Petarung tari Caci di Kampung Cecer, Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Timur. Ilustrasi Awan
Petarung tari Caci di Kampung Cecer, Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Timur. Shutterstock / Dwi Prayoga

Festival Komodo, pesta besar Kabupaten Manggarai Barat

Festival Komodo diharapkan dapat jadi magnet wisatawan ke kawasan timur Indonesia ini. Digelar pada 5-10 Maret 2018, berikut keriaan di dalamnya.

Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) telah usai melaksanakan Festival Komodo yang berlangsung 5-10 Maret 2018 di Lapangan Ujung, Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Festival Komodo menyajikan berbagai kesenian daerah yang ditampilkan beragam kelompok paguyuban. Selain datang dari kawasan Mabar, pentas seni lain yang ditampilkan juga berasal dari Ponorogo, Bima, Makassar, Flores Timur, dan masih banyak lagi.

Salah satu atraksi yang menyedot perhatian pengunjung adalah parade Patung Komodo yang diarak dari kantor Bupati Manggarai Barat ke area Festival saat pembukaan.

Patung setinggi 3 meter itu diarak sekira 12 orang dari kantor Kabupaten Manggarai Barat ke lokasi acara dengan iringan dari lapisan masyarakat Labuan Bajo.

Sementara sajian yang tak kalah memukau dalam festival ini adalah Tari Caci yang merupakan simbol kedewasaan lelaki Flores.

Tari Caci merupakan tarian perang yang dimainkan oleh dua penari laki-laki yang menari sembari saling bertarung menggunakan cambuk dan perisai sebagai senjatanya.

Yang tak kalah menarik adalah pergelaran Tari Nunundake Kreasi yang ditampilkan oleh 80 siswa SMP di sekitar Labuan Bajo dan ritual adat Kapu Manuk yang merupakan ritual kendi serta ayam putih sebagai simbol kesucian.

Masyarakat yang memadati lapangan Kampung Ujung, Labuan Bajo, juga dihibur dengan peragaan busana Paguyuban Nagekeo yang berasal dari Kabupaten Ngada, Manggarai, dengan kostum adat khas NTT yang menampilkan tarian Nagekeo.

Rangkaian acara festival ini kian semarak karena penyelenggara juga menggelar lomba fotografi, voli pantai, lomba perahu dayung, pertunjukan kecantikan komodo, lokakarya, pameran kerajinan tangan, dan pertunjukan seni musik.

Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dula (kiri atas) saat serah terima kendi adat sebagai simbol dimulainya Festival Komodo, Senin (5/3/2018), yang dilanjutkan dengan pagelaran para paguyuban.
Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dula (kiri atas) saat serah terima kendi adat sebagai simbol dimulainya Festival Komodo, Senin (5/3/2018), yang dilanjutkan dengan pagelaran para paguyuban. | Samuel Rabenak /Beritagar.id

Festival Komodo merupakan gelaran nasional dari 100 agenda wisata yang dicanangkan Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Labuan Bajo merupakan stimulus dari rencana pemerintah untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu dari 10 destinasi wisata Bali Baru yang direncanakan pemerintah.

Saat ini, pemerintah tengah bergegas melakukan pembangunan infrastruktur pada empat kawasan prioritas terkait proyek Bali baru itu, yakni Labuan Bajo (Flores), Mandalika (Lombok), Borobudur (Jawa Tengah), dan Danau Toba (Sumatra Utara).

Pemerintah Mabar mengklaim momentum Festival Komodo menyedot lebih banyak pelancong ke kawasan itu.

Harapannya, tentu saja dampak positif terhadap peningkatan pendapatan masyarakat Mabar yang dominan bekerja sebagai tenaga pemandu wisata (guide), transportasi kapal motor, restoran, penginapan, kafe, usahawan toko cinderamata, dan penyewaan alat selam.

Dinas Pariwisata (Dispar) Mabar menargetkan sampai dengan tahun 2019 setidaknya 500 ribu turis yang akan merapat ke wilayah seluas 9.450 kilometer persegi ini.

Pada (5/3/2018) Agustinus Ch Dula, Bupati Mabar, di sela-sela acara pembukaan festival, mengatakan bahwa target itu akan tercapai seiring dengan pembenahan infrastruktur.

"Hingga saat ini Labuan Bajo masih menjadi salah satu magnet wisatawan lokal maupun mancanegara. Namun, secara umum pemerintah akan terus mengembangkan potensi kawasan wisata yang berada di wilayah Manggarai Barat, tentunya dengan infrastruktur yang terus dipercepat pembangunannya," urai Agustinus kepada Beritagar.id.

Pada perhelatan tahunan ini, ragam kerajinan tangan dan kuliner khas Flores turut dipamerkan sekaligus ditawarkan pada pengunjung. Mulai dari kain tenun, kerajinan dari bambu, pembuatan patung komodo, makanan khas seperti nasi bambu, surabi, doko-doko susu, dan tak ketinggalan kopi serta madu khas Flores.

Makanan khas Manggarai Barat, kain tenun adat Flores, kerajinan patung komodo, dan racikan kopi turut meramaikan Festival Komodo 2018.
Makanan khas Manggarai Barat, kain tenun adat Flores, kerajinan patung komodo, dan racikan kopi turut meramaikan Festival Komodo 2018. | Samuel Rabenak /Beritagar.id

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Marius Ardu Jelamu, menyebutkan bahwa momen ini dapat meningkatkan pendapatan daerah non-pajak.

"Tentunya itu juga harus didukung dengan pengembangan fasilitas dan infrastruktur kawasan yang dijadikan destinasi wisata," jelas Marius.

Sementara Kepala Dispar Mabar, Theodorus Suardi, mengatakan, bakal memanfaatkan betul momentum Festival Komodo untuk memperkenalkan kawasan tersebut secara maksimal.

"Kami bersyukur sekali karena Festival Komodo ini diangkat sebagai festival nasional. Ini betul-betul momen yang ingin kami maksimalkan untuk mempromosikan wilayah Manggarai Barat. Untuk itu tentunya kami akan bekerja sama dengan semua instansi terkait. Tak mungkin target 500.000 wisatawan yang kami targetkan akan tercapai tanpa adanya kerja keras dan koordinasi dengan pelbagai pihak," kata Theodorus..

Festival ini setidaknya akan menjadi "keran" pembuka peningkatan jumlah pelancong lokal dan mancanegara yang memang sudah mulai ramai pada bulan April hingga September (high season).