TUJUAN WISATA

Festival Budaya Asmat dan Lembah Baliem di Papua

Kebudayaan Papua
Kebudayaan Papua | Yolanta /Shutterstock

Setiap daerah di Indonesia memiliki kekhasan. Dari mulai kuliner, tempat wisata, kebudayaan, sampai kebiasan-kebiasaan unik warganya. Hal-hal seperti ini yang membuat negara kita begitu menarik.

Salah satu kekhasan yang dimiliki tiap daerah adalah cara merayakan atau memperingati sesuatu. Misalnya festival budaya yang diadakan secara rutin. Acara seperti ini umumnya menarik minat wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

Di Papua, ada beberapa festival yang dikenal bahkan oleh turis mancanegara. Di antaranya, Festival Budaya Asmat dan Festival Lembah Baliem.

Festival Budaya Asmat

Kegiatan Festival Budaya Asmat ini sudah ada sejak tahun 1981 dan rutin diadakan setiap tahunnya. Berbagai kegiatan dilakukan, antara lain menampilkan pertunjukan tarian dan musik, lelang patung, demo membuat ukiran, lomba perahu, dan pemilihan abang none Asmat.

Salah satu tujuan diadakannya festival ini adalah mempertahankan Asmat sebagai situs budaya dan memperkenalkan Kabupaten Asmat sebagai tujuan wisata. Selain itu juga demi melestarikan nilai-nilai budaya suku Asmat.

Suku Asmat sendiri dikenal dengan seni ukirannya, yang tak hanya dianggap sebagai karya seni, melainkan erat kaitannya dengan roh leluhur, dikutip Tempo.

Festival tahunan ini telah mendapatkan penghargaan dunia sebagai situs warisan budaya. Sebenarnya, festival biasa diadakan pada bulan Oktober, namun karena kemarau berkepanjangan, Festival Budaya Asmat diundur sampai Januari 2016 ini, seperti dikutip Kompas.

#FestivalBudayaAsmat2013 #WonderfulPapua #WonderfulIndonesia

A photo posted by Wonderful Indonesia (@indtravel) on

Festival Lembah Baliem

Lembah Baliem merupakan sebuah lembah yang berada di pegunungan Jayawijaya. Lembah ini juga dikenal sebagai tempat tinggal suku Dani, suku Yali dan suku Lani.

Festival Lembah Baliem awalnya merupakan gelaran perang antar suku Dani, Lani, dan Yali sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan. Ajang adu kekuatan antar suku ini telah berlangsung turun temurun hingga saat ini. Kegiatan ini biasanya berlangsung selama tiga hari setiap bulan Agustus.

Hal yang istimewa dari Festival Lembah Baliem adalah semuanya dibuat layaknya peperangan sungguhan. Pertunjukan akan dimulai dengan cerita penculikan warga, pembunuhan anak suku, atau penyerbuan ladang yang baru dibuka. Pemicu-pemicu tersebut akan membuat suku lain akan membalas dendam dan perang pun terjadi.

Meski menunjukkan kisah peperangan, pertunjukan ini tak menjadikan balas dendam atau permusuhan sebagai tema besar. Adanya festival ini memiliki makna positif yaitu Yogotak Hubuluk Motog Hanoro yang berarti harapan akan esok hari yang harus lebih baik dari hari ini, demikian dikutip PesonaIndonesia.

Selain pertunjukkan peperangan, ada berbagai tradisi suku-suku setempat yang dapat dinikmati pengunjung. Selama festival berlangsung, akan ada lebih dari 40 suku lengkap dengan pakaian tradisional dan lukisan di wajah mereka.

KIta juga dapat menyaksikan pertunjukan pikon atau alat musik tradisional, karapan babi, perlombaan memanah, melempar sege atau tongkat ke sasaran, puradan yaitu menggulirkan roda dari anyaman rotan, dan sikoko yaitu melempar pion ke sasaran.

Wisatawan juga dapat mencoba untuk menghayati budaya Lembah Baliem dengan memakai koteka dan menghitamkan tubuhnya sebagaimana penduduk asli era dulu sehingga turut menyemarakkan suasana festival, seperti dikutip NationalGeographic.


BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR