Buang jong, tradisi buang perahu di Belitung

Ilustrasi
Ilustrasi | Nuryahya /Shutterstock

Suku Sawang di Bangka Belitung memiliki sebuah ritual yang unik, yaitu buang jong. Tradisi ini merupakan budaya untuk menghormati leluhur dan keluarga yang telah tiada, serta memohon keselamatan dan kesejahteraan saat melaut.

Buang jong dilakukan oleh rakyat daerah Suku Laut dengan cara membuang perahu jung --perahu layar tradisional-- ke laut. Kegiatan yang sudah dilakukan turun temurun ini dilakukan dalam rangkaian pesta pantai untuk memberi penghormatan pada dewa laut.

Masyarakat Suku Laut atau Suku Sekak ini tinggal di pulau-pulau kecil yang terbentang di antara Pulau Bangka dan Belitung.

Meski tinggal di Bangka Belitung, sebenarnya suku ini merupakan pendatang dari Kepulauan Riau. Kehidupan mereka memang sangat bergantung pada laut. Untuk tradisi buang jong, biasa dilakukan saat masa-masa melaut sedang kurang bagus untuk mencari ikan.

Jong dalam bahasa setempat berarti perahu. Perahu yang akan dilepaskan dalam tradisi ini berukuran sekitar tiga kali satu meter. Semalam sebelumnya, orang-orang akan menari dan berpesta mengelilingi perahu, serta didendangkan syair-syair magis.

Kegiatan yang terdiri dari nyanyian, tari-tarian, dan musik tradisional ini bernuansa magis serta religius karena erat kaitannya dengan kepercayaan-kepercayaan tentang dewa-dewa, terutama dewa laut.

#sukusawang #buangjong #festivalbuangjong #selinsing #gantong #belitungtimur

A post shared by menggale_betuk (@fikrifirdianto) on

Untuk penyelenggaraan, buang jong diadakan setiap tahun, bertepatan dengan musim angin Tenggara yang sedang kuat-kuatnya, yaitu di sekitar akhir bulan Juni dan awal Juli.

Ada pun beberapa bagian dari ritual ini, seperti bediker, naik jitun, mancing, numbak, campak laut, hingga buang jong ke laut Pantai Mudong.

Perlengkapan untuk ritual yang harus dipersiapkan, antara lain kapal jung dan empat buah rumah-rumahan terbuat dari kayu, pelepah kelapa, dan dedaunan. Juga ada aneka sesajen seperti dua sisir pisang, empat buah lepat, enam buah kelapa yang diikat jadi satu, dan sebatang lilin.

Perlengkapan lainnya adalah keranjang dari kelapa berbentuk segi empat, yang diisi beras secukupnya. Keranjang diberi hiasan berupa bentuk manusia di bagian depan, bentuk senjata panjang di bagian kanan, serta bentuk senjata pendek di kiri.

Saat prosesi berlangsung, akan ada beberapa buah perahu layar yang akan membawa seluruh peralatan tersebut ke tengah laut.

Kegiatan dalam buang jong lainnya adalah naik jitun, yang menampilkan seorang pemuda yang kerasukan dan memanjat tiang pohon pinang. Juga ada sesi mancing, numbak duyong, main ancak, dan tari sampan geleng, yang menggambarkan aktivitas melaut Suku Sawang.

Sebagai salah satu kegiatan dalam tradisi, menari memiliki arti tersendiri, yaitu ingin pulang. Jika tangan si penari ke samping, artinya perjalanan masih jauh. Tangan ke atas, artinya sudah dekat.

Orang-orang kan menari bebas sampai pagi, lalu dilanjutkan dengan melarung perahu ke laut. Setelah itu dilakukan bedaek, atau bersyukur yang diutarakan dengan cara berbalas pantun.

"Tradisi Buang Jong adalah kearifan budaya lokal yang harus terus dilestarikan agar generasi penerus, khsususnya dari Suku Sawang dapat mengetahui, menjaga, dan mewariskannya hingga ke anak cucu," ujar Burhanudin, Wakil Bupati Belitung Timur, di perkampungan Suku Sawang, Desa Selinsing, Kecamatan Gantung, Belitung Timur.

Burhanudin mengatakan bahwa tradisi ini dapat menjadi momen bagi Suku Sawang agar selalu solid, bersemangat gotong royong, kebersamaan dan kekeluargaan.

"Kita patut berbangga, ritual buang jong telah mendapat sertifikat WBTB (Warisan Budaya Tak Benda) dari Kemendikbud RI 2016," pungkas Burhanudin.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR