Kain Sasirangan oleh-oleh dari Banjar

Ilustrasi: Kain Sasirangan, kain khas suku Banjar, Kalimantan Selatan.
Ilustrasi: Kain Sasirangan, kain khas suku Banjar, Kalimantan Selatan. | Azhar Askarii

Kain Sasirangan dari Banjar memiliki keistimewaan pada pewarnaan yang menggunakan bahan alami. Warna kain tidak mudah pudar, dan lebih ramah lingkungan.

Untuk pewarna yang digunakan, para pengrajin kain Sasirangan memilih bumbu dapur seperti kunyit atau temulawak untuk menghasilkan warna kuning.

Selain rempah, pewarna alami yang dipakai juga berasal dari buah. Misal untuk menciptakan warna merah diperoleh dari buah mengkudu, gambir dan kesumbu.

Sedangkan untuk warna hitam, berasal dari kabuau atau uar. Warna ungu dari biji buah Gandar. Dan untuk warna cokelat dari kulit rambutan.

Kain tradisional yang mirip kain batik ini adalah kain adat suku Banjar di Kalimantan Selatan.

Nama Sasirangan berasal dari kata menyirang atau yang berarti menjelujur. Jadi sesuai namanya, kain ini dibuat dengan cara menjelujur, yang kemudian diiikat dengan tali rafia. Setelah itu baru dicelup ke pewarna pakaian.

Untuk menciptakan warna kain yang lebih terang atau lebih gelap, biasanya bahan-bahan yang digunakan dicampur dengan garam, jinten, lada, pala, cengkeh, jeruk nipis kapur, tawas atau cuka.

Kain tradisional ini juga memiliki cerita dan fungsi masing-masing dalam budaya. Dinukil Indonesiakaya.com, kain Sasirangan merupakan kain adat yang diwariskan secara turun temurun sejak abad XII.

Dari cerita yang berkembang di masyarakat Kalimantan Selatan adalah bahwa kain Sasirangan pertama kali dibuat oleh Patih Lambung Mangkurat setelah bertapa 40 hari 40 malam di atas rakit Balarut Banyu.

Menjelang akhir tapanya, rakitnya tiba di daerah Rantau kota Bagantung. Di tempat ini, ia mendengar suara perempuan yaitu Putri Junjung Buih, yang kelak menjadi Raja di daerah ini.

Konon, Sang Putri hanya akan menampakkan wujudnya jika permintaannya dikabulkan, yaitu sebuah istana Batung dan selembar kain yang ditenun dan dicalap (diwarnai). Kain yang dicalap itu kemudian dikenal sebagai kain sasirangan yang pertama kali dibuat.

Selain cerita di atas, kain Sasirangan juga dikenal dengan sebutan kain batamba atau proses penyembuhan orang yang mengidap suatu penyakit. Jadi kala itu kain Sasirangan masih harus dipesan terlebih dahulu (pamintaan) sesuai dengan kehendak pemesannya.

Oleh sebab itulah, orang-orang suku Banjar sering menyebut kain sasirangan sebagai kain pamintaan atau permintaan.

Diyakini oleh masyarakat suku Banjar, setiap warna yang digunakan mengandung arti tersendiri. Di mana warna pada kain disesuaikan dengan jenis penyakitnya.

Misalnya warna kuning untuk menyembuhkan penyakit kuning, warna merah untuk mengobati sakit kepala atau insomnia, hijau untuk sakit lumpuh atau stroke.

Kemudian hitam untuk demam dan kulit gatal-gatal, ungu berguna untuk menyembuhkan sakit perut, serta cokelat untuk menyembuhkan penyakit kejiwaan atau stres.

Suku Banjar juga meyakini bahwa kain Sasirangan memiliki kemampuan magis untuk mengusir kekuatan roh jahat dan melindungi penggunanya dari gangguan makhluk astral.

Selain untuk penyembuhan orang sakit, kain sasirangan juga merupakan kain yang dianggap sakral dan biasa dipakai dalam upacara adat Banjar.

Kain Sasirangan ini biasanya digunakan sebagai ikat kepala (laung), sabuk, dan sarung (tapih bumin) oleh laki-laki.

Sedangkan untuk wanita, kain Sasirangan biasanya digunakan sebagai selendang, kerudung (kekamban), dan kemben (udat).

Saat ini, kain Sasirangan bisa dijadikan buah tangan. Para peminat kain khas Banjar ni tinggal memilih motif yang disukai.

Ada tiga jenis motif kain Sasirangan, yaitu motif lajur, motif ceplok, yaitu yaitu bentuk motif yang terlihat sendiri tanpa ada motif lain. Dan terakhir ada motif variasi, contohnya motif hiris gagatas yang diberi pinggiran agar terlihat lebih menarik.

Kain Sasirangan banyak tersedia di berbagai toko oleh-oleh yang ada di Kalimantan. Bahkan, kain Sasirangan ini juga sudah ada yang cetak atau cap.

Kalau dilihat, Sasirangan cap lebih mengkilap dan saat dipegang kainnya lebih licin.

Dikatakan oleh Muhammad Husin, penjaga Toko Hawsa di Pasar Sudimampir Banjarmasin, printing lebih disukai selain harganya yang lebih murah juga perawatannya lebih mudah.

"Kalau Sasirangan asli tidak boleh dijemur langsung terkena matahari, yang printing tidak masalah," katanya kepada Tribunnews.com

Sedangkan untuk kain Sasirangan asli buatan tangan, harganya ditentukan berdasar jenis kain dan motifnya. Semakin rumit motifnya maka semakin mahal juga harganya.

Dijelaskan oleh Mila, salah satu anggota Dewan Kerajinan Daerah (Dekranasda) Kalsel di Banjarmasin, harga bervariasi tergantung motif dan bahan.

"Kalau sutra lebih mahal lagi, kalau katun lebih murah. Kain sutra di atas Rp200 ribu, kalau katun Rp 100 ribu juga ada. Dan ada juga yang sampai Rp2 juta," kata Mila.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR