Kopi Piltik Ilustrasi Awan
Kopi Piltik Beritagar.id / Dian Afrillia

Kongko di tengah kebun Siborong-Borong

Tak hanya minum kopi sambil menikmati pemandangan, di Kopi Piltik, Anda bisa belajar dan mengenal kopi lebih dalam.

Perjalanan saya di Danau Toba, Sumatra Utara telah usai. Namun, sebelum kembali ke Jakarta, saya menyempatkan mampir ke kedai Kopi Piltik di Siborong-Borong.

Tak seperti kota lain yang punya banyak tempat kongko trendi, saya jarang menemukan kafe atau kedai kopi kekinian di Danau Toba.

Suasana di kedai Kopi Piltik membuat saya seolah sedang berada di Puncak atau Lembang, Jawa Barat. Pasalnya, pemandangan yang mengelilingi kedai kopi ini adalah perkebunan, bukan Danau Toba yang biasa saya lihat ke mana pun kaki melangkah.

Penampilan kedai kopi dari luar, menyerupai rumah berwarna putih dengan konsep minimalis. Begitu masuk ke dalam kedai, saya disambut rak bertingkat tempat menyimpan biji kopi yang dijual dalam kemasan.

Di sampingnya, ada toples-toples kue kering rasa nanas, cokelat, jahe, juga andaliman.

Pilihan yang terakhir mengusik rasa penasaran. Namun, karena lapar saya akhirnya pesan nasi goreng andaliman.

Saya pilih duduk di luar kedai agar bisa menikmati pemandangan perkebunan. Udaranya sejuk dan berangin, di siang bolong sekalipun cuaca tidak terasa gerah.

Penyajian nasi goreng andaliman cukup sederhana. Terdiri dari nasi goreng yang dimasak dengan bumbu andaliman dan kecombrang, serta diberi potongan ayam goreng serundeng, kerupuk, juga irisan tomat dan mentimun.

Rasanya terbilang unik. Sebab, nasi goreng ini memadukan andaliman dan kecombrang.

Perpaduan rasa bumbu seperti merica khas Batak yang getir dan semburat rasa asam menawarkan pengalaman rasa baru.

Usai menyantap makan siang, saya berjalan ke meja kasir untuk memesan kopi peaberry atau kopi lanang dari biji tunggal. Kopi ini adalah pilihan yang diseleksi dari awal budi daya dengan biji kopi dipetik merah dan memiliki ukuran yang sama.

Sambil menikmati secangkir kopi dan oatmeal diet cookies , saya ditemani Edward Tigor Siahaan dan Vera Hutauruk, pasangan suami istri pemilik Kopi Piltik.

Bagian dalam Kopi Piltik
Bagian dalam Kopi Piltik | Dian Afrillia /Beritagar.id

Tigor, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa ada tiga proses pembuatan kopi di kedainya, yaitu natural, honey, dan full wash. Proses ini memengaruhi rasa dan aroma kopi.

Pada kopi full wash, aroma agak hambar. Sedangkan honey bisa tercium ada aroma buah, misalnya nangka, karena saat ditanam kopi bisa menyerap bau di sekitarnya.

Untuk biji kopi, Kopi Piltik punya kebun sendiri. Mereka juga menerima biji kopi dari petani lokal di Siborong-Borong.

"Di kawasan ini lebih banyak jenis kopi arabica Siborong-Borong dan kami punya idealisme untuk memajukan hasil pertanian kopi lokal. Biasanya para petani langsung antar kopi kemari lalu kami kumpulkan," kata Tigor.

Vera menambahkan kalau di daerah Siborong-Borong banyak petani yang memiliki kebun kopi kecil di dekat rumah mereka.

Menurut dia, bertani dalam skala kecil, para petani bisa memilih biji kopi hanya yang sudah merah.

Tak lama kemudian, seorang petani datang membawa sekarung biji kopi. Di bagian samping kedai, memang banyak karung-karung berisi kopi yang tengah diproses. Ada juga pegawai kedai yang tengah menyortir biji kopi secara manual.

Tigor mengajak saya untuk belajar sedikit soal kopi dari mencium aromanya. Saya diminta mencium aroma beberapa jenis kopi yang telah disangrai, roasting istilahnya. Ternyata dari aromanya saja, Anda bisa membedakan jenis biji kopi satu dan lainnya.

Bila Anda juga ingin belajar mengenai kopi, ikuti tur seharian bersama Kopi Piltik. Anda cukup membayar Rp1 juta per orang, dengan minimal peserta enam orang,

Tigor akan membawa Anda ke kebun kopi dan memperlihatkan proses kopi, dari persiapan lahan hingga panen, belajar persiapan roasting, dan mengenal kualitas biji kopi

Kopi dalam kemasan bisa jadi pilihan buah tangan dari Siborong-Borong
Kopi dalam kemasan bisa jadi pilihan buah tangan dari Siborong-Borong | Dian Afrillia /Beritagar.id

Berbeda dengan budaya di kota-kota besar. Kongko dan minum kopi belum menjadi bagian dari gaya hidup anak muda di Danau Toba dan sekitarnya.

"Anak muda di sini beda dengan di Jakarta atau Bandung. Di sini, orang lebih memilih kongko di lapo dan minum tuak," kata Tigor. "Orang sini bilang minum kopi itu pahit, makanya mereka bikin satu sendok kopi, empat sendok gula."

Tigor juga menjelaskan bahwa ia membuat Kopi Piltik sebagai salah satu usaha untuk mengedukasi masyarakat soal kopi. Namun, sayang sekali, daya beli warga lokal terhadap kopi racikan khas Kopi Piltik masih rendah.

"Orang di luar bisa beli kopi tiga sampai empat ribu, di sini harganya bisa berkali-kali lipat," ujar Tigor. Maklum, harga kopi di kedai milik Tigor berkisar antara Rp30 ribuan.

Membuka usaha kedai kopi di kawasan yang masyarakatnya belum terbiasa kongko dan minum kopi, tentu bukan perkara mudah. "Katanya pemerintah akan memajukan pariwisata Danau Toba, makanya kita bikin ini (kedai kopi), harusnya ramai kayak di Bali," ujar laki-laki yang juga berprofesi sebagai fotografer ini.

"Kalau di Bali kan, kafe sampai penuh, bahkan antre. Kita sudah bikin kopi terbaik, bikin kue dan makanan, melatih karyawan, eh orangnya enggak ada. Kami menuntut janji pemerintah yang katanya akan memajukan Danau Toba," tegas Tigor.

Vera menambahkan, banyak orang datang ke Danau Toba, tetapi bukan untuk liburan. "Biasanya ada saudaranya yang meninggal atau menikah, baru di sini ramai. Itu pun hanya sebentar, langsung pulang ke kota masing-masing."

Menurut penuturan Vera dan Tigor, banyak orang berpikir liburan ke Danau Toba itu mahal. Setelah merencanakan perjalanan ke Danau Toba, saya pun berpikir itu benar.

Pertama, tiket pesawat dari Jakarta menuju ke sini lebih mahal daripada tiket ke Bali. Perjalanan dari bandara ke Danau Toba juga terbilang jauh dan butuh dana ekstra.

Kondisi bandaranya jauh berbeda dibandingkan dengan Bandara I Gusti Ngurah Rai yang berlokasi di pusat kota.

Menurut Tigor, pemerintah harus konsisten menjadikan Danau Toba sebagai Bali baru. "Pemerintah harusnya lakukan stimulasi, misalnya tiket murah dan bisa bekerja sama dengan airlines," sarannya.

Harapan Tigor akan Kopi Piltik dan majunya pariwisata Danau Toba menjadi penutup perbincangan kami siang itu. Jika hendak terbang lewat Bandara Silangit Siborong-Borong, Anda bisa mampir ke Kopi Piltik di Jalan Sadar, Lobu Siregar I.

Lokasinya sekitar 15 menit dari Bandara Silangit Siborong-Borong. Anda pun bisa pulang membawa pengalaman minum kopi di tengah kebun dan membawa kopi sebagai buah tangan.