Melancong ke Bumi Kenari

Matahari terbenam di Pantai Sebanjar, Alor, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.
Matahari terbenam di Pantai Sebanjar, Alor, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.
© Dwi Prayoga /Shutterstock

Pernahkah Anda mendengar tentang Pulau Kenari? Pulau ini merupakan sebutan lain dari Alor. Nama sebuah kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang juga disematkan pada nama pulau dan kepulauannya.

Pulau yang disebut-sebut tak kalah cantik dari Kepulauan Karibia ini tergolong masih sepi. Namun jangan salah, keelokannya terkenal sampai ke mancanegara sebab menyimpan sejumlah keunikan, termasuk kekayaan wisata.

Kenari, pulau unik multibahasa

Pulau Kenari atau dikenal juga dengan Bumi Kenari, disebut demikian karena kawasannya didominasi pohon kenari. Bahkan Kalabahi, ibu kota Kabupaten Alor, terkenal dengan julukan Kota Kenari karena menghasilkan kenari berkualitas baik.

Tak heran jika kemudian kenari menjadi komoditas terbesar pulau ini. Anda bisa menemukan kenari sebagai kuliner khas, oleh-oleh untuk dibawa pulang, juga sumber inspirasi para penenun di Alor.

Pulau Kenari juga dikenal unik sebagai satu-satunya wilayah di NTT yang memiliki 42 bahasa daerah. Walau begitu, perbedaan bahasa antara satu desa dengan desa lainnya bukan hambatan. Mereka tetap berkomunikasi lancar menggunakan bahasa Indonesia.

Bukan hanya itu, Pulau Kenari juga unggul dengan sejumlah tujuan wisata lengkap. Mari menilik ragam wisata di Bumi Kenari.

Wisata sejarah

Selain Pulau Kenari, Alor juga punya julukan Pulau 1000 Moko. Moko adalah alat musik khas Alor berbentuk lonjong serupa gendang yang terbuat dari perunggu. Uniknya Moko juga berfungsi sebagai mas kawin dan alat untuk membayar denda.

Rata-rata penduduk asli Alor pasti memiliki moko sebagai peninggalan turun-temurun dari leluhur. Untuk tahu lebih banyak, Anda bisa mengedukasi diri dengan berkunjung ke Museum 1000 Moko di Jalan Diponegoro, Kalabahi.

Wisata belanja

Para perempuan dan mama--sebutan untuk perempuan paruh baya--dari Pulau Ternate terkenal andal menenun kain. Salah satunya adalah mama Sariat dari Kampung Hula, Alor Besar. Ia menemukan lebih dari 100 pewarna alami, dan menjual lebih murah hasil tenun istimewanya yang kesohor sampai ke luar negeri.

Ciri khas kain tenun yaitu bermotif kenari, ikan, penyu, dan kalajengking. Uniknya, kain juga dijual dari kapal ke kapal oleh para penenun. Harganya beragam tergantung ukuran dan bahan. Kain tenun berbahan alami dihargai Rp400 ribu, sedangkan yang berbahan sintetis dihargai lebih murah, sekitar Rp150 ribu.

Wisata bahari

Satu yang paling menonjol dari Pulau Kenari adalah wisata laut. Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT mencatat, dari sekitar 1.577 pelancong mancanegara yang berkunjung sepanjang tahun 2016, kebanyakan menyebut taman laut di Pulau Kenari berkelas dunia.

Keunggulan itulah yang kemudian membawa Pulau Kenari sebagai wisata bawah laut terpopuler dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia 2016. Hingga saat ini terdapat 42 lokasi menyelam yang telah terdaftar, dan masih banyak lagi yang belum dijelajah.

Pantainya pun tak kalah cantik. Beberapa yang layak kunjung di antaranya Pantai Baolang, Pantai Tuabang, Pulau Kepa, Pantai Kawaka, Pantai Ling Al dan Pasir Panjang, serta Pantai Batu Putih. Seluruhnya memiliki pantai pasir putih dengan laut jernih dan suasana sepi.

Wisata religi

Pulau Kenari memiliki objek situs Al Quran tertua di Asia yang terletak di Desa Alor Besar. Al Quran ini terbuat dari kulit kayu dan diperkirakan berusia lebih dari 400 tahun. Meski termasuk situs tua yang dilindungi, Al Quran yang masih terawat baik ini tidak dikelola pemerintah. Hanya keturunan kesultanan Ternate lah yang diperkenankan menyimpannya.

Wisata kuliner

Kenari yang sudah dikupas kulitnya banyak dikonsumsi penduduk Alor sebagai penganan. Salah satunya untuk dikudap bersama jagung titi. Jagung satu ini bentuknya gepeng mirip emping.

Umumnya dijual di pasar tradisional dengan harga Rp25 ribu untuk sebungkus jagung titi, dan Rp10 ribu untuk tiga mangkuk kecil kenari. Anda bisa memakannya langsung atau disangrai lagi agar makin renyah.

Tak hanya itu, kuliner lain pun layak untuk dicoba. Misal kue rambut yang terbuat dari campuran adonan tepung dan gula lempeng (gula lontar) dengan rasa manis gurih. Ada pula es rumput laut yang segar dan kaya serat, juga beberapa makanan utama yang pedas. Misalnya sup cakalang kuah kuning dan sayur jantung pisang bumbu pedas.

Wisata adat dan budaya

Pulau Kenari memiliki beberapa desa yang sarat budaya lokal dan masih melestarikan tradisi adat. Salah satunya Desa Takpala.

Desa Takpala di Kecamatan Alor Barat bisa ditempuh sekitar setengah jam dari Kota Kenari. Lokasinya berhadapan langsung dengan keindahan Teluk Takpala.

Di sini pelancong dapat menyaksikan tarian lego-lego yang dibawakan oleh penghuni asli yang disebut Suku Abui. Ada pula rumah tradisional bernama Lopo yang berbentuk limas.

Hingga kini penghuninya masih setia memasak dengan cara tradisional menggunakan tungku, pun menggunakan pakaian adat. Mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari dari hasil hutan. Yakni biji-bijian yang dibuat jadi suvenir seperti kalung dan gelang untuk dijual pada pengunjung yang datang.

Selain Takpala, desa wisata lain di Pulau Kenari adalah Desa Bampalola dan Desa Kopidil.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.