TUJUAN WISATA

Buah manis perjuangan Kota Siak di Riau

Pantai di Pulau Riau
Pantai di Pulau Riau | Shutterstock / Erwinjaya Wijaya

Ada kabar baik dari Provinsi Riau. Kawasan pusat pemerintahan Kesultanan Siak Sri Indrapura resmi ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya peringkat nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Kawasan tersebut merupakan salah satu kota pusaka peninggalan kerajaan Melayu Islam terbesar pada masanya.

Alhmadulillah, saya baru mendapat kabar bahwa kawasan pusat pemerintahan Kesultanan Siak Sri Indrapura sebagai salah satu kota pusaka peninggalan kerajaan Melayu Islam telah ditetapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI sebagai cagar budaya,” ujar Syamsuar, Bupati Siak, dalam pernyataan pers yang disiarkan oleh Antaranews.

Dia menambahkan bahwa perjuangan menjadikan Kota Siak sebagai cagar budaya Nasional dilakukan secara bertahap dan konsisten lebih kurang dua tahun terakhir semenjak 13 Februari 2016.

Saat itu, Kota Siak telah terpilih sebagai anggota Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI). Akhirnya, tanggal 15 Desember 2017 kemarin resmi dilakukan penandatanganan piagam komitmen Siak sebagai kota pusaka milik pasangan Indonesia.

Penetapan sebagai cagar budaya melengkapi rasa bangga dan kebahagiaan warga Kota Siak terhadap kota tercintanya tersebut. Pasalnya, semenjak Januari 2018 jumlah pengunjung Kota Siak telah mengalami peningkatkan yang menggembirakan.

H Alfedri, Bupati (Plt), Kota Siak mengatakan bahwa jumlah wisatawan, baik domestik dan mancanegara, total mencapai ratusan ribu orang.

Dia menambahkan, jumlah wisatawan saat liburan Lebaran kemarin juga terbilang cukup tinggi.

“Berdasarkan data kendaraan yang masuk ke kawasan wisata Siak sampai dengan hari Jumat (22/6) berjumlah 68.589 orang. Sementara yang masuk Istana Siak mencapai 39.194 orang. Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang kita dapat mencapai Rp336.705.000,” terang Alfedri kepada GoRiau.

Dia menambahkan bahwa destinasi wisata di Kota Siak yang ramai dipadati pengunjung adalah Istana Asserawah Al Hasyimiah, Taman Turap (Tepian Bandar Sungai Jantan), Taman Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan masih banyak lagi.

“Kalau dihitung dari Januari 2018, total pengunjung yang memasuki kabupaten Siak mencapai 168.178 orang. Jumlah yang memasuki Istana Siak sebanyak 125.184 orang. Lalu, PAD yang kami terima sampai 22 Juni 2018 sudah mendekat Rp600 juta. Target tahun 2018 sebesar Rp1,2 miliar,” imbuhnya.

Pencapaian tersebut pun sekarang semakin lengkap dengan terpilihnya Kota Siak sebagai satu-satunya yang ditetapkan sebagai Kota Pusaka di Provinsi Riau.

“Usai penetapan Kota Pusaka oleh Kementerian PU dan diakui sebagai Cagar Budaya Nasional oleh Kemendikbud. Kami akan melanjutkan perjuangan supaya Kota Siak Sri Indrapura juga diakui oleh UNESCO sebagai Kota Warisan Dunia,” sambung Syamsuar.

Kota Siak memiliki sebutan Kota Istana karena berdiri Istana Siak yang masih kokoh hingga saat ini. Lokasinya tidak jauh dari pelabuhan dan menghadap Sungai Siak. Arsitekturnya yang cantik banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu, Eropa, dan Arab.

Istana yang dibangun pada tahun 1889 silam pada masa kepemimpinan Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaiffudin ini membutuhan waktu pembangunan lebih kurang empat tahun.

Kesultanan Siak pada masa kejayaannya merupakan kerajaan yang kuat dan sangat diperhitungkan di Sumatera sampai Semenanjung Melaya.

Daya tarik wisata Kota Siak lainnya yang banyak dikunjungi adalah sebuah kapal yang terbuat dari baja besi.

Kapal yang sekarang bisa dilihat di dalam lokasi istana ini pernah mengarungi lautan hingga ke Eropa mengantarkan Sultan Siak mengunjungi Belanda untuk penobatan Ratu Belanda sebelum Indonesia merdeka.

Kota Siak terus melakukan pembenahan untuk terus meningkatkan jumlah wisatawan. Salah satu langkah yang ditempuh adalah penyediaan pemandu wisata yang kompeten.

Tak tanggung-tanggung, pihak Pemerintah Kabupaten sampai mengadakan pelatihan dan sertifikasi tenaga pemandu wisata dengan maksimal sampai dengan memenuhi Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).

Pelatihan untuk pemandu wisata ini mencakupi kelas pelatihan, praktek lapangan, dan sertifikasi.

Program tersebut melibatkan kerjasama antara Pemkab Siak dan PT Bumi Siak Pusako (BSP), badan usaha yang sudah banyak dilibatkan dalam upaya pemberdayaan masyarakat di wilayah Kabupaten Siak.

Bismantoro Prabowo, selaku direktur utama dari PT BSP mengatakan bahwa pihaknya selalu mendukung program positif Pemkab Siak untuk mengembangkan daerahnya.

InshaAllah untuk pemberdayaan masyarakat ini. Pemkab Siak akan kami dukung melalui kegiatan CSR bidang pendidikan dan pelatihan,” pungkas Bismantoro.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR