KULINER NUSANTARA

Jelajah kuliner di Belu, NTT

Makanan khas Kabupaten Belu, jagung bose yang dipadu dengan teri dan bunga pepaya di warung Ma Ona, alun-alun Atambua, Sabtu (21/7/2018)
Makanan khas Kabupaten Belu, jagung bose yang dipadu dengan teri dan bunga pepaya di warung Ma Ona, alun-alun Atambua, Sabtu (21/7/2018) | Yandi /Beritagar.id

Meski menyajikan pemandangan alam yang indah luar biasa, dari pantai, bukit, hingga hamparan rumput seperti Fulan Fehan, sajian makanan dan minuman khas Belu tak terlalu beragam.

Coba tanya kepada orang di kota yang berbatasan langsung dengan Timor Leste ini secara acak, apa makanan tradisional, atau makanan khas di Belu? Beberapa orang Belu yang ditanya Beritagar.id berpikir sejenak, kemudian menggeleng.

Ada yang bilang se'i, daging asap dari sapi atau babi. Tetapi sajian itu bisa dibilang khas NTT, bukan hanya di Belu.

Beberapa menjawab: jagung bose. Orang Timor, termasuk di Belu, sangat mengakrabi jagung sebagai makanan pokok.

Jagung bose, sering menjadi santapan di rumah, tetapi relatif sulit menemukan penjualnya. Hanya ada satu pedagang yang menyajikan jagung bose dan makanan khas lain di Pasar Senggol Atambua, seberang alun-alun. Atambua adalah ibu kota Kabupaten Belu.

Alun-alun Kota Atambua, pada Sabtu (21/7/2018) malam itu sangat ramai. Pedagang jagung berjejer di pinggir lapangan, tetapi hanya menjual jagung bakar biasa. Pengunjung baru menemukan pedagang jagung bose di seberang alun-alun dengan nama Ma Ona.

"Ini satu-satunya di Belu," kata Ahmad, pedagang jagung bose yang sedang menemani istrinya, Ma Ona.

Ma Ona, perempuan berjilbab itu duduk di meja kasir ketika Beritagar.id berkunjung pada Sabtu (21/7/2018) malam. Ma Ona menjadi nama warung penjual jagung bose dan penganan lokal Belu lainnya.

Ma Ona baru berjualan jagung bose empat tahun lalu. "Jagung bose termasuk yang sering dipesan," kata Ma Ona.

Ahmad dan Ma Ona tak tahu arti bose. Hanya dalam bahasa Tetun, jagung bose sering disebut batar inan, batar sokur dan batar fai.

Jagung bose atau batar inan mirip seperti bubur jagung ditambah sedikit kacang. Biji jagung masih tetap terlihat, berwarna putih ditambah kuah yang kental. Cukup mengenyangkan disantap di tengah semilir angin malam di Pulau Timor.

Jagung bose terbuat dari hasil tumbukan jagung kering yang dicampur air pada sebuah lesung. Jagung ditumbuk berulang-ulang agar mengeluarkan kulit keras luarnya dan kotoran yang tidak perlu di dalam biji jagung. Setelah ditumbuk, ditampih, dan dibersihkan, jagung kemudian direbus.

Di warung Ma Ona, jagung bose tak menggunakan garam atau penyedap rasa. Untuk menambah rasa, Ma Ona menambahkan teri, bunga pepaya plus sambal cabe yang lumayan menyengat pedasnya.

Teri menambah sensasi asin dan bunga pepaya menambah kesegaran pada jagung bose. Bunga pepaya memang kerap ditemukan di beberapa rumah makan, termasuk rumah makan Padang di Belu.

Bunga pepaya di Ma Ona terasa sangat istimewa karena sama sekali tidak ada rasa pahit. Apa rahasianya agar bunga pepaya tak pahit? "Hanya kami yang tahu," kata Ahmad seraya terbahak.

Warung Ma Ona baru buka pada jam 17.00 setiap hari, kecuali Minggu. Jagung bose dan penganan di warung Ma Ona pas disantap sore menjelang malam. Semangkuk jagung bose dihargai Rp10 ribu bersama teri dan bunga pepaya.

Jagung muda yang dibungkus  daun jagung, makanan lokal yang dijual warung Ma Ona di alun-alun Atambua, Belu, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (21/7/2018)
Jagung muda yang dibungkus daun jagung, makanan lokal yang dijual warung Ma Ona di alun-alun Atambua, Belu, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (21/7/2018) | Yandi /Beritagar.id

Tak hanya jagung bose, Ma Ona pun menyajikan penganan dari jagung, yaitu batar filu atau jagung muda yang dibungkus daun jagung. Batar filu, sekilas mirip wajik dan ukurannya pun hampir serupa, harganya Rp4.000 per biji.

Selain olahan jagung, warung Ma Ona menyediakan makanan lokal Belu berbahan ubi dan sagu. Ada aka bilan atau sagu panggang, sagu ongol-ongol, dan fehuk kuhus atau ubi kukus.

Setelah kenyang dengan makanan lokal Belu, Anda dapat bergeser ke sebelah warung Ma Ona. Sejumlah pedagang dengan jajanan masa kini berkumpul dalam satu wadah bernama Halte Kopi.

Halte Kopi sering dijadikan tempat berkumpulnya pekerja seni, seperti para kurator Festival Foho Rai yang berlangsung sepanjang Juli ini. Festival Foho Rai menampilkan keunikan kampung adat di Belu dan menjadi bagian dari platform Indonesiana 2018 yang digagas Direktorat Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan kebudayaan.

Kembali ke Halte Kopi, di kawasan ini pengunjung memiliki banyak pilihan meski makanannya generik karena dapat ditemukan di mana saja. Sesuai namanya, Halte Kopi menyediakan kopi khas Atambua, kopi robusta dari Pulau Timor.

Kopi Atambua biasa harganya hanya Rp5 ribu. Kalau mau kopi istimewa, Halte Kopi menyediakan kopi campur sopi dengan harga Rp25 ribu.

Bagi warga Belu dan NTT, minum kopi tak akan terasa tanpa campuran sopi, minuman beralkohol yang terbuat dari pohon Lontar. Sopi dikenal sebagai perlambang persahabatan.

Di Halte Kopi, sopi menambah nikmat kopi khas Atambua yang dipadu dengan susu. Aroma sopi begitu menyengat tetapi rasa kopi dan susu pun masih terasa.

Campuran kopi, susu, dan sopi membuat hangat obrolan malam minggu yang lumayan berangin di alun-alun Atambua. Obrolan pun tak akan terasa sampai warung tutup menjelang dini hari. Tak heran ada ujaran menyebutkan, sopi dahulu, bicara kemudian.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR