Lawang Sewu, ihwal dua perempuan dan lorong terlarang

Lawang Sewu
Lawang Sewu
© Mustafa Iman /Beritagar.id

Salah satu objek wisata di kota Semarang, Lawang Sewu, memang identik dengan beragam kisah. Mulai dari sejarah perkeretaapian di Indonesia, hingga isu mistis.

Masella (27) salah satu pemandu wisata di Lawang Sewu mengatakan bahwa kisah-kisah itu memang tak bisa dipisahkan dengan gedung yang memiliki nama lain Het hoofdkantor van de Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (Kantor Pusat NIS), yang dibangun 27 Februari 1904 itu.

"Boleh dibilang, 80 persen gedung ini dibangun dengan konstruksi dari insinyur Belanda. Bahan-bahannya pun langsung didatangkan dari sana, karena memang wilayah ini pada masa penjajahan Belanda disebut sebagai Little Nedherland, atau Belanda kecil," ungkap Masella pada Beritagar.id, Sabtu (7/10/2017).

Lawang Sewu, lanjut Masella, lazim disebut gedung 1000 pintu. Padahal gedung yang rampung dibangun pada 1907 dan terletak di simpang bundaran Tugu Muda Semarang tersebut tak memiliki pintu sebanyak itu, namun memiliki jendela yang menjulang hingga terlihat bak pintu.

"Daun pintunya total berjumlah 928 buah, satu pintunya bisa empat buah daun pintu. Namun pintunya tak hanya terlihat dari luar, tapi di dalam juga ada. Bahkan ada satu area yang pintunya terlihat seperti kaca," jelas Masella.

Saat ini, gedung tiga lantai ini menjadi ikon kota Semarang, yang menjadi destinasi wajib bagi para pelancong, baik domestik maupun mancanegara. Harga tiketnya pun relatif murah, hanya Rp10 ribu untuk orang dewasa, dan Rp5 ribu untuk anak-anak.

Foto reproduksi Lawang Sewu masa lampau
Foto reproduksi Lawang Sewu masa lampau
© Dokumen PT KAI

Dua perempuan "penjaga"

Gedung tua dengan arsitektur klasik ini memang kerap dikaitkan dengan beragam hal mistis. Bahkan beberapa program acara televisi membuat seolah gedung ini terlihat begitu mencekam.

"Sebenarnya sejak banyak program acara TV yang horor-horor itu, pengunjung Lawang Sewu jadi banyak, banyak yang penasaran juga dengan kebenaran cerita itu. Walau sebenarnya gedung ini memang dijaga dua perempuan. Nanti saya ceritakan siapa perempuan-perempuan itu," jelas Masella.

Ia juga menjelaskan bahwa sebelum dikelola langsung oleh PT KAI sejak Maret 2017, gedung itu buka untuk umum selama 24 jam. Tak jarang orang mengunjungi gedung ini pada jam-jam yang tak lazim, seperti pukul 2-3 pagi. Dari sanalah banyak yang menyatakan melihat berbagai penampakan makhluk halus.

Namun kini, gedung tersebut hanya buka untuk umum mulai pukul 9 pagi hingga pukul 9 malam. Tentunya dengan beragam tambahan fasilitas penerangan di semua sudut.

"Saat ini tentunya lebih terkelola dengan baik," tegas pria yang telah lima tahun bekerja di gedung tersebut.

Kaca patri pada gedung utama
Kaca patri pada gedung utama
© Mustafa Iman /Beritagar.id

Ihwal hal mistis, Masella juga tak menampik kalau gedung ini dijaga oleh dua perempuan yang menjadi simbol keberuntungan dan kesejahteraan.

Jika Anda masuk ke gedung utama dan memasuki dua tingkatan tangga pada pilar ruang utama, maka Anda akan melihat kaca patri pada bagian langit-langit gedung yang langsung di datangkan dari Belanda.

Kaca itu tak hanya sekadar kaca, namun menggambarkan filosofi pembuatan gedung Lawang Sewu sejak awal.

Pada tiga jajar kaca itu menggambarkan tentang simbol kerajaan Belanda, pusat pemerintahannya di Indonesia, dan yang tak kalah penting adalah simbol keberuntungan dari dua wanita, yakni Dewi fortuna dan Dewi Kesuburan.

"Dua wanita itu yang menjaga Lawang Sewu," tunjuk Masella.

Lorong terlarang

Hal lain yang tak kalah menjadi misteri di gedung ini adalah lorong bawah tanah yang terlarang bagi pengunjung. Namun masella menjelaskan bahwa lorong tersebut terlarang bukan karena aura mistisnya, namun lebih kepada pasokan udara yang minim dan suhu lembap di dalamnya.

"Lorong itu sebenarnya gorong-gorong air. Jika dilihat dari infrastruktur gedung, pipa air dari atas genteng langsung mengarah ke ruang bawah tanah. Jika musim hujan seperti ini, airnya bisa setinggi dua meter," paparnya.

Beberapa cerita pernah menyatakan kalau ruang bawah tanah Lawang Sewu merupakan penjara sejak gedung ini diduduki Jepang, namun beberapa ahli, seperti diceritakan Masella, belum menemukan bukti itu.

"Jadi sebenarnya ditutupnya lorong terlarang itu lebih mengutamakan keselamatan pengunjung, bukan karena cerita tertentu, apalagi yang berkaitan dengan horor," pungkasnya.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.