Kencono Rukmi, durian rendah kolesterol dari Yogya

Ilustrasi durian kencono rukmi.
Ilustrasi durian kencono rukmi. | Worradirek /Shutterstock

Tak banyak yang tahu jika Kabupaten Gunungkidul di Yogyakarta, khususnya Kecamatan Patuk, punya varian durian lokal bernama Kencono Rukmi.

Selain memiliki sejumlah keunggulan dan perbedaan dari jenis durian lain, durian yang dianggap makin langka ini juga rendah kolesterol, sehingga cocok dikonsumsi penderita hipertensi.

"Durian Kencoro Rukmi banyak dicari orang-orang yang memiliki riwayat penyakit darah tinggi, mengingat durian ini tidak menyebabkan efek samping pada penderita darah tinggi saat dikonsumsi," urai Andriyan, Ketua RT 20 Sumber Tetes, Desa Patuk, Kecamatan Patuk, Gunungkidul pada Liputan6.com.

Supriyadi, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Gunungkidul juga membenarkan hal tersebut. Menurutnya durian Kencono Rukmi aman dikonsumsi bagi yang takut tekanan darahnya meningkat. "Jangan takut gula darah naik, Kencono Rukmi sudah diteliti aman," ujarnya dikutip Jogja.co.

Memang, durian kencono rukmi tak sama dengan jenis durian lainnya. Selain unggul karena lebih sehat, durian ini juga punya rasa lebih nikmat dan warna unik yang khas.

Penduduk setempat memaknai Kencono Rukmi sebagai emas, dengan harapan buah durian ini bisa menjadi emas yang berharga dari Gunungkidul. Kencono dalam bahasa Jawa pun artinya emas. Dinamakan demikian karena perbedaan warnanya ketimbang durian lain.

Daging durian kencono rukmi berwarna kuning keemasan. Berbeda dengan kebanyakan durian lainnya yang putih kekuning-kuningan. Kulit durian yang telah masak pun berwarna kuning matang, sedangkan durian lain cenderung berwarna hijau.

"Rasanya sedikit manis tak seperti durian lokal lainnya," ungkap Andriyan pada Kompas.com. Teksturnya pun legit, tidak berair, dengan aroma tak terlalu menyengat dan kandungan alkohol lebih sedikit.

Namun, bukan berarti durian kencono rukmi mudah ditemui. Keberadaannya di Gunungkidul dianggap masyarakat setempat makin langka.

Nyaris setiap keluarga di Kecamatan Patuk yang memiliki pohon durian di halaman rumah mereka, hanya ada satu pohon durian jenis ini. Perbandingannya 1:10. Biasanya pohon durian akan panen setiap bulan November, tapi khusus pohon kencono rukmi jumlahnya lebih sedikit.

"Jika pohon durian lain bisa setiap hari jatuh puluhan per pohonnya, kencono rukmi hanya ada satu buah saja. Itu pun tidak setiap hari," tutur Andriyana.

. cermati warna nya...cantiq! nikmati legit nya... #kenconorukmi #patuk #gunungkidul #gunungkidulhits

A post shared by yuni wahyuni (@yuni_wahyu) on

Narablog pelesiran Iqbal Kautsar yang juga penggemar durian dan kerap mencicip durian khas langsung dari daerah asalnya, pernah berbagi pengalamannya menjajal durian kencono rukmi.

Ia mengatakan, bisa mendapatkan durian khas kebanggaan Gunung Kidul ini pasti beruntung. Sebabnya, meski sudah dicari sampai ke sentra penjualan di Pathuk, penjual seringnya malah bilang, "Tidak ada mas. Biasanya sudah 'ditebas' sepohon."

Iqbal menjelaskan, istilah 'ditebas' sepohon artinya satu pohon durian itu sudah dibeli dan dimiliki oleh seseorang, bahkan sejak dipanen. Menurutnya istilah ini lazim digunakan untuk menggambarkan durian yang dikenal khas dan memiliki kelezatan tersendiri.

Tak heran, karena sulit didapat dan banyak dicari kalangan pencinta durian yang khawatir bahaya kolesterol, harga per buah durian kencono rukmi di pasaran agak tinggi antara Rp50- 70 ribu per buah tergantung ukurannya.

Meski begitu, harga jual langsung dari warga setempat yang sengaja menanam buah ini untuk dikonsumsi sendiri atau dijual, harganya minimal Rp20 ribu untuk yang kecil dan mencapai Rp60 ribu untuk yang besar.

"Jika suka bisa dikonsumsi dengan dimasukkan ke kopi panas, rasanya maknyuus," beber Andriyan.

Nama varietas durian asli Gunungkidul ini baru diresmikan akhir 2012 lalu, setelah mendapat Surat Keputusan (SK) dari Kementerian Pertanian yang menetapkan Kencono Rukmi menjadi merek durian Gunungkidul. Sejak itulah namanya mulai sering didengar masyarakat.

Dulunya durian ini dikenal dengan nama durian tembaga. Setelah diresmikan dan punya tiga opsi nama yaitu Kencana, Arga dan Kencono Rukmi, "Kementerian Pertanian rupanya lebih tertarik dengan nama Kencono Rukmi," imbuh Supriyadi.

Menilik awal mulanya, jelas Iqbal, kisah Kencono Rukmi berasal dari pohon indukan durian berusia sekitar 15 tahun milik seorang warga Dusun Kepil di Kecamatan Putat. Pohon itulah yang kemudian dikembangkan dan meluas.

Barulah pada 2014, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mulai merintis budidaya pembibitan Kencono Rukmi sebagai durian unggulan. Lokasi tempat tinggal Kardiman juga menjadi lahan pembibitan durian.

Sebagai cara memperkenalkan jenis durian ini pada masyarakat banyak, warga Patuk bersama pemerintah daerah setempat rencananya akan menggelar festival durian pada awal Desember mendatang. Mereka juga telah mendaftarkan Kencono Rukmi sebagai ikon durian lokal khas Kecamatan Patuk.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR