TUJUAN WISATA

Green Canyon mini yang indah di Bandung Barat

Suasana di lokasi wisata Cikahuripan, Kampung Panyusupan, Kabupaten Bandung Barat. Kawasan ini juga sering disebut sebagai Green Canyon mini.
Suasana di lokasi wisata Cikahuripan, Kampung Panyusupan, Kabupaten Bandung Barat. Kawasan ini juga sering disebut sebagai Green Canyon mini. | Anwar Siswadi /Beritagar.id

Gemericik air mengalir di sungai kecil nan dangkal. Airnya yang bening memperlihatkan bebatuan dasarnya. Sebagian airnya tertinggal di kolam-kolam alam kecil dan berbaur dengan lumut hijau. Beberapa ekor capung bergantian melintasinya.

Suasana itu membuat adem tubuh setelah berjalan kaki sekitar 30 menit di bawah terik cahaya surya menjelang tengah hari. Setelah melintasi sungai yang lebarnya kurang dari tiga meter dengan kedalaman bervariasi dari semata kaki hingga betis orang dewasa itu, langkah selanjutnya menyusuri sungai. Jauhnya sekitar 100 meter.

Sepasang tebing mengapit aliran sungai ini yang membuat pengunjung seakan berjalan di dasar lembah berlantai basah. Tiba di sebuah bangunan warung berbahan bambu, rehat sejenak menjadi pilihan tepat. Dari tempat ini, tujuan lokasi utama sudah dekat.

Warga setempat menamai lokasi wisata itu Cikahuripan. Sebagian orang menyebutnya sebagai Green Canyon karena kondisinya yang mirip dengan Green Canyon yang berada di Pangandaran, Jawa Barat.

Meski tak sebesar di Pangandaran, Green Canyon mini di daerah Kampung Panyusupan, Desa Baranangsiang, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, ini tak kalah asyik. Pesona alamnya sanggup merontokkan stres.

Jika ke Green Canyon di Pangandaran kita harus diantar perahu dari pelabuhan sungai, ke Cikahuripan kita hanya cukup berjalan kaki dari pintu masuk. Aksesnya melintasi jalan tanah setapak. Jauhnya sekitar satu kilometer atau 30 menit perjalanan.

Siapa pun bisa menikmati alam Cikahuripan dengan berjalan kaki santai. Kondisinya relatif aman sehingga mulai dari anak-anak hingga orang lanjut usia yang masih gesit melangkah bisa melaluinya.

Selain pasangan muda-mudi yang ramai datang pada hari Minggu, banyak juga rombongan keluarga yang berwisata.

Lokasinya yang terpencil kini telah populer sebagai salah satu tempat wisata berbasis alam alias geowisata.

Cikahuripan adalah bahasa Sunda yang berarti air kehidupan. Konon namanya berasal dari cerita seseorang yang mengobati penyakit kakinya di tempat itu lalu sembuh. Sampai sekarang, mitos itu masih ada.

"Berendam sambil membaca doa lalu melemparkan uang koin Rp500," kata seorang pemandu. Anda boleh percaya atau tidak, tapi silakan datang jika ingin mencoba dan membuktikannya.

Para wisatawan tampak berjalan menuju Green Canyon mini.
Para wisatawan tampak berjalan menuju Green Canyon mini. | Anwar Siswadi /Beritagar.id

Geowisata Green Canyon mini ini terletak pada ceruk sungai yang menyempit. Lantainya yang menurun disertai undakan sehingga menciptakan jeram kecil. Di sisi kiri sungai atau arah utara, sebuah air terjun kecil mengucur di tebing, pun di sisi sungai. Indah.

Pada titik ini juga, bebatuan sungainya yang besar terkikis air. Ada yang bentuknya setengah silinder juga lesung. Menyeberangi sungai di bagian ini, pengunjung harus berhati-hati. Selain batunya licin, arusnya juga cukup deras walau airnya dangkal. Cara aman menitinya lewat pinggir sungai dekat tebing.

Di bawah tebing tinggi yang menyempit, suasana berada di Green Canyon terasa. Pengunjung bisa berenang, juga lompat dari batu tebing setinggi dua hingga tiga meter ke kolam di bawahnya.

Bagian kolam ini memanjang ke batu besar yang menghadang sungai. Jaraknya belasan meter. Tinggi airnya seleher orang dewasa. Jika tak ingin sekujur badan basah, ada rakit kayu yang dioperasikan pemandu sebagai wahana pengantar.

Waktu terbaik ke tempat ini adalah pada musim kemarau. Ketika datang bersama rombongan Geotrek Komunitas Mata Bumi, Sabtu (24/2/2018), kami beruntung hujan tak turun sampai pulang menjelang sore.

Alur lama Citarum

Cikahuripan merupakan alur sungai lama Citarum. Alirannya yang berasal dari hulu di daerah Kabupaten Bandung, terputus oleh Waduk Saguling yang mulai beroperasi pada 1986. Sejak itu bekas sungainya hanya terisi air hujan, juga air yang keluar dari tanah maupun dinding tebing.

Inilah sepotong Citarum bersih dari saudaranya yang tercemar limbah berat hingga populer sebagai salah satu sungai terkotor di dunia.

Anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung Titi Bachtiar mengatakan, sepotong Citarum yang bersih ini mengalir dari ujung timur Waduk Saguling. Sungainya yang berkelok-kelok mengalir dari barat daya, naik sedikit ke utara, lalu ke timur.

Ujung Citarum bersih ini di gua sungai yang dinamakan Sanghyang Tikoro. Antara Cikahuripan hingga Sanghyang Tikoro, ada Curug (air terjun) Hawu, Curug Halimun, lalu Sanghyang Heuleut yang juga menjadi obyek wisata. Kemudian ada gua Sanghyang Poek yang didalamnya masih tumbuh stalagmit dan stalagtit.

Sampai di Sanghyang Tikoro, air Citarum yang bersih 360 derajat berubah nasib. Arus airnya yang deras berbau belerang. Aromanya sangat menyengat hidung. Menurut Bachtiar, bau itu hasil proses kimiawi di Waduk Saguling untuk mencuci air limbah Sungai Citarum.

Meskipun penanganan Citarum kini diurus pemerintah pusat, sungai sepanjang 300 kilometer masih penuh limbah dan sampah. Luapannya pun masih menenggelamkan empat kecamatan di Bandung Selatan tiap musim hujan.

Cara menuju Cikahuripan

Dari Kota Bandung ke Cikahuripan, perjalanan bisa ditempuh dalam waktu satu jam dengan kendaraan pribadi. Masuklah ke jalan tol ke arah Padalarang. Setelah keluar tol, arahkan mobil ke Waduk Saguling di daerah Cipatat, Jalan Raya Bandung-Cianjur.

Setelah masuk gerbang kompleks Waduk Saguling yang berdekatan dengan pasar kecil dan pangkalan ojek, pada pertigaan terakhir sebelum sampai ke waduk, beloklah ke kanan hingga menemukan deretan warung bertulisan Wisata Cikahuripan.

Dari pos masuk, pengunjung harus berjalan kaki sejauh kira-kira satu kilometer ke Sungai Cikahuripan. Tiket masuk dipatok Rp 10 ribu per orang. Uang parkir sepeda motor Rp 5 ribu, dan Rp 20 ribu lebih untuk mobil atau bus.

Untuk pengguna angkutan umum, sebaiknya naik bus Bandung-Sukabumi dari Terminal Leuwipanjang. Kemudian turun di pintu masuk PLTA Saguling. Atau bisa menggunakan angkutan desa dari Padalarang menuju Saguling.

Koordinator pengelola tempat wisata itu, Jejen, mengatakan belum ada akses angkutan umum dari pintu masuk Waduk Saguling ke lokasi. Namun, di pinggir jalan raya dekat gerbang itu banyak ojek yang bisa disewa menuju Cikahuripan dengan biaya Rp 30 ribu sekali jalan.

Fasilitas minim

Meskipun pengunjung dikenai biaya masuk, fasilitas umum seperti toilet masih kurang layak. Ada dua kamar kecil tetapi nihil keran air. Ember harus diisi dulu oleh air dari sungai.

Saat kami ke sana, atap kamar kecil yang berbahan terpal sudah koyak dan menjuntai sehingga langit terlihat. Selain itu, pintunya berupa tirai terpal sehingga saat menggunakannya pastikan ada teman yang menjaga di pintu agar orang lain tak masuk.

Bagi umat Islam, tersedia musala berupa saung bambu. Air wudunya berasal dari pancuran atau langsung dari sungai.

Tempat sampah tak terlihat. Sampah organik bisa langsung dibuang sebagai penyubur, namun sampah anorganik sebaiknya dibawa kembali untuk dibuang ke tempat sampah. Cara kecil ini bisa menjaga bagian Citarum yang jernih ini tetap bersih.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR