GUNUNG BERAPI

Geolog peringatkan risiko wisata gunung berapi

Kantor Pengamatan Gunung Anak Krakatau (GAK) merilis foto salah satu letusan GAK yang terjadi pukul 04.15 WIB di Serang, Banten, Minggu (2/12/2018). Berdasarkan catatan sepanjang Jumat (30/11) hingga Minggu (2/12) pagi GAK mengeluarkan 218 letusan awan hitam setinggi 100-250 meter dengan durasi 31-77 detik diiringi 21 kali gempa vulkanik berdurasi 5-16 detik hingga statusnya masih tetap pada level Waspada dan warga dilarang mendekat dalam radius 2 kiilometer.
Kantor Pengamatan Gunung Anak Krakatau (GAK) merilis foto salah satu letusan GAK yang terjadi pukul 04.15 WIB di Serang, Banten, Minggu (2/12/2018). Berdasarkan catatan sepanjang Jumat (30/11) hingga Minggu (2/12) pagi GAK mengeluarkan 218 letusan awan hitam setinggi 100-250 meter dengan durasi 31-77 detik diiringi 21 kali gempa vulkanik berdurasi 5-16 detik hingga statusnya masih tetap pada level Waspada dan warga dilarang mendekat dalam radius 2 kiilometer. | Windy Cahya /ANTARA FOTO

Di saat banyak orang menghindari erupsi gunung berapi, ada sebagian orang justru menganggapnya sebagai aktivitas wisata. Geolog memperingatkan, wisatawan pencari sensasi semacam ini sudah terlalu dekat dari mulut kawah.

Jika dahulu para wisatawan nekat ini senang berenang dengan hiu atau melompat dari pesawat, sekarang tidak lagi. Trennya semakin berbahaya, melihat gunung berapi meletus dari dekat.

“Orang tertarik pada kekuatan gunung berapi. Saya pikir ini lebih dari sekadar pemandangan, melainkan sebuah pengalaman,” ujar ahli geografi University of Cambridge, Amy Donovan pada CNN.com.

Sepanjang 2018, ada banyak aktivitas vulkanik di penjuru dunia seperti Hawaii, Filipina, dan Guatemala. Terakhir, Erupsi Gunung Anak Krakatau yang kemudian memicu tsunami.

Lewat studi barunya, Royal Geographical Society mengungkap betapa berisikonya turisme gunung berapi. Para peneliti memperingatkan, layanan darurat di negara-negara seperti Islandia sekarang harus menghadapi lonjakan arus wisatawan yang ingin melihat letusan dari dekat.

Padahal para pelakunya berisiko dihantam batu atau bom lava, terkena gas beracun, atau hanyut karena banjir, atau jadi korban kecelakaan di jalan.

Peringatan ini terungkap lewat penelitian yang dilakukan oleh Dr. Donovan. Untuk itu, ia melakukan survei terhadap operator wisata dan wisata di Islandia.

Dalam kurun waktu 2010 hingga 2017, jumlah wisatawan mancanegara ke Islandia melonjak dari 488.622 menjadi 2.224.074 kunjungan per tahun. Mayoritas orang mengunjungi pulau itu untuk menjelajah alam dan gunung berapi aktif di pulau itu.

Dr. Donovan mengunjungi Islandia selama krisis vulkanik pada tahun 2010 dan 2014 hingga 2015. Makalahnya menyoroti kesulitan yang dihadapi otoritas sipil Islandia—seperti halnya di belahan dunia lain—ketika mengelola wisatawan yang tertarik dengan berbagai gunung berapi di negara tersebut, terutama selama letusan.

Penelitian ini mengungkap, alasan utama yang membuat para wisatawan gunung berapi nekat mendekat selama letusan adalah tontonan dan kekaguman. Rupanya berada di dekat gunung berapi aktif adalah hal yang sangat menarik.

Dr. Donovan menekankan, ada pengalaman mendalam yang dirasakan wisatawan ketika mengalami letusan. BBC melaporkan, media sosial juga termasuk dalam salah satu faktor yang mendorong kenekatan para turis ini.

Wawancara dengan orang-orang di lapangan selama letusan mengungkapkan tanggapan emosional ketika mereka menyaksikan dari jarak dekat. Rasanya campur aduk, ada rasa takut akan keselamatan orang lain, kepuasan, sekaligus ketidakberdayaan.

Makalah Dr. Donovan juga mengeksplorasi bagaimana letusan seperti Gunung Eyjafjallajökull pada 2010, yang disebut penduduk setempat sebagai 'letusan turis', dapat menarik perhatian wisatawan dan dipandang sebagai 'nilai tambah' dalam perjalanan mereka.

Kala itu, kaldera gunung berapi Katla terkubur lebih dari 200 meter di bawah gletser Mýrdalsjökull. Jalur ini menjadi jalan bagi para wisatawan dari Islandia dan sekitarnya guna melintasi gletser dan mencapai lokasi letusan.

Perjalanan berbahaya ini mengharuskan para turis gunung berapi melalui lereng es curam dengan mobil salju atau skuter salju.

Dr. Donovan berpendapat, situasi seperti yang membuat dua wisatawan tersesat di gletser dan mati beku ini, hanya akan memperparah rasa frustrasi otoritas lokal. Padahal mereka sudah bekerja keras untuk mengurangi risiko.

Sebaliknya, bagi perusahaan wisata yang terlibat dalam program wisata berisiko ini, 2010 adalah tahun rekor. Semua berkat letusan gunung berapi yang selain berbahaya juga menghasilkan air mancur gunung api nan indah.

Sementara Islandia sangat bergantung pada pendapatan dari sektor pariwisata, peningkatan anggaran dan tenaga kerja diperlukan untuk memantau dan melindungi semakin banyak wisatawan. Apalagi wisatawan yang tidak memiliki perlengkapan, dan kadang-kadang bahkan mengabaikan saran keselamatan resmi.

Misalnya saat letusan Gunung Holuhraun pada 2014-15, ada satu kelompok wisatawan menyewa helikopter pribadi setelah hari gelap. Mereka mendarat di dekat lokasi letusan, sengaja tidak menaati saran keselamatan dalam melakukannya.

Dr. Donovan mengatakan, “Banyak negara vulkanik aktif menghadapi dilema. Mereka menginginkan turis, tetapi juga ingin menjaga turis tetap aman. Ini menciptakan dilema tersendiri.

Lanjut Dr. Donovan, “Di Islandia, kami menyaksikan peningkatan kecelakaan di jalan bahkan di luar musim, karena wisatawan tidak siap menghadapi kondisi berkendara yang menantang. Penelitian ini menyoroti perlunya menemukan keseimbangan antara dampak positif pariwisata dan memastikan bahwa turis bertanggung jawab, tidak menempatkan diri mereka sendiri atau orang lain dalam bahaya.”

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR