambangi.

Kurang terawat namun mengundang rasa penasaran. Mungkin itu bisa menggambarkan objek wisata alam Gua Batu Cermin.

Dalam bahasa lokal, Gua Batu Cermin juga disebut Watu Sermeng. Lokasinya masih berada di kawasan Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Seperti diceritakan Agustinus Albu (49) yang merupakan mantan Kepala Desa Batu Cermin, menurut sejarah gua seluas 19 hektare dengan tinggi 75 meter itu ditemukan oleh Theodore Verhoven, seorang arkeolog Belanda pada tahun 1951.

Atas penemuannya itu, Verhoven punya teori bahwa dulu Pulau Flores adalah dasar laut. Hal itu berdasarkan temuan koral dan fosil satwa laut yang menempel pada dinding gua serta material bebatuan goa yang identik dengan karang dasar laut.

Menurut Agustinus, Gua Batu Cermin berpotensi menjadi salah satu destinasi wisata alam yang populer. Apalagi kawasan Labuan Bajo adalah salah satu destinasi wisata yang dipercepat pembangunannya terkait program Bali Baru yang dicanangkan pemerintah Indonesia.

Karena jaraknya cukup dekat--sekitar enam km dari Labuan Bajo--Anda yang ingin berwisata alternatif atau menyukai wisata gua, bisa menyambangi kawasan ini.

Anda dapat menggunakan kendaraan bermotor, baik itu mobil atau motor. Kendaraan bisa diparkir dekat area gua. Dari sana, jaraknya cukup dekat, sekitar 300 meter untuk sampai di mulut gua, setelah sebelumnya melintasi hutan bambu.

Jika ingin menyewa taksi, Anda cukup membayar sekitar Rp60 ribu saja. Namun jika ingin menggunakan motor, cukup sewa saja di sekitar pelabuhan Labuan Bajo dengan kisaran Rp85 ribu sampai Rp200 ribu, tergantung jenis motor.

Persiapan jelajah gua

Anda disarankan menggunakan sepatu yang melindungi pergelangan kaki dari tajamnya bebatuan gua. Pakai juga kaus yang relatif menyerap keringat.

Tak dilarang menggunakan celana pendek, tapi tak disarankan. Tajamnya bebatuan gua dapat melukai kaki Anda. Perkakas lain dapat Anda bawa menggunakan ransel yang tak terlalu besar.

Walau secara geografis gua ini dekat dengan Pantai Gorontalo, namun tak ada sendang atau kolam air di dalamnya.

Waktu terbaik untuk menjelajah gua, yakni pada pukul 10.00 sampai 13.00 WITA. Sebab, pendaran cahaya matahari cukup menerangi dinding gua.

Sebelum memasuki area gua, Anda harus mendaftar di loket pelayanan pengunjung. Siapkan saja uang Rp10 ribu bagi turis lokal. Turis mancanegara harus bayar Rp20 ribu.

"Kunjungan wisatawan ke gua ini cukup tinggi, terlebih ketika musim-musim kemarau pada bulan Mei hingga Agustus," terang Paulus Liut (37), pemandu gua yang telah dua tahun secara resmi ditugaskan Dinas Pariwisata Manggarai Barat.

Turis tengah mendapat arahan dari pemandu Gua Batu Cermin sebelum memasuki kawasan itu.
Turis tengah mendapat arahan dari pemandu Gua Batu Cermin sebelum memasuki kawasan itu. | Samuel Rabenak /Beritagar.id

Anda akan memulai perjalanan dengan melalui jalan berselimut conblock dengan lebar tak lebih dari dua meter. Pada sisi kiri dan kanan deretan pohon bambu akan menemani langkah. Sekitar 20 menit perjalanan santai, Anda akan mendapati gerbang gua yang bercabang.

Untuk memasuki gua utama Anda akan menaiki tangga yang terbuat dari semen. Sementara untuk melihat sisi lain gua, silakan mengambil jalur kiri.

Saat menapaki tangga menuju gua utama, jalurnya relatif lebih bersahabat dengan penerangan yang cukup hingga tiba di bagian tengah gua. Santai saja jangan tergesa, karena tangga itu cukup tinggi dan berkelok.

Kemudian Anda akan mendapatkan semacam batas antara gua pembuka dan gua utama berbentuk dinding batu. Di sana terdapat pohon beringin dan beberapa pohon merambat dengan akar yang cukup besar.

Cermin alami dan fosil kura-kura

Sebelum memasuki gua utama, para pemandu akan mempersiapkan helm dan membekali anda senter untuk penerangan.

Untuk memasuki pintu gua yang sangat kecil, Anda harus membungkuk hingga merangkak, baru kemudian tiba di tengah gua yang gelap.

Saat hendak masuk pintu gua pun, pengunjung harus bergiliran. Hati-hati dengan dinding gua dan stalaktit dan stalakmit tajam. Pakailah helm secara sempurna.

Kondisi gua cukup lembap. Karena tak disarankan Anda mengunjungi gua pada musim hujan atau waktu sehabis hujan.

Di dalam gua utama, Anda akan mendapati cermin alami yang merupakan pantulan cahaya matahari di antara celah gua, Anda juga akan mendapati fosil kura-kura pada dinding gua.

Sementara di bagian luar, pada beberapa titik dinding gua ini juga jadi tempat bersarangnya lebah madu. Pemandangan ini menambah daya tarik gua bagi turis yang berkunjung ke sana. Namun, jangan mengusiknya jika tak mau disengat kawanan lebah yang bergerombol.

Minim fasilitas

Fasilitas yang minim menjadi dalah satu penyebab minimnya wisatawan yang dapat menikmati secara maksimal kawasan wisata Gua Batu Cermin.
Fasilitas yang minim menjadi dalah satu penyebab minimnya wisatawan yang dapat menikmati secara maksimal kawasan wisata Gua Batu Cermin. | Samuel Rabenak /Beritagar.id

Fasilitas objek wisata ini masih minim. Ini sangat disayangkan. Padahal, potensi wisata yang cukup besar sedang bergerak menuju kawasan ini.

"Pemerintah harus gerak cepat membangun infrastruktur di wilayah ini, karena masih minim sekali," harap Agustinus.

Padahal, area Gua Batu Cermin sempat dijadikan salah satu tempat diselenggarakannya Festival Komodo tahun 2017. Namun, usai acara itu hingga saat ini belum ada tanda-tanda pembenahan infrastruktur.

Anda akan melihat beberapa fasilitas yang dibangun sepanjang jalan menuju gua hancur dimakan usia. Seperti istana pandang, fasilitas toilet, atau tempat istirahat. Semua yang terbuat dari bambu, kayu, dan semen, rusak tak terurus.

Agustinus sebagai warga yang juga merangkap pemandu gua, cukup menyayangkan hal itu. Padahal turis yang berkunjung cukup banyak, sekitar 80-100 pengunjung setiap harinya.

Tentu ini jadi pekerjaan rumah Dinas Pariwisata Manggarai Barat untuk terus mengembangkan kawasan ini sebagai salah satu destinasi wisata yang layak kunjung.