Wisatawan menikmati panorama di Bukit Simarjunjung. Ilustrasi Awan
Wisatawan menikmati panorama di Bukit Simarjunjung. Beritagar.id / Andri Ginting

Bukit Indah Simarjarunjung, wisata kekinian Danau Toba

Liburan ke Danau Toba tak melulu soal belajar sejarah dan budaya saja, ada juga tempat rekreasi kekinian untuk yang gemar berswafoto.

Udara dingin menyergap ketika saya menginjakkan kaki pertama kalinya di Bukit Indah Simarjarunjung , Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara.

BIS--sebutan populer objek wisata yang terbilang baru ini--adalah salah satu lokasi untuk menikmati pemandangan Danau Toba dari ketinggian.

Sembari cuci mata, pengunjung bisa berfoto dengan objek serta latar unik, seperti foto di tengah pohon atau di atas sepeda gantung. Sekilas, mirip seperti tempat wisata di Kalibiru, Yogyakarta dan Maribaya, Bandung.

Berawal dari tempat penatapan atau tempat menikmati pemandangan, sejak dua tahun lalu lokasi ini berubah jadi objek wisata kekinian.

Tempat ini adalah bukti bahwa liburan ke Danau Toba tak melulu soal belajar sejarah dan budaya. Tempat rekreasi bernuansa kekinian yang memfasilitasi anak muda penggemar swafoto pun tersedia.

Tio Elga Sinaga, Komisaris BIS, mengatakan pembangunan objek wisata ini memang terinspirasi dari Jawa, khususnya Kalibiru. Sejak 2016, BIS terus mengembangkan tempat ini dengan berbagai objek foto.

Saya datang ke BIS sekitar pukul 12 siang. Karena bukan hari libur, area parkir lengang, masuk ke dalam pun sepi pengunjung.

Memasuki area BIS, saya melihat rumah terbalik, serta becak yang bersebelahan dengan meja makan berposisi menggantung. Jika pengunjung naik di atas objek lalu difoto, hasilnya akan terlihat seperti melayang.

Tak jauh dari situ, ada kepompong besar dari anyaman rotan yang menggantung di atas pohon, kemudian ada balon udara, rumah pohon, sepeda awan, vespa, bunga matahari, dan kursi bentuk hati dengan desain mirip pelaminan yang bisa dimanfaatkan untuk berfoto.

Menempati lahan seluas dua hektare, BIS memiliki 30 objek foto dengan latar belakang Danau Toba.

Tio mengatakan, setiap objek foto baru di BIS akan mengalami masa percobaan selama dua bulan. Bila kurang banyak peminat, akan diganti dengan konsep yang lain. Jika diminati, selalu diperbaiki dan diperhatikan keamanannya.

Meski memiliki berbagai objek foto menarik, kegiatan mengabadikan momen tentu tak wajib. Duduk santai sambil menikmati suasana dan panorama Danau Toba pun sudah cukup menyenangkan bagi sebagian pengunjung.

Baru sepuluh menit berkeliling, rasanya udara semakin dingin. Wajah serasa ditampar angin. Saya pun berjalan menuju warung yang ada di sudut BIS untuk menghangatkan tubuh dengan semangkuk mi rebus dan teh manis panas.

Entah seberapa dingin udara di Simarjarunjung siang itu, sebab sinyal ponsel tidak terlalu kuat untuk mengecek suhu di aplikasi prakiraan cuaca.

“Kalau makan di sini, mulut harus nempel ke mangkuk,” gurau seorang fotografer di BIS. Saat saya tanya apa alasannya, ia menjawab karena makanan keburu habis terbawa angin saking kencangnya.

Salah satu objek foto di Bukit Indah Simarjarunjung.
Salah satu objek foto di Bukit Indah Simarjarunjung. | Dian Afrillia /Beritagar.id

Perjalanan ke BIS

Untuk sampai ke BIS, saya naik mobil dari Pelabuhan Tigaraja, Parapat, sekitar satu jam. Jarak tempuh ke BIS adalah 35 km dari Parapat, 112 km dari Bandara Silangit Siborong-Borong, dan 42 km dari Pematang Siantar.

Pengunjung bisa naik angkutan kota dari Pematang Siantar dengan jurusan Simarjarunjung. Pilihan lain adalah kendaraan pribadi.

Dari Parapat, jalanan ke BIS akan melewati pinggiran Danau Toba dan menembus hutan arah Berastagi. Meski jalanan terbilang kecil, tetapi cukup mulus.

Hanya saja, sekitar 10 menit terakhir menuju BIS, jalanan mulai berbatu, menanjak pula. “Setengah mampus jalan sini, bikin sakit perut,” kata Nainggolan, sopir yang mengantar saya hari itu.

Meski perjalanan mengocok perut, perjuangan akan terbayar saat sampai di BIS. Ini adalah salah tempat untuk menikmati keindahan Danau Toba dari sisi yang berbeda. Apalagi tempat ini buka 24 jam, sehingga pengunjung bisa datang kapan saja.

Bila datang dari jauh, Anda bisa menginap di rumah pohon. Biayanya hanya Rp100 ribu saja per malam, per ruangan. Satu ruangan, bisa dihuni delapan orang dengan fasilitas tikar, selimut, dan bantal. Konsepnya memang seperti kemah, tetapi dalam ruangan.

Tiket masuk ke BIS, dihitung per kendaraan. Motor Rp10 ribu dan mobil Rp20 ribu. Jika ingin berfoto, pengunjung harus membayar lagi Rp5 ribu per objek. Bisa juga memanfaatkan jasa fotografer dengan membayar Rp10 ribu untuk empat kali foto di objek yang sama.

Setiap fotografer resmi BIS pun menyediakan kamera profesional, jadi pengunjung bisa memilih foto dengan kamera sang fotografer atau langsung menggunakan gawai pribadi.