Pemandangan dari Bukit Merese Ilustrasi Awan
Pemandangan dari Bukit Merese Beritagar.id / Yoseph Edwin

Kemolekan alam Kuta Lombok

Selatan Lombok juga memiliki wisata alam yang tidak kalah indah dengan ketiga Gili di sebelah barat. Mari menikmati alam Kuta Lombok.

Pulau di timur Bali ini memiliki lanskap alam yang lengkap. Meski ukurannya tidak sebesar Pulau Jawa, di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pelancong dapat menemukan wisata gunung dan pantai lengkap dengan latar perbukitan. Kondisi ini mengingatkan kita akan lanskap pulau-pulau di Indonesia Timur, seperti Flores.

Mendengar wisata pantai di Lombok, tiga pulau kecil di sisi baratnya mungkin terlintas di pikiran. Tidak dapat dimungkiri Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan populer di kalangan wisatawan.

Namun, bagian selatan Pulau Lombok juga kaya akan wisata pantai yang tidak kalah memesona dari ketiga Gili tersebut.

Tanjung Aan

Tanjung Aan berlokasi di Kuta, Lombok Tengah. Pantai ini memiliki bibir pantai cekung yang sangat luas, juga perbukitan yang tidak terlalu curam. Ini menjadikan Tanjung Aan lokasi tepat untuk melihat keindahan area sekitar dari ketinggian.

Menuju Tanjung Aan, Anda harus menempuh jarak sekitar 25km dari Bandara Internasional Lombok di Praya--sekitar 40 menit menggunakan mobil--atau sekitar 57km dari Kota Mataram--kurang lebih 1,5 jam perjalanan.

Untuk mencapai area ini dari luar kawasan Kuta sebaiknya Anda menyewa mobil, sebab minim transportasi umum. Anda dapat menyewanya secara daring maupun langsung di Kuta.

Jika Anda bermalam di sekitar kawasan Kuta, akan lebih mudah untuk menjangkau tempat-tempat wisata dengan menyewa motor. Jalanan di daerah Kuta, khususnya ke lokasi wisata masih tergolong kecil dan dalam kondisi rusak.

Untuk masuk ke area Tanjung Aan, Anda diwajibkan membayar retribusi Rp5 ribu bagi yang menggunakan motor dan Rp10 ribu bagi yang bermobil.

Kiri: Ayunan di Pantai Tanjung Aan. Kanan: Pemandangan di atas Bukit Merese.
Kiri: Ayunan di Pantai Tanjung Aan. Kanan: Pemandangan di atas Bukit Merese. | Yoseph Edwin /Beritagar.id

Jangan heran. Anda tidak akan menemukan gerbang megah. Hanya ada portal dan pondok sederhana tempat petugas dari desa setempat memungut retribusi.

Selain itu ada beberapa pintu untuk masuk ke area ini. Namun Anda tetap dapat menjelajah seluruh bibir pantai dari pintu masuk manapun.

Tanjung Aan memiliki topografi landai dengan pasir putih lembut. Perbukitan indah yang melatarinya perlu diabadikan lewat foto pun video.

Bagi yang gemar berfoto, di Tanjung Aan disediakan ayunan dari batang kayu--lengkap dengan papan tulisan Tanjung Aan.

Selain berfoto dan berenang, dalam kondisi ombak yang tepat Anda juga bisa berselancar di sini. Bagi yang hanya ingin bersantai tersedia pondokan kecil menawarkan makanan kecil berikut minuman pelepas dahaga air kelapa, khas daerah pesisir.

Tak jauh dari Tanjung Aan, ada Batu Payung yang unik. Batu ini menjulang tinggi namun memiliki bentuk bagian bawah yang lebih kecil. Meski unik, untuk menjangkaunya wisatawan harus menyewa kapal kecil dengan tarif mulai Rp200 ribu pulang pergi.

Bukit Merese

Setelah menjelajah pantai Tanjung Aan, di sisi kanan terdapat Bukit Merese. Tidak ada petunjuk besar, hanya ada papan kecil. Pelancong perlu bertanya pada orang di sekitar guna mengetahui jalan masuk untuk mendaki bukit ini.

Setelah mendaki sekitar 10 menit, Anda sudah bisa melihat gugusan bukit hijau yang kontras dengan birunya laut. Segarnya angin laut juga membayar usaha Anda mendaki.

Sesampainya di atas, bukit ini ternyata memiliki penunggu yang siap menyambut. Sekawanan kambing gunung yang merumput.

Jangan mengharapkan keberadaan tangga atau jalan setapak yang rapi, yang ada hanya jalanan berbatu yang sangat licin saat hujan.

Waktu yang tepat untuk ke Bukit Merese adalah siang atau sore hari. Merese menjadi lokasi terbaik untuk melihat matahari terbenam dari daerah selatan Lombok.

Pantai Seger

Bergeser lagi ke arah barat, Anda bisa mampir ke Pantai Seger, lokasi yang kental dengan kisah Putri Mandalika. Pengunjung akan dikenai retribusi Rp10 ribu baik motor atau mobil.

Pantai yang memiliki perairan tenang ini didominasi area lapangan yang lebih luas ketimbang lokasi pantai lain.

Lokasi ini juga diyakini menjadi tempat terjunnya Putri Mandalika, tokoh cerita rakyat yang berubah wujud menjadi cacing. Untuk mengenang sang putri, sekaligus berburu cacing, setiap tahunnya diselenggarakan Festival Bau Nyale di pantai ini.

Monumen Putri Mandalika di Pantai Seger
Monumen Putri Mandalika di Pantai Seger | Yoseph Edwin /Beritagar.id

Guna memperkuat cerita tersebut, area Pantai Seger dilengkapi monumen Putri Mandalika yang sedang dikejar oleh pangeran-pangeran yang ingin mempersuntingnya.

Anda bisa berfoto di jembatan bambu, yang menjadi penyambung antara area pantai dengan bibir luas dan yang lebih sempit di wilayah ini atau dikenal dengan sebutan Pantai Putri Nyale.

Saat kami berkunjung, kenyamanan Pantai Seger sedikit terganggu dengan adanya alat berat yang digunakan untuk proyek "The Mandalika". Proyek pemerintah yang akan menjadikan wilayah Kuta Lombok menjadi kompleks wisata terpadu layaknya Nusa Dua di Bali.

Pantai Kuta

Tidak hanya Bali yang memiliki Pantai Kuta, Lombok juga. Pantai Kuta di Lombok masih berada di garis pantai yang sama dengan Tanjung Aan dan Pantai Seger. Lokasi ini dapat dikatakan yang paling ramai dikunjungi.

Untuk masuk area ini tidak dikenakan biaya. Namun bagi yang membawa kendaraan, akan dikenakan biaya parkir Rp5 ribu untuk motor dan Rp10 ribu untuk mobil.

Saat ini Pantai Kuta jadi area utama pembangunan proyek The Mandalika. Terlihat pembangunan jalan dan trotoar sudah dapat mengakomodasi pengunjung dengan baik.

Area ini sangat ramai menjelang sore hari. Selain turis, warga lokal juga gemar bercengkerama sembari menikmati hilangnya matahari.

Senja di Pantai Kuta
Senja di Pantai Kuta | Yoseph Edwin /Beritagar.id

Seperti Pantai Seger, pantai yang memiliki karakter butiran pasir sebesar merica ini kurang nyaman untuk rekreasi pantai. Sebab proses pembangunan masih berlangsung. Bagian pantai terlihat terisi dengan sejumlah konstruksi yang belum selesai dan adanya area-area yang ditutup dengan seng.

Meski begitu Pantai Kuta masih menjadi area pantai dengan akomodasi paling memadai. Jika lapar terdapat deretan restoran kecil atau warga menyebutnya dengan warung.

Mayoritas jenis makanan yang dijual di sini adalah makanan ala barat, karena lebih banyaknya wisatawan mancanegara di kawasan ini. Cukup sulit menemukan makanan lokal yang sesuai dengan lidah orang lokal.

Bagi yang ingin bermalam juga terdapat hotel dan toko-toko kecil menjual buah tangan, meski jumlahnya tidak terlalu banyak.