Sajian kuliner mangut beong yang dimasak dengan pengapian kayu bakar di Rumah Makan Sehati di Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (02/06/2018). Ilustrasi Awan
Sajian kuliner mangut beong yang dimasak dengan pengapian kayu bakar di Rumah Makan Sehati di Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (02/06/2018). Beritagar.id / Reza Fitriyanto

Mangut beong Magelang yang bikin ketagihan

Jangan lewatkan kesempatan menikmati hidangan khas Magelang, mangut beong. Rasanya lezat, pedasnya menggigit, menggugah selera.

Tak sampai lima menit, sepiring nasi dan mangut ndhas beong sudah disajikan di depan mata. Hidangan berbentuk kepala ikan tawar ukuran jumbo ini mengingatkan saya pada kepala ikan lele atau pun ikan patin.

Ukuran kepala ikan sebesar telapak tangan saya membuat saya sungguh tak sabar untuk segera melahap menu khas Magelang, Jawa Tengah tersebut. Semakin lezat dengan guyuran kuah bumbu mangut dari olahan santan pedas berwarna kemerahan. Harum biji petainya menggugah selera.

Tenggorokan saya nyaris tersedak. Bumbu kuah mangut tak sekadar pedas, tetapi sangat pedas hingga terasa ada sensasi terbakar dalam tenggorokan. Kelopak mata saya pun langsung berkaca-kaca.

Seseruput minuman dawet durian yang manis lumayan mengademkan. Namun, hanya berlangsung sebentar. Sebab, saya kembali menikmati menu mangut ndhas beong hingga tandas.

Tak seperti dugaan awal, ternyata daging bagian kepala beong cukup tebal. Tekstur dagingnya pun lembut di lidah.

Menurut saya, menikmati bagian kepala merupakan pilihan tepat untuk menghalau rasa kantuk akibat melakukan perjalanan Yogyakarta-Magelang pada tanggal 18 April 2018 lalu. Rasa bumbu kuah mangut yang meresap hingga ke bagian tulang-tulangnya sukses membuat mata tetap terjaga.

Hidangan khas ini saya nikmati di Rumah Makan “Sehati” di Kembanglimus, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.

Istikomah (foto kiri), pemilik rumah makan Sehati, sedang menyiapkan mangut beong yang kemudian disantap seorang pelanggan (foto kanan).
Istikomah (foto kiri), pemilik rumah makan Sehati, sedang menyiapkan mangut beong yang kemudian disantap seorang pelanggan (foto kanan). | Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Rumah makan ini masuk ke jalan perkampungan penduduk di Kembanglimus. Jaraknya sekitar empat kilometer dari Candi Borobudur. Lantaran sudah cukup dikenal, orang yang baru kali pertama ke sana tak akan sulit menemukannya.

“Ini warung yang menjual mangut beong pertama kali di Magelang,” kata Istikomah (45), pemilik rumah makan Sehati.

Usahanya tersebut bermula pada tahun 1996 dan masih berupa warung makan. Menurut pengakuan Istikomah, dulu dia hanya menjual soto, telur, serta ikan lele, wader, dan belut yang diolah dengan bumbu mangut.

Rupanya, bumbu mangut yang pedas sudah menjadi ciri khas rumah makan tersebut sejak dulu.

Saya sempat terpana saat melihat baskom besar berisi campuran bahan bumbu mangut berisi cabai rawit berwarna merah dan oranye yang dipotong dalam ukuran tebal. Hidung saya pun tergelitik aroma cabai hingga nyaris bersin.

“Kalau di sini istilahnya cabai setan,” imbuhnya untuk menganalogikan derajat rasa pedasnya. Saya tertawa dan dalam hati membenarkan.

Awal mula kehadiran menu dengan ikan beong, sebut dia, berkat kedatangan nelayan ke warungnya yang menawari ikan beong beberapa tahun lalu.

Ikan beong hanya ditemukan di Kali Progo, nama sungai yang mengalir dari Magelang hingga Kulon Progo, DI Yogyakarta.

Istikomah pun membeli sekitar 3-5 kilogram ikan beong tersebut dan diolah dengan bumbu mangut untuk dijual. “Ternyata banyak yang nanyain,” jelasnya.

Seiring waktu, permintaan ikan beong terus bertambah karena banyak pelanggan yang datang khusus untuk menikmati menu tersebut.

Semenjak itulah, mangut ikan beong menjadi menu favorit di rumah makan Sehati.

Rumah makan milik Istikomah tersebut bisa dibilang merupakan rumah makan perintis yang memopulerkan mangut beong di Magelang.

Dulu, ikan beong masih mudah ditemukan di Kali Progo dengan harga murah. Satu kilogram beong hanya Rp15 ribu dari nelayan. Istikomah pun berani membeli dengan stok banyak.

Sekarang, harganya sudah mencapai Rp 45 ribu per kilogram. Namun, harga tersebut tidak membuat Istikomah mengurangi pembelian. Setiap hari lebih kurang dia membeli 70-80 kilogram ikan beong dari nelayan.

“Dan sekali masak, cabai setannya 10 kilo,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut pun membuat saya terperangah. Saya teringat sensasi rasa pedasnya yang membuat lidah panas, tapi tak bikin kapok, justru semakin ketagihan.

Tak semua beong langsung diolah untuk disiapkan di meja etalase rumah makan, sebagian disimpan di frezzer lemari es. Sebelum disimpan, beong yang masih segar langsung dipotong dan harus digoreng lebih dulu untuk menjaga tekstur dagingnya tidak berubah saat dikeluarkan dari frezzer dan diolah dengan campuran bumbu mangut.

Ikan beong (Hemibagrus) merupakan jenis ikan yang sekerabat dengan ikan lele. Ikan ini hanya ditemukan di Kali Progo wilayah Magelang. Alhasil, beong pun disebut sebagai ikan langka di daerah lainnya.

Namun, ikan serupa bisa ditemukan di daerah lain dengan nama yang beragam. Ada yang menyebut ikan duri, baung, baong, bawon.

“Di Kali Progo yang mengalir sampai Kulon Progo juga ada beong. Tapi mungkin beda penyajiannya,” kata Istikomah.

Kelangkaan beong bukan hanya karena habitatnya terbatas di Kali Progo, tapi juga karena tak bisa diprediksi kapan beong bisa didapatkan dalam jumlah banyak. Ketika kemarau, beong sulit didapat. Namun, saat musim penghujan, sungai meluap sehingga banyak beong yang ikut hanyut.

Menurut pramusaji rumah makan Sehati, Gunawan (23 tahun), mereka pernah mencoba membudidayakan beong. Dua pasang beong jantan dan betina diternak hingga bertelur dan menetas. Namun, tak berselang lama, mati.

“Suhu airnya enggak cocok. Beong hanya bisa hidup di air yang debitnya besar dan mengalir,” kata Gunawan.

Suasana Rumah Makan Sehati yang meyajikan kuliner khas Mangut Beong di Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Suasana Rumah Makan Sehati yang meyajikan kuliner khas Mangut Beong di Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. | Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Dia kembali mengisahkan bahwa mereka pernah kehabisan stok beong. Pemasok beong pun tak datang karena tak ada barang. Alhasil, menu mangut yang disiapkan adalah mangut ikan lainnya, seperti gurame.

“Kalau tutup gara-gara enggak ada beong, kasihan yang terlanjur datang untuk jajan,” tandas Gunawan.

Dia menambahkan, tak sedikit calon pembeli harus kecewa karena mangut beong impiannya telah habis atau pun tak tersajikan karena sedang masuk musim langka.

Bermunculannya beberapa warung mangut beong di Magelang membuat permintaan beong kian meningkat.

Dinas Perikanan setempat pun melakukan pembenihan beong. Usai menetas, benih beong dilepas ke Kali Progo agar bisa berkembang biak.

Jelang siang itu, saat saya mengunjungi rumah makan Sehati, suasana terlihat sepi, hanya ada dua keluarga yang datang yang saya perkirakan juga dari luar kota.

Keramaian biasa terjadi saat tiba akhir pekan. Rata-rata datang dari luar kota. Sejumlah artis ibu kota sempat mampir ke sana. Gunawan menyebut nama Teuku Zaky, Trie Utami, Krisna Mukti, juga grup band Gigi. Termasuk pesepak bola, Markus Horison, juga pernah mencicipi.

Kemudian, Mari Elka Pangestu saat menjabat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga sempat datang menyambangi.

“Bu Mari bilang kalau Magelang terkenal karena beongnya. Sudah layak jadi destinasi wisata. Dikembangin saja,” ujarnya.

Rumah makan Sehati yang berdiri di perkampungan pedesaan ini buka saat jam sarapan pagi dan tutup jelang petang.

Harga mangut beongnya pun bervariasi tergantung ukuran ikan. Untuk beong yang besar dibanderol Rp 80 ribu per piring. Lalu, ukuran beong kecil berkisar Rp 35 ribu-Rp 45 ribu.

Tak sekadar menikmati di tempat, mangut beong pun bisa dibungkus dibawa pulang. Biar sensasi pedasnya tak cepat hilang.